Lina Maulana DUA KALI BAYI KEMBARKU GUGUR KARENA TORCH Sebagai orang awam, Lina sama sekali tidak mengetahui bahwa setiap calon ibu bisa terancam penyakit TORCH pada janin yang tengah dikandungnya. Dahsyatnya virus ini bisa menghancurkan janin di rahim, membuat cacat dan merusak organ tubuh bayi. Pengalaman Lina dua kali keguguran, membuat ia memahami pengetahuan seputar TORCH (Toxo, Rubella, CMV, dan Herpes). Setelah dua kali bayi kembarnya dihancurkan virus, ia berobat pada Prof. DR Ir H A Juanda. Setelah sembuh dari TORCH, ia mulai hamil dan merasa bahagia, karena Tuhan memberinya bayi kembar lagi.
Mengandung bayi bagi setiap calon ibu, merupakan karunia Ilahi yang harus disyukuri. Begitu juga dengan aku, saat dokter menyatakan aku positif hamil, rasanya duniaku terang benderang, dengan hamparan harapan yang indah. Tak henti-hentinya kuucapkan puji syukur kehadirat Allah, karena aku akan menjadi wanita sempurna yang akan dipanggil ibu oleh anakku. Bulan maret 1997 saat aku duduk di pelaminan dengan pemuda teman sekolahku aku berniat tak akan menunda kehamilan dengan cara berKB. Kalau Tuhan memberiku karunia kehamilan, akan kuterima dengan rasa syukur. Agaknya Tuhan mengabulkan impianku, selang satu bulan, aku mulai mengandung. Pekerjaanku sebagai salah satu staf di pusat studi satwa primata, lembaga penelitian IPB, tidak terlalu berat. Apalagi rumah tinggalku yang berada di kota Bogor, tidak harus menempuh perjalanan jauh, sehingga aku merasa aman dalam mengandung tetap bekerja. Hari-hari ngidam kulalui tanpa mabuk. Tak banyak memang calon ibu yang nyaman di awal kehamilannya, karena merasa biasa-biasa saja saat terjadi perubahan siklus dalam kehidupannya. Umumnya, saat janin tumbuh dirahim, perubahan itu membuat kestabilan hidup terganggu, mabuk, muntah-muntah, ingin marah dan lain-lain. Wujud emosi yang unik. Meski aku tidak mengalami secara total, aku bisa merasakan sesuatu yang indah, karena dirahimku tengah tumbuh calon bayi buah cintaku. GUGUR KARENA KELETIHAN Memasuki bulan keenam, tengah malam aku merasa mulas luar biasa. Kutahan sampai pagi hari, baru suamiku membawaku kedokter. Dokter segera memberi obat penguat dan aku disarankan untuk istirahat total. Sengaja aku tidur, namun pada jam 9 pagi rasa mulas mulai berulang, kembali aku kedokter dan tidak tertahankan bayi yang kukandung mendesak keluar. Posisi kepala bayi sudah di pintu lahir, tak dapat dielakkan lagi, bayiku lahir ke dunia fana. Bayi pertama, disusul dengan bayi kedua. Ternyata bayiku kembar. Ia lahir tidak menangis dan tampak lemas namun takdir Allah, bayi kembarku tak bernyawa lagi. Tubuhnya sudah sebesar botol, aku meyakini ajaran Al-Qur’an, tentu pada usia empat bulan, sudah ditiupkan nyawa kehidupan oleh Allah. Tubuhnya normal, dengan titik mata hidung dan bibir. Bayi kembarku normal, sayang ia haus kembali kepada Ilahi Rabbi. Kesedihan menjadi bagian yang mewarnai kehidupanku. Aku merasa kehilangan kebahagiaan yang kubangun selama berbulan-bulan seiring dengan masa kehamilanku. Orang tuaku menyuruh bersabar, berpasrah diri pada ketentuan Allah, si kembarku itu Chairul Hasan Maulana dan Muhammad Husein akan menjadi “celengan” bidadari penghuni syurga. Pupus sudah impianku menjadi ibu. Pengalaman pahit ini tak boleh terulang kembali. Aku harus lebih “care” terhadap kesehatanku. Segera aku ke dokter spesialis kandungan. “Sudah melahirkan?” tanya dokter melihat aku heran. “Keguguran dokter” kataku. “Kenapa?” dokter ingin tahu lebih jauh. “Kata dokter yang menolong persalinan mungkin aku kecapaian”. “Ah, tidak bisa begitu saja, coba tes darah”, kata dokter memberi saran. “Ke mana? Aku masih tidak tahu. “Ke labolatorium di Jakarta. Ini saya berikan rujukan untuk tes darah”, kata dokter. Aku segera memenuhi saran dokter, ke sebuah laboratorium di Jakarta. Hasil toxonya ternyata rendah, hanya 40-an, jadi dokter berkesimpulan kecil kemungkinan penyebab gugurnya kandunganku karena virus toxo. Dokter memberiku obat-obatan di antaranya obat penguat kandungan. Sejenis antibiotik dosis tinggi 500 gram yang harus kuminum pagi sore. Setelah lewat tujuh bulan, aku, mulai hamil lagi. Prosesnya sama seperti kehamilan lalu, tanpa mabuk. Meski demikian, ada kecemasan yang selalu menghantuiku. Aku takut peristiwa lama terulang lagi, khawatir bayiku tak sampai cukup usia untuk dilahirkan. Melalui USG, diketahui, ternyata bayiku kembar lagi. Alhamdulillah, Tuhan memberikan karunia yang tidak diterima oleh setiap kaum ibu. Di balik kebahagiaan yang kurasakan pada masa kehamilan ini, kerapkali muncul ketakutan-ketakutan, yang tak bisa seratus persen kulenyapkan akibat trauma kehamilan lalu. Kecemasan yang selalu menghantuiku ternyata terbukti, memasuki bulan keempat, aku mulai flek-flek. Ya Allah pertanda apa ini, haruskah aku kehilangan janinku lagi? Aku segera ke dokter, namun obat dari dokter tak mampu menahan kandunganku. Aku kembali terhempas dalam realita pahit, harus di kuret, karena kandunganku tidak sempurna, rusak digerogoti virus toxo. Dengan tekad tak berputus asa, aku menekuni pengobatan lebih serius lagi. Setiap enam bulan sekali aku cek darah. Ternyata tidak hanya toxo, namun rubella yang kuidap sangat tinggi. Toxo dan rubella berkejar-kejaran turun naik. Rasanya hampir putus asa, karena dalam kondisi seperti ini, pasti aku akan keguguran lagi. Saat itu aku berpikir untuk mencoba pengobatan alternatif. Aku dan suamiku, mulai menyimak koran dan majalah yang memuat iklan pengobatan alternatif. Betapa senangnya saat aku membaca kisah penderita toxo yang bisa hamil dan punya anak setelah berobat pada Pak Juanda. Siapa Pak Juanda? Dimana alamatnya? Kisah yang dialami itu persis sama dengan pengalamanku. Beruntung sekali wanita yang telah memiliki bayi yang sehat itu. MENEMUI PAK JUANDA Aku terpaksa harus melacak alamat beliau melalui telepon ke redaksi tabloid wanita. Alhamdulillah, tanpa kesukaran kuperoleh alamatnya. Tidak terlalu jauh, karena Pak Juanda waktu itu tinggal di Laladon, Bogor, di perumahan Dinas Peternakan. Tahun 1998, awal perkenalanku dengan Pak Juanda. Pada hari Sabtu sore itu, aku dan suami mengunjungi rumahnya. Untaian kisah nyata Pak Juanda yang diceritakan secara gamblang memacu semangat hidupku. Kisah Pak Juanda lebih tragis dari kisah kehidupanku. Istri beliau bahkan mengalami empat kali keguguran. Cerita yang membutuhkan ketegaran dan ketabahan, belum tentu aku dapat setegar dan setabah beliau. Aku mulai minum ramuan Aquatreat Therapy olahan Pak Juanda. Seminggu sekali aku mengambil satu botol untuk konsumsi satu minggu. Pada setiap hari Sabtu, aku datang dan menceritakan perkembangan kesehatanku seraya mengambil sebotol ramuan. Setelah tiga bulan minum obat, ternyata toxo dan rubellaku masih tinggi. Toxo 400 dan rubella 400. Aku sempat heran, mengapa pada tes darah tahun lalu, diketahui toxoku hanya 40? Tak urung aku dilanda kesedihan. Mengapa perubahan berjalan lamban. “Jangan putus asa “ kata Pak Juanda “Teruskan saja minum obatnya”. Aku minum lagi ramuan Pak Juanda sampai delapan bulan, meski pada waktu bulan keenam minum obat, Pak Juanda menyarankan untuk stop dan periksa darah. Aku tetap belum memiliki keberanian. Biar aku akan memperpanjang waktu minum obat dua bulan lagi. Alhamdulillah, ternyata hasilnya sangat menyenangkan. Setelah delapan bulan minum obat, toxo dan rubella yang kuidap nol alias negatif. Pak Juanda memberi “lampu hijau” untuk program kehamilan. Namun perasaanku masih kalut, diliputi kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan. Aku trauma berat selama enam bulan, tak memiliki keberanian untuk hamil. Namun suami dan keluarga memberiku cinta kasih dan dorongan semangat dan keyakinan untuk memenuhi kodrat panggilan menjadi ibu. Bulan berikutnya aku mulai mengandung. Pada dokter spesialis kandungan aku menceritakan riwayat kehamilan yang dua kali gugur karena toxo, tetapi aku tidak bilang proses pengobatan yang selama ini kutempuh melalui Pak Juanda. Dokter hanya mengetahui kalau aku saat ini sudah bebas dari toxo dan rubella. Aku memilih dr. Hidayat sebagai dokter spesialis kandunganku. Setiap bulan dengan rutin aku memeriksakan kehamilan dengan telaten. Meminum vitamin, dan yang paling utama setiap hari aku tetap minum Aquatreat Therapy saat bangun tidur dan perut kosong. BAYIKU KEMBAR, CANTIK DAN SEHAT Dalam masa kehamilan ini, aku tak mampu lepas sepenuhnya dari rasa trauma. Aku mengobati jiwaku dengan terus berdoa, shalat hajat, dan tahajud bersama suami. Saat USG tiba, akupun cemas, jangan-jangan janin dirahimku rusak. Maha besar Allah, bayiku sempurna dengan pertumbuhan yang normal. “Dokter saya ingin lahir normal”, pintaku pada dokter. “Boleh, posisinya bagus”, kata dokter. Waktu itu lebaran jatuh pada bulan Desember akhir. Menurut perkiraan, bisa jadi aku lahir malam tahun baru. Rasa mulas kadang-kadang muncul, hilang dan timbul, sehingga mendebarkan hati. Tahun baru datang dan mulasnya mulai sering. Tanggal 2 Januari pukul 08.00 aku konsultasi pada dokter. Pembukaan sudah empat, dan aku tidak boleh pulang lagi. Dokter Hidayat bertanya, “Mau melahirkan di mana?” Aku langsung memilih klinik Anugrah, milik dokter. Seluruh sanak keluarga, orang tua dan kakek nenek ikut menunggui. Sudah tiga tahun pernikahan, anak dan cucu yang ditunggu, akan lahir kedunia. Mereka tak lepas dari rasa was-was. Tak henti-hentinya doa dipanjatkan untuk keselamatanku dan bayi yang kukandung. Alhamdulillah aku melahirkan dengan selamat. Orang pertama yang kuingat adalah Pak Juanda. Aku segera menelepon beliau, kukatakan, “Bayi kembarku sudah lahir dengan selamat”. Tak terasa mataku basah oleh gugahan rasa syukur atas karunia Allah yang terbesar dalam hidupku. Sebagai perempuan, sempurna sudah aku sebagai ibu. Terima kasih kepada Pak Juanda, tangan Tuhan telah membimbingku untuk mengenalnya. Semoga ibu-ibu lain yang tengah dibelenggu TORCH dapat menemukan solusi dengan berobat pada Pak Juanda. |