Tri Pujiastuti dan Budi Waluyo Anakku Meninggal Karena Hidrosepalus Ibu Tri Pujiastuti dari Dongkelan, Jl Bantul, Jogjakarta mempunyai bayi pertama merupakan kebahagiaan yang tiada taranya. Ini dikarenakan semenjak pernikahannya dengan Budi Waluyo, tiga bulan kemudian langsung mengandung. Sembilan bulan kemudian lahirlah anak pertama dengan nama Muhammad Isa Ghozi. Sejak lahir Ghozi tampak normal-normal saja, sepertinya tidak ada kelainan pada dirinya.
Namun menginjak usia empat bulan, sepertinya Ghozi mulai tampak ada kelainan-kelainan, misalnya tidak bisa merespon ketika diajak main-main, pandangannya sepertinya tidak focus, gerakannya juga tidak begitu aktif tidak seperti bayi-bayi pada usia seperti dia, sering kejang, panas akhirnya step. Sebagai orang tua, ibu Tri Pujiastuti merasa curiga ada apa sehingga Ghozi seperti ini. Oleh karena itu, Ghozi dibawa ke dokter untuk melakukan city scan, hasilnya dinyatakan bahwa Ghozi terkena Hidrosepalus (pembesaran kelenjar kepala). Disarankan oleh dokter untuk melakukan operasi. Sebagai orang tua, ibu Tri Pujiastuti memohon kalau bisa jangan dioperasi dulu, biar diberi obat-obatan. Ada rasa ketakutan kalau sampai dioperasi akan mengganggu perkembangan anak kelak dikemudian hari. Karena tidak ada perkembangan yang berarti, dokter menyarankan untuk diinfus dan minum obat yang harganya sekali infus sebanyak Rp 800 ribu. Padahal obat yang harus diminum minimal sembilan kali minum. Karena inginnya anaknya sembuh, maka saran dokterpun diterimanya. Lagi-lagi hidrosepalusnya juga tidak sembuh, bahkan kian hari tambah parah. Selain mengobati secara medis, dicoba juga dengan pengobatan alternatif, bahkan sempat juga mendatangi berbagai tempat seperti ke Kendal, Kediri, Muntilan dan Jogjakarta sendiri, namun hasilnya tetap saja sia-sia. Atas saran dokter, ketika anaknya sedang diopname, ibu Tri Pujiastuti, memeriksakan diri secara khusus dan hasilnya positif terkena CMV 225 IgG. Mengetahui terkena CMV ibu Puji kaget setengah mati, dari mana penyakit ini berasal, kenapa bisa sampai ke tubuhku dan sebagai korbannya anakku terkena hidrosepalus? Berbagai pertanyaan sempat muncul di pikiran ibu Puji. Disela-sela memikirkan mengenai penyakit yang menyerang dirinya, ternyata Tuhan berkehendak lain, Ghozi dipanggil yang kuasa. Tepatnya pada umur 8 bulan 15 hari. Sedih juga ketika anaknya meninggal, namun ada juga rasa kasihan seandainya Ghozi tetap hidup justru akan menyengsarakan dirinya maupun orang tuanya. Oleh karena itu, meskipun dengan rasa sedih, akhirnya kenyataan ini diterimanya meskipun dengan rasa sedih yang mendalam. Semenjak kematian Ghozi, ibu Puji mulai berobat untuk mengobati CMV (cytomegalovirus). Berbagai dokter kandungan yang ada di Jogjakarta maupun di luar kota dicoba untuk didatanginya. Namun hasilnya tidak memuaskan, bahkan mendapatkan jawaban yang sangat menyakitkan, bahwa secara medis penyakit CMV belum ada obatnya. Sedang obat yang ada hanya bersifat coba-coba, dan sekedar menghilangkan rasa sakit, penguat tubuh, dan multivitamin. Namun untuk sembuh tidak bisa menjamin, meskipun melakukan pengobatan selama setahun, dua tahun ataupun sepuluh tahun. Spesialis TORCH Dalam keputusasaan tersebut, akhirnya Tuhan memberi jalan, ibu Tri membaca Surat Pembaca di ‘KR’ mengenai pengobatan alternatif khusus spesialis TORCH. Setelah dibaca ternyata penyakit yang diderita ibu Puji masuk ke dalamnya, yaitu Toxoplasma, Rubella, CMV dan Herves. Langsung saja ibu Puji bertemu dengan Prof Dr Ir H A Juanda untuk melakukan konsultasi. Singkat kata, setelah menjalani terapi pengobatan oleh Prof Dr Ir H A Juanda, penyakit CMV yang dideritanya bisa diobati bahkan mencapai titer negatif (-). Setelah dinyatakan negatif ibu Puji dipersilahkan untuk hamil yang kedua kalinya. Akhirnya setelah menjalani terapi pengobatan secara teratur, ibu Puji bisa hamil lagi. Tepat pada tanggal 14 Oktober 2001, lahirlah anak yang kedua dengan nama Salman Adam Nur Farras. Syukur alhamdulillah, hingga kini Adam bisa tumbuh normal seperti bayi-bayi lainnya. Ibu Puji merupakan salah satu contoh, pasien yang diobati oleh Prof Dr Ir H A Juanda yang secara khusus mengobati penyakit TORCH. Penyebab utama penyakit TORCH adalah virus yang menyerang parasit darah. Penyakit TORCH bila menyerang ibu hamil akibatnya bisa keguguran, bayi lahir namun cacat, baik fisik maupun non fisik seperti hidrosepalus (seperti anak dari ibu Puji), mikrosepalus, pengkapuran otak, bibir sumbing, usus keluar, hiperaktif, autisme, epilepsy (ayan), katarak dll. Bila menyerang orang dewasa biasanya yang diserang adalah syaraf mata misalnya pandangan rabun, tampak ada pekat-pekat hitam ataupun seperti ada kabut, akhirnya bisa kebutaan. Sedangkan kalau menyerang syarat otak bisa mengakibatkan migrain dan vertigo, sakit kepala urat belakang kejang-kejang secara kontinyu.*** |
|
|