Murni Astiti & I Gede Yudana Usada
Tiga Kali Dikuret Akibat TORCH Namaku Murni Astiti, suamiku bernama I Gede Yudana Usada. Aku menikah dengan mas Yudana sekitar tahun 1999 lalu. Sebulan kemudian tepatnya Mei 1999 aku positif hamil. Aku dan mas Yudana senangnya bukan main, setelah aku dinyatakan positif hamil oleh dokter.
Sayangnya kandunganku tidak bisa bertahan lama, karena baru berusia 2,5 buan sudah keluar flek-flek seperti akan datang bulan. Saat bersamaan punggungku juga sakitnya minta ampun. Padahal hampir semua aktifitasku sudah aku kurangi, bahkan ada beberapa pekerjaan yang aku tinggalkan untuk dikerjakan pembantuku di rumah. Namun sepertinya flek-flek itu tidak bisa berhenti bahkan ada kecenderungan bertambah banyak. Karena flek-flek itu tidak bisa sembuh maka, akhirnya aku dan mas Yudana memeriksakan ke USG untuk mengetahui ada apa dengan kandunganku tersebut. Selesai periksa aku disarankan untuk langsung opname, Semalam opname di rumah sakit, paginya aku mengalami pendarahan yang banyak sekali. Artinya aku telah keguguran untuk yang pertama kalinya. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan maka aku disarankan untuk melakukan kuretasi. Sebelum aku pulang ke rumah, dokter menyarankan agar aku uji lab untuk penyakit TORCH. Siapa tahu biang keladi keguguran bayiku adalah karena penyakit TORCH. Aku Tanya apa itu TORCH? Dokter mengatakan kalau TORCH adalah penyakit Toxoplasma, Rubella, CMV dan Herves. Penyakit ini disebabkan oleh virus, penyabab utamanya adalah hewan yang ada di sekitar kita seperti tikus, kucing, anjing, sampi, kambing, babi dll. Meskipun aku sudah positif terkena TORCH dokter tetap menyarankan untuk hamil lagi. “Ngga apa-apa kalau hamil lagi, nanti diberi obat penguat kandungan dan anti biotik, vitamin-vitamin, supaya tidak keguguran lagi,” kata dokter tersebut waktu itu. Maka legalah aku ketika diberitahu untuk hamil lagi, meskipun aku sudah positif terkena TORCH. Oleh karena itu sebulan kemudian aku positif hamil lagi. Ini berarti kehamilanku untuk yang kedua kalinya. Kurang yakin dengan penjelasan dokter tersebut, aku mencoba untuk konsultasi ke dokter yang lain. Siapa tahu ada pendapat yang berguna untuk proses kehamilanku nantinya. Pendapatnya juga sama, tidak apa-apa meskipun terkena TORCH bisa hamil dan melahirkan dengan selamat. Plong juga mendengar jawaban seperti itu, aku semakin mantap untuk hamil yang kedua kalinya tersebut. Namun kegembiraan ini tidak berlangsung lama karena pada kehamilan yang kedua bulan, aku mengalami peristiwa yang sama persis dengan kehamilan pertama, keguguran. Padahal aku sebelumnya juga sempat diberi penguat kandungan dan vitamin-vitamin yang harganya diatas dua ratus ribu rupiah. Pada keguguran kedua ini aku juga menjalani proses kuretasi. Wah kalau aku teringat ketika dikuret rasanya sakitnya bukan main. Setelah keguguran yang kedua kalinya, bukan berarti aku berhenti keinginanku untuk punya anak. Namun malah semakin menjadi-jadi hasratku punya anak. Apapun jalannya harus aku tempuh yang penting bisa punya momongan. Akhirnya aku ikut juga program kehamilan yang disodorkan oleh dokter kandunganku waktu itu. Meskipun ada rasa was-was namun karena dokter mengatakan akan memantau setiap bulan, akhirnya aku mantap juga untuk hamil yang ketiga kalinya. Kehamilan yang ketiga ini juga lagi-lagi mengalami nasib yang tragis yaitu keguguran. Awalnya sama persis dengan proses keguguran yang kedua, dari flek-flek yang keluar akhirnya pendarahan dan akhirnya keguguran. Terakhir aku harus dikuret lagi untuk yang ketiga kalinya. Lengkap sudah penderitaanku waktu itu. Sampai-sampai untuk menangis air mataku sudah kering. Setelah keguguran untuk yang ketiga kalinya inilah, akhirnya dokter baru mengatakan kalau penyakit TORCH hingga sekarang belum ada obatnya secara medis. Namun disarankan untuk tetap menjaga stabilitas tubuh dengan mengikuti berbagai senam kebugaran. Dari saran itulah, aku mencoba mengikuti beberapa kursus senam kebugaran yang ada di Denpasar hampir dua bulan. Meskipun aku sudah ikut senam, namun naluriku sebagai wanita tidak bisa dipungkiri. Akankan selamanya aku menderita seperti ini, apakah aku tidak bisa mempunyai anak? Berbagai pertanyaan selalu timbul di dalam diriku, bahkan hampir tiap hari aku menangisi nasibku yang seperti ini. Setelah beberapa saat aku merenungi nasibku inilah, akhirnya rupanya Tuhan memberiku jalan. Lewat saudaraku yang kebetulan sebagai dokter di Jakarta, menyarankan untuk mencoba pengobatan alternatif khusus TORCH dari Bogor, namanya Prof Dr Ir H A Juanda. Siapa tahu setelah mengikuti pengobatan darinya bisa mempunyai anak. Tidak ada salahnya aku untuk mencobanya. Maka aku putuskan bersama mas Yudana pergi ke Bogor konsultasi ke Prof Dr Ir H A Juanda. Apa yang aku alami selama ini, aku sampaikan dengan tidak ada yang tersisa. Ternyata penderitaan yang aku alami, juga sama persis yang dialami oleh istrinya profesor Juanda. Bedanya aku keguguran tiga kali, istri prof Juanda, keguguran empat kali. Sepulang dari Bogor, aku langsung mengikuti aqutreat therapy selama tiga bulan pertama. Baru menginjak bulan pertama, ternyata ada perubahan yang sangat nyata pada badanku. Aku sekarang tidak cepat cape, badan terasa segar, tidak mudah masuk angin. Perubahan ini aku sampaikan ke mas Yudana, dia kelihatan sangat senang sekali ketika aku beritahu hal ini. Dengan kenyataan ini aku semakin rajin untuk meminum ramuan tersebut. Tidak terasa sudah tiga bulan lamanya. Akhirnya aku menjalani uji lab pada terapi pengobatan tiga bulan pertama. Hasilnya sungguh diluar dugaan, meskipun aku sudah merasakan perbedaan yang sangat nyata dalam tubuhku, tetapi titernya masih tetap tinggi. Maka profesor Juanda menyarankan untuk melanjutkan pengobatan tiga bulan kedua. Akhirnya setelah menginjak pengobatan yang keempat bulan, titernya bisa turun drastis hanya tinggal 60 IgG saja. Oleh karena itu profesor Juanda menyarankan untuk program kehamilan, namun masih harus melanjutkan minum obat hingga sembilan bulan tepatnya sampai anaknya lahir. Setelah disarankan untuk hamil, aku beranikan diri ke dokter kandungan untuk mengikuti proses kehamilan. Meskipun hati kecilku ada keraguan siapa tahu akan mendapatkan kenyataan seperti keguguran sebelumnya. Namun bedanya aku sekarang agak lebih tenang disbanding kehamilan sebelumnya. Kehamilan ini rasanya cepat berlangsung tidak terasa usia kandunganku sudah hampir sembilan bulan. Namun dalam perjalanan ini tidak ada perubahan yang sangat mengganggu, bahkan dari hasil pemeriksaan dokte, janin yang ada di tubuhku berkembang luar biasa. Sangat baik, dan bisa normal dalam proses kelahiran kelak. Tepat pada 6 April 2001, lahirlan anakku yang keempat dengan selamat. Seorang putri yang cantik dan aku beri nama Luh Widya Kusuma Ganggaputri. Hingga sekarang anakku tumbuh dengan baik. Terima kasih prof, atas bantuan bapak, akhirnya kami bisa memperoleh putra yang sangat dinanti-nantikan. *** |