Ny Kusmiati JANINKU LAHIR MEMBAWA CACAT dengan UKURAN KEPALA YANG BESAR Syukur kepada Allah, akhirnya harapan untuk mempunyai anak yang sehat dikabulkan oleh yang maha kuasa. Kecemasan menunggu datangnya buah hati, tidak dapat kuungkapkan. Ketabahan melalui hari - hari yang sulit, karena janin gugur, kemudian bayi lahir meninggal, menyebabkan trauma kesedihan yang dalam. Untunglah akhirnya, Tuhan menunjukkan jalan berobat ke Pak Juanda. Impian memperoleh bayi yang sehat sudah terwujud. Kini bayiku, Nauval berusia 10 bulan.
Kesedihan yang dalam merundung hari-hariku yang panjang. Kebahagiaan yang semula memenuhi batinku, tiba - tiba berubah menjadi nestapa. Betapa tidak, duka seorang calon ibu yang mengurai mimpi indah memiliki momongan, tiba-tiba terenggut maut. Saat dokter mengatakan aku positif hamil, dunia seakan ceria. Buah cintaku dengan mas Eko, menyatu dalam rahim, di mana dia tumbah dengan kasih sayang. Aku menjalani hari - hari awal kehamilan dengan kebahagiaan yang utuh. Satu atau dua bulan, adalah saat - saat yang rawan bagi kehamilan, maka kujaga benar kegiatanku sebagai istri. Aku tak mau sesuatu terjadi pada janin dalam kandunganku. Memasuki kehamilan 12 minggu, sesuatu yang mencemaskan mengancamku. Pagi itu ada flek yang mencurigakan di baju dalamku. Tanpa menunggu waktu lagi, aku segera konsultasi ke dokter di RS Panti Rini. Betapa terkejutnya aku, saat dokter menyatakan janinku tidak berkembang, dan harus segera dikuret. Ya Tuhan! Sungguh singkat umur impianku. Tiba-tiba saja aku harus kehilangan buah cinta yang telah 3 bulan tinggal di rahimku. Dengan berat hati kurelakan dokter mengeluarkan janin yang mati dan rusak pada bulan Maret 2001. Dokter menyarankan agar aku tidak hamil dulu, mengistirahatkan rahim selama 3 bulan dan minum obat-obatan agar aku kembali sehat. Dokter tidak menyelidiki lebih jauh kemungkinan penyebab janin yang gugur itu. Dia tidak menindak lanjuti dengan uji darah dan semacamnya. Aku hanya diberi vitamin saja. LAHIR LANGSUNG MENINGGAL Setelah kosong 7 bulan, aku mulai positif hamil lagi. Aku pindah ke dokter lain di Minggiran. Pilihan berkonsultasi pada dokter Anisa, sesama perempuan kurasa cocok untukku. Aku lebih hati - hati merawat kandunganku. Setelah 3 bulan berlalu, kecemasanku mulai sirna. Trauma saat flek dulu, sangat menakutkan sehingga setelah kandunganku berumur 5 bulan baru aku merasa lebih tenang. Memasuki 9 bulan kehamilan, dokter menyuruhku untuk USG. Setelah selesai USG, dokter kelihatan ragu dan cemas. Ada kejanggalan yang dilihatnya di layar monitor “Kok kepalanya agak besar ya ! “Tiba-tiba ucapannya itu meluncur mengejutkan aku. Setelah itu, dokter terdiam, tidak melanjutkan kata-katanya. Akupun tidak bertanya banyak. Rasa takut dan cemas kusimpan saja di hati. Dokter tidak berterus terang tentang kondisiku. Tapi dia menyarankan agar aku kembali USG di RS Sarjito. Di situlah aku mendapat penjelasan, bahwa terdapat kelebihan cairan pada kepala bayiku, Dr Subhan yang menanganiku, menyarankan agar aku melahirkan di RS Sarjito melalui operasi Caesar. Detak jantungku berpacu, ngeri membayangkan lahir dengan operasi, apalagi bayi yang kulahirkan ini membawa kelainan. Ya Allah, akankah dukaku berulang lagi? Kesedihan panjang akan kembali menghantui hari-hariku. Apalagi kemudian kudengar asistennya berkata “Anak ibu tidak bisa diharapkan, ia akan lahir cacat. Kalau ibu di caesar kasihan, lebih baik lewat normal, agar 1 tahun lagi, kalau ibu sehat, bisa hamil lagi “. Aku bingung, takut, dan mencemaskan kelahiran bayiku. Pengetahuanku tentang bayi yang lahir hidrocepalus tak pernah kupahami sebab-sebabnya. Aku menuruti saja anjuran dokter, yang penting pilihannya adalah yang terbaik bagi bayiku. Atas kehendak Allah, bayiku lahir dan hanya bertahan 4 jam, ia meninggal dunia. Upaya dokter sudah maksimal menolongku. Saat kelahiran, detak jantung bayiku sudah tak terdengar. Kepalanya besar (hidrocepalus) karena kelebihan cairan. Dokter memberinya infus, tetapi tak ada yang dapat menolak takdir, mungkin itu yang terbaik bagi Allah, bayiku hanya 4 jam menghirup udara dunia. Realita pahit yang kualami dua kali, membuatku harus uji darah di laboratorium. Dokter mulai mencurigai aku mengidap Toxo. Kemungkinan janin bisa berkembang seiring dengan aktifnya parasit menyerang dan merusak jaringan otot jantung dan otak. Akibatnya janinku lahir membawa cacat dengan ukuran kepala yang besar. Sekali lagi harus kuikhlaskan bayiku kembali kepada Sang Maha Pencipta. Aku cuma insan ciptaan Tuhan, tak ada daya dan upaya, selain dengan pertolongan Allah. Mungkin Allah belum mempercayai aku menimang bayi. Hikmah yang kudapatkan adalah, aku harus sehat dulu sebelum hamil lagi. Aku harus memeriksakan diri dengan serius dan tuntas, agar hal-hal yang buruk tidak terjadi lagi dalam masa kehamilan yang akan datang. MENGIDAP VIRUS TOXO DAN CMV Hasil uji darah membuktikan aku terkena virus Toxo 45,51 dan CMV 73,13. Dokter mengatakan angka itu tidak masalah. Bagaimana mungkin, pikirku? Janinku gugur dalam usia 3 bulan, lalu bayiku lahir menderita cacat hidrocepalus. Apakah angka itu dapat dianggap aman? Aku pindah lagi ke dokter lain. Tidak berbeda dengan dokter terdahulu, ia menyatakan hasil laboratoriumku aman, angkanya rendah tidak akan beresiko jika aku hamil lagi. Tetapi aku sangsi, aku cemas dan ketakutan. Untunglah ada seorang teman yang melihat tayangan pengobatan alternatif pak Juanda di TVRI. Penjelasannya sangat gamblang dengan contoh-contoh faktual yang kasusnya mirip dengan pengalamanku. Tidak menunggu waktu lebih lama lagi, aku segera mencari tempat prakteknya di Yogyakarta. Dari Bantul, rumahku tidak terlalu jauh ke jalan Sidikan Umbul hardjo. Aku harus segera bertemu beliau, aku ingin mengandung lagi tanpa virus TOXO ini. 7 Februari 2004, aku mulai berobat pada Pak Juanda. Dari klinik TORCH Pak Juanda ini, aku mendapat informasi yang jelas tentang Toxo Rubella, CMV dan Herpes. Ilmu yang selama ini buta dari pengetahuanku, menjadi jelas. Kenapa TORCH menyebabkan keguguran dan bayi lahir cacat, sudah kuketahui sebab musababnya. Ternyata Toxo menyerang dan merusak sel telur dalam rahimku. Pada ibu yang hamil muda, seperti saat kehamilan pertamaku, infeksi dapat menyerang janin yang masih lemah dan terbatas kemampuannya. Akibatnya perkembangan janin terganggu, tidak dapat berkembang, dan mati dalam kandungan. Pengetahuan tentang TORCH ini membuatku lebih waspada merawat kehamilan. Setelah berobat 6 bulan dan dengan disiplin meminum Aquatreat Therapy, aku mulai hamil bulan juli 2004. Saat itu uji darahku setelah minum Aquatreat Therapy, turun drastis, Toxo negative, Rubella 2,9 dan CMV 2,7. Pak Juanda merekomendasi kandunganku akan sehat. Selama masa kehamilan aku tetap minum Aquatreat Therapy sampai saat melahirkan bulan Maret 2005. Alhamdulillah dengan rahmat Allah aku dapat melahirkan normal. Bayi laki - laki yang kunamakan Nauval ini tumbuh sehat, dan kini berusia 10 bulan. Aku sujud syukur kepada Allah, yang telah memberi amanah seorang putra yang sehat. Tuhan telah mempercayakan memiliki momongan, dan terima kasih pula pada Pak Juanda, yang menerima karunia Allah, menjadi perantara, di mana harapan banyak ibu dapat terwujud. |