|
Aku Sudah Tidak Epilepsi Lagi Waktu itu aku sekitar umur lima tahun, pernah jatuh ketika sedang mengejar kucing, kebetulan setiap harinya aku selalu bermain dengan kucing kesayanganku. Jatuhnya dari beteng yang tingginya lumayan juga, kebetulan jatuhnya kepala dulu (Jw. Nyungsep), namun setelah aku jatuh hari hari berikutnya tidak ada tanda-tanda akibat dari jatuhnya tersebut. Malahan waktu sudah berjalan hingga delapan tahun lamanya tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun pada umurku 13 tahun, tepatnya ketika sedang upacara di sekolah, tiba-tiba aku kejang-kejang dan pingsan seketika. Aku tidak tahu apa yang terjadi waktu itu, tiba-tiba saja aku sudah tidak sadarkan diri dan tahu-tahu sudah berada di tempat tidur di ruang UKS. Setelah aku siuman aku diberi minuman kopi hangat supaya kondisi tubuhku kembali normal. Awalnya aku tidak tahu kalau penyebab utama dari pingsanku adalah penyakit epilepsi, namun setelah seringnya aku mengalami kejadian seperti itu barulah aku tahu kalau penyakit yang menyerang adalah epilepsi. Anehnya penyakitku itu, akan kumat ketika kondisi tubuhku sedang tidak fit, misalnya karena kepanasan, stress, emosi tidak terkendali, perut kosong dan mempunyai keinginan namun tidak bisa kesampaian. Malah aku pernah dalam sehari pingsan tiga kali. Sebenarnya dalam hati kecilku malu juga mempunyai penyakit seperti ini, namun mau apa lagi, kalau ini memang cobaan yang harus aku terima. Bukan hanya aku yang merasa malu, keluargaku juga kelihatan malu juga melihat kondisiku seperti ini. Namun mau apa lagi. Karena penyakitku inilah, akhirnya sekolahku jadi terlambat. Seharusnya aku sudah lulus SLTA, namun hingga saat ini aku baru bisa sekolah sampai kelas tiga, SLTP di Sleman. Inipun harus aku jalani dengan ekstra hati-hati. Orang tuaku maupun saudara-saudaraku juga sangat ketat menemaniku kemanapun aku pergi. Mereka takut kalau aku terjadi sesuatu di luar rumah. Pernah suatu ketika aku kebetulan pergi sendirian, naik sepeda. Tiba-tiba di tengah jalan aku pingsan. Tahu-tahu aku dan sepedaku sudah masuk sawah, beruntung waktu itu sawahnya tidak banyak airnya. Aku tidak bisa membayangkan kalau sawahnya banyak airnya, pastilah aku sudah tidak bisa hidup sampai hari ini. Yang aku herankan setiap aku akan pingsan pasti diawali dengan kejang-kejang, keseimbangan badan tidak bisa terkontrol dan langsung saja tidak sadar. Setelah siuman, aku juga heran tidak bisa membayangkan apa yang barusan terjadi. Pokoknya sepertinya aku baru bangun tidur saja. Orang tuaku juga sudah berusaha mencari obat dan membawaku ke rumah sakit, namun hasilnya tetap saja, tidak ada perubahan. Malahan aku juga pernah dibawa ke beberapa paranormal yang terkenal baik di Jogjakarta maupun di Magelang, Purworejo, namun hasilnya tetap juga sama penyakitku tidak bisa sembuh. Bahkan aku juga pernah diberi obat oleh salah satu dokter terkenal di Jogjakarta berupa obat isopinosin yang harganya sekitar Rp 600 ribu, namun hasilnya juga tetap sama yaitu belum sembuh. Bersyukur dalam setiap berobat, perusahaan tempat bapakku bekerja selalu memberi tunjangan, aku tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada penggantian pengobatan. Entah apa yang akan terjadi pada keluargaku. Beruntung juga akhirnya lewat kebaikan salah seorang dokter di Sarjito, aku supaya menggunakan obat generik supaya biayanya tidak terlalu besar. Semenjak itulah, akhirnya setiap hari aku minum obat generik. Aku sudah tidak bisa menghitung jumlah uang yang digunakan untuk berobat, dan tempat-tempatnya saking banyaknya. Namun yang pasti kalau untuk paranormal, sudah hampir seluruhnya sudah aku datangi, rumah sakit dan dokterpun sudah aku telusuri semuanya di kota Jogja. Meskipun semuanya belum membuahkan hasil sesuai harapan. Karena tidak ada perubahan itulah, akhirnya aku merasa jemu juga untuk berobat. Apalah artinya berobat kalau biaya sudah jutaan rupiah, namun tidak bisa sembuh. Penderitanku kian hari kian bertambah banyak, sepertinya aku sudah bosan juga dalam menjalani kehidupan ini. Kenapa cobaan ini harus diberikan kepadaku, bukan kepada orang lain, apakah Tuhan sudah tidak sayang kepadaku lagi, atau kenapa. Oh Tuhan tunjukkan jalan kepada umatmu ini supaya aku bisa terbebas dari cobaan ini. Setelah bertahun-tahun aku memohon, rupanya Tuhan mendengar juga tangisanku tersebut. Lewat saran seorang paranormal yang ada di Jogjakarta, aku disarankan untuk uji lab. ‘Coba melakukan uji lab, siapa tahu terkena virus kucing atau TORCH,’ katanya waktu itu. Akupun tidak mengerti apa itu virus kucing ataupun TORCH, yang aku tahu aku sering pingsan dan tidak sadarkan diri. Itu saja. Epilepsi Dan TORCH Karena didorong rasa ingin sembuh itulah, akhirnya aku turuti juga saran paranormal tersebut untuk uji lab. Dan akhirya sungguh diluar dugaan, ternyata aku juga mengidap penyakit virus kucing ataupun TORCH tersebut. Sungguh malang nasibku sudah terkena epilepsy, juga terkena virus kucing dan TORCH. Rasa-rasanya seperti lebih baik mati saja daripada harus menanggung penderitaan ini. Yang lebih menyedihkan lagi, ternyata penyakitku tersebut, medis belum bisa mengobati. Singkat kata medis belum bisa menemukan obat yang bisa membunuh penyakit yang aku derita ini. Komplit sudah penderitanku ini, oh Tuhanku, berilah jalan keluar umatmu ini? Kenangku waktu itu. Dalam ketidak pastian itulah, rupanya Tuhan memberiku jalan. Waktu itu, tetanggaku membaca KR yang isinya ada pengobatan alternatif khusus penyakit TORCH. Aku diberitahu dan supaya mencoba pengobatan alternatif. Siapa tahu ada kecocokan. Awalnya aku tidak begitu merespon tentang pengobatan tersebut, namun setelah hampir seminggu merenung, kenapa tidak dicoba saja. Siapa tahu ada kecocokan, pikirku waktu itu. Akhirnya aku datangi juga pengobatan alternatif tersebut yang kebetulan berpraktek di Hotel Madukoro, Jogjakarta. Disana aku bertemu dengan Prof Dr Ir H A Juanda dan diberi pengarahan seputar penyakit TORCH. Ternyata penyakitku epilepsy dan TORCH memang ada hubungannya. Aku jadi tahu betul kalau sebetulnya epilepsy penyebabnya adalah virus kucing ataupun TORCH yaitu Toxoplasma, Rubella, CMV dan Herves. Semenjak itulah aku berobat ke Prof Dr Ir H A Juanda hingga saat ini. Dan alhamdulillah, semenjak aku berobat ke bapak Juanda, epilepsiku sudah sangat jarang sekali kambuh. Bahkan sudah hampir setahun belakangan ini tidak pernah kumat. Dulu awal-awalnya dalam sehari aku bisa kumat tiga kali, namun lama-kelamaan kalau kumat hanya masalah keseimbangan saja, namun tidak sampai ke pingsan. Namun akhir-akhir ini sudah sekitar setahun lamanya sudah tidak kumat lagi. Mudah-mudahan penyakitku juga bisa sembuh untuk selamanya. Terima kasih pak Juanda. *** |
|
|