Wenny Elvita dan Didik Supriyadi Pengobatan Alternatif Membuatku Punya Anak Nama lengkapku adalah Wenny Elvita, seorang karyawati Bank LIPPO, Solo, resmi menjadi istri mas Didik Supriyadi (32), yang sehari-hari sebagai seorang karyawan di Solo. Setelah sembilan bulan, pernikahan kemudian aku dinyatakan hamil oleh dokter, betapa bahagiannya waktu itu. Seluruh keluargaku maupun keluarga mas Didik juga menyambut gembira mendengar berita ini. Ini berarti tidak lama lagi kedua orang tuaku sudah bisa menyandang gelar ‘simbah’. Suatu panggilan yang sudah diidam-idamkan selama ini.
Ketika usia kandunganku berumur delapan bulan, tiba-tiba saja aku merasakan seperti akan melahirkan. Cepat-cepat aku beritahu mas Didik tentang keluhanku tersebut. Mas Didik kaget mendengar kalau aku seperti akan melahirkan, maka buru-buru mengajak ke dokter. Benar, setelah diperika oleh dokter ternyata aku hampir melahirkan, oleh karena itu dianjurkan untuk opname. Karena usia kandunganku memang belum cukup umur, maka dokter menyarankan untuk dipacu supaya proses persalinanku bisa berjalan lancar. Demi faktor keamanan baik aku sendiri maupun bayi yang akan aku lahirkan, maka keluargaku menyetujui proses kelahirannya dipacu. Secara otomatis aku mempersipakan baik fisik dan mental untuk proses persalinan tersebut. Setelah dipacu, akhirnya aku bisa melahirkan dengan selamat. Anehnya bayi yang aku lahirkan tidak seperti bayi-bayi yang lain, beratnya hanya 1,6 gram. Inipun masih ada kelainan, ketubannya tidak bisa keluar sekaligus namun masih harus menunggu 2 jam lamanya. Betapa sakitnya aku waktu itu, ketika menjalani proses ini. Meskipun aku diberi obat-obatan namun perasaan sakit tidak bisa dihindari lagi. Apalagi harus menunggu keluarnya ketuban selama dua jam. Aku tambah bingung lagi, ketika bayiku lahir tidak langsung nangis, namun kelihatan diam saja. Bahkan sepertinya tidak bergerak sama sekali, aku berpikiran apakah bayiku tidak bisa diselamatkan? Atau memang belum bisa nangis? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam diriku waktu itu. Melihat kenyataan ini, dokter memutuskan untuk menyedot pernapasannya, ada kemungkinan terganggu. Penderitaan bayiku tidak sampai disitu saja, namun malahan tambah parah, aku sebagai ibunya merasa iba. Namun apa boleh buat, aku tidak bisa berubat apa-apa. Meskipun medis sudah berusaha mengobati, namun rupanya Tuhan masih terlalu sayang terhadap bayiku. Buktinya sepertinya tidak tega melihat penderitaan yang dialami oleh bayiku, akhirnya bayi pertamaku dipanggil oleh Yang Kuasa. Meskipun hatiku hancur dan sedih apalagi mas Didik yang selama ini memang sudah berkeinginan mempunyai anak juga tampak sangat shok menerima kenyataan ini. Apa boleh buat kalau memang ini jalan yang terbaik maka akhirnya aku dan mas Didik bisa menerimanya. Daripada nantinya kalau tetap hidup justru akan sangat menderita baik bayiku sendiri maupun aku sebagai orang tuanya. Oleh karena itu setelah kematian bayiku aku mencoba untuk berserah diri kepada Allah SWT mohon ampunan, sekaligus memohon supaya diberi bayi yang lebih baik dan normal. Setelah kematian anakku yang pertama kondisi badanku tampaknya tidak kunjung membaik. Kepala ini tiap hari tambah pusing yang sangat berat, badan seperti masuk angin, sering keluar keringat dingin, selama makan dapat dipastikan selalu keluar (muntah). Pengobatan sudah aku jalani dengan mendatangi dokter-dokter yang aku anggap mampu dan senior di kota Solo. Ada sekitar lima dokter yang aku datangi untuk bisa mengobati penyakitku ini. Namun dokter-dokter tersebut sepertinya pasrah dan tidak bisa berbuat banyak. Ketika aku periksa ke dokter, entah sudah dokter yang ke berapa aku lupa, baru disarankan untuk uji lab. Siapa tahu ada penyakit TORCH yang menyerang tubuhku. Waktu itu aku tidak tahu apa itu TORCH dan apa pengaruhnya terhadap tubuhku maupun kandunganku. Namun karena ingin sembuh dan mempunyai anak, akhirnya saran tersebut aku jalani juga. Astaga, setelah aku uji lab ternyata aku terkena penyakit TORCH tersebut. Dan aku baru tahu kalau TORCH adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan bisa menyerang ke ibu hamil. Akibatnya bisa menyebabkan keguguran. Aku jadi tahu kalau TORCH adalah Toxoplasmosis, Rubella, CMV dan Herves. Penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh virus yang penyebab utamanya adalah hewan yang ada di sekitar kita. Seperti tikus, kucing, kambing, ayam, burung, kelinci dll. Setelah aku dinyatakan terkena Rubella dan CMV bukan berarti penderitaanku sudah cukup. Namun justru setelah mengetahui aku terkena penyakit ini, aku semakin stress saja. Karena setelah diketahui aku terkena penyakit ini, aku juga diberitahu kalau penyakit tersebut hingga sekarang medis belum bisa mengobati. Medis hanya mampu mendeteksi penyakit tersebut, namun untuk mengobati masih angkat tangan. Lemaslah seluruh tubuhku waktu itu. Ini berarti angan-angan untuk punya anak hanya sia-sia saja. Tidak mungkin bisa punya anak kalau penyakit itu sendiri tidak bisa diobati dulu. Aku tidak percaya dengan keterangan dokter tersebut. Aku mencoba mendatangi dokter lain dengan harapan bisa memberi solusi. Lagi-lagi aku mendapatkan kekecewaan, karena dokter yang aku datangi, juga memberikan jawaban yang sama yaitu medis tidak bisa mengobati penyakit TORCH meskipun menjalani pengobatan selama setahun, dua tahun, tiga tahun, lima tahun bahkan hingga sepuluh tahun. Semua hasilnya sama saja tidak ada perubahan, bahkan ada kecenderungan naik seiring dengan perkembangan virus di dalam tubuh. Mencari Solusi Dengan Pengobatan Alternatif Tidak puas dengan pengobatan secara medis, aku dan mas Didik mencoba beralih ke pengobatan alternatif. Ada beberapa tempat yang aku datangi, namun kekecewaan juga harus aku terima. Pengobatan alternatif juga tidak bisa membuahkan hasil sesuai yang aku inginkan. Akhirnya aku bosan sendiri dan merasa jenuh untuk berobat. Namun demikian keinginan untuk mempunyai momongan tetap menggebu tidak sedikitpun turun meskipun penyakit yang aku derita belum sembuh. Untungnya disaat aku sedang shock berat, dan mas Didik juga sudah mentok, aku membaca di majalah Kartini, mengenai pengobatan alternatif khusus TORCH yang ditangani oleh Prof Dr Ir H A Juanda dari Bogor. Langsung saja aku mencoba mencari tahu dan mencoba menghubungi ke Bogor. Dari penjelasan awal, diperoleh bahwa penyakit yang aku derita bisa diobati dengan metode alternatif. Bahkan aku juga disarankan untuk bertemu langsung dengan Profesor Juanda. Maka tidak membuang waktu, aku dan mas Didik langsung bergegas bertemu dengan Profesor Juanda, di Bogor. Akhirnya setelah aku bertemu, aku sampaikan semua permasalahan yang aku hadapi selama ini. Profesor sepertinya tanggap dengan apa yang aku rasakan selama ini. Aku langsung disarankan untuk mengikuti metode terapi pengobatan selama tiga bulan pertama. Sepulang bertemu dengan Profesor Juanda, aku langsung setiap hari minum ramuan yang diberikan dengan tidak lupa selalu berdoa kepada Allah supaya dikaruniai anak sesuai dengan harapanku. Meskipun rasa ramuan tidak enak betul, namun karena dicampur dengan madu, maka rasa maupun aromanya tidak begitu menyengat. Aneh… baru minum separo botol saja, sepertinya ada kemajuan yang sangat kentara. Badanku sekarang lebih segar, fresh, tidak masuk angin, kepala tidak sakit dan perutku juga tidak mual-mual lagi. Perkembangan baik ini langsung aku sampaikan ke mas Didik. Mas Didik juga menyambut dengan baik, dan menyarankan untuk rajin minum ramuan tersebut setiap hari jangan sampai lupa. Tiga bulan tidak terasa, pengobatan profesor Juanda sudah aku lakukan. Ketika aku bertemu dengan profesor Juanda, aku langsung uji lab untuk mengetahui perkembangan penyakitku selama ini. Dan astaga…. Aku hampir tidak percaya, setelah diuji lab, hasilnya penyakitku semuanya negatif (0). Aku kurang percaya dengan hasil tersebut, maka aku uji lab ke tempat lain. Namun lagi-lagi hasilnya juga nol. Mas Didik aku beritahu kalau penyakitku sudah negatif, senangnya bukan main. Ini berarti keinginan untuk mempunyai anak bakal tercapai. Akhirnya pada bulan keempat, terapi pengobatan, aku dinyatakan hamil. Plong rasanya, ternyata aku bisa hamil lagi. Namun meskipun bisa hamil lagi, kecemasan juga tetap menghantui diriku, apa bisa kehamilan ini normal, tidak seperti kehamilan pertamaku. Jangan-jangan akan terulang untuk yang kedua kalinya. Karena ada kecemasan maka aku langsung telepon ke profesor Juanda, perihal kehamilanku tersebut. Atas saran dari profesor Juanda, aku supaya tetap memelihara kehamilan ini dan supaya lebih rajin minum ramuan. Aku turuti semua saran profesor dengan harapan bisa mempunyai momongan. Akhirnya setelah melalui detik-detik yang mendebarkan tepat pada 10 Mei 2001, lahirlah anakku yang kedua dengan selamat. Meskipun proses kelahiran menggunakan Caesar. Seorang putri mungil dan cantik. Sebagai rasa bersyukur, aku beri nama Nadya Putri Salsabilla. Kini Nadya tumbuh normal seperti anak-anak seusia dengannya. Memang kadang sakit, namun sakitnya tidak membuat cemas orang tua. Panas ataupun flu hanya biasa, dua tiga hari sudah sembuh. Bahkan saat ini sudah bisa jalan dan sedang belajar berbicara. *** |
|
|