Beranda arrow Kesaksian arrow Trauma Membayangi Kelahiran Anakku
Newsflash
JADWAL PRAKTIK
AQUATREAT 2012
 
 
Read more...
 
Menu Utama
Beranda
INFO Torch
News
Kesaksian
Jadwal Praktik
Kontak Kami
Menu Religi
Buletin Tarbiyah
Dakwah
Komentar Terbaru
Epilepsi, Bagaimana Jalan...
Operasi
Adik saya usia 5 tahun pernah jatuh...
30/01/12 03:49 Selengkapnya...
Oleh: Ephron

Jadwal Praktik 2012
lahir tanpa tempurung kepala
ass.. nanya pak, ada nggak hubungannya...
27/01/12 22:22 Selengkapnya...
Oleh: anggraini marsyal

Jadwal Praktik 2012
telah ada di Semarang
Terima kasih telah membuka praktek di...
23/01/12 21:47 Selengkapnya...
Oleh: Heri Stiyawan

9 Tahun Menanti Buah Hati
pertanyaan tentang epilepsi
Assalmualikum Ir.H.A. Juanda saya...
23/01/12 01:21 Selengkapnya...
Oleh: Ahmad Hanif

Dokter Memvonis Aku,...Tak...
semangat buat ibu
Allahuakbar..... ibu sungguh tegar...
18/11/11 22:28 Selengkapnya...
Oleh: arisna_kalimantan

Jadwal Terbaru
No events
Trauma Membayangi Kelahiran Anakku PDF Print E-mail
Wednesday, 12 March 2008
 

Nurul Kurniati SH

TRAUMA MEMBAYANGI KELAHIRAN ANAKKU

Kebahagiaan pasangan Nurul Kuniati SH dan Aditiawarman SH menjadi sempurna tatkala buah cinta mereka bersemi. Impian memperoleh anak yang sehat menjadi angan-angan yang indah. Tak pernah diduga, janin yang tumbuh di rahim Nurul ternyata digerogoti virus. Dua kali ia harus dikuret. Bersyukur ia membaca artikel penyembuhan TORCH Prof. DR. Ir H A Juanda. Nurul segera berobat untuk mengenyahkan virus ganas itu. Dalam trauma Nurul mengandung dan melahirkan anak yang sehat.

Kebahagiaan akan memperoleh buah hati, menambah rasa syukurku pada Ilahi. Tak pernah kukira, kalau rasa kebahagiaan itu hanya berlangsung sekejap, karena saat kandunganku menginjak bulan ke tiga, janin di rahimku mati dan tak berkembang lagi.

Setelah menikah tahun 1999, kebahagiaanku semakin lengkap dengan kenyataan aku positif hamil. Aku merasa sempurna sebagai wanita karena suatu hari nanti aku akan menjadi ibu. Tak pernah terlintas sedikitpun musibah akan menimpaku. Tatkala janin di rahimku memasuki usia 3 bulan, hasil USG memperlihatkan janin di perutku mengecil.

Padahal pada USG bulan lalu kondisi janin tampak bagus dan normal. Saat itu dokter langsung memvonis, janin tidak berkembang dan harus di kuret. Tak ada alasan dan sebab yang dipaparkan, aku disudutkan pada kenyataan pahit, membuang janin yang tengah tumbuh di rahimku.

Tatkala kudesak alasannya, dokter mengatakan sperma yang membuahkan sel telurku tidak bagus, aku bisa hamil anggur atau  hamil di luar kandungan. Serta merta dokter memberiku surat pengantar untuk kuret.

Adik yang mengantarku ke ruang konsultasi dokter tidak percaya pada kalimat yang diucapkan dokter. Aku seketika merasa syok. Sampai di rumah, ibuku tidak percaya dengan yang kuceritakan, ia menyarankan agar aku mencari dokter terbaik di klinik lain.

Setelah memenuhi permintaan ibu mencari klinik lain, ternyata hasil pemeriksaan sama, aku tetap harus di kuret. Dengan rasa penasaran, ibu membawaku ke Solo dan mengantarku ke dokter yang paling bagus. Diagnosanya tetap sama, janin di rahimku harus dikeluarkan.

Ketakutan sempat menghantuiku, takut tidak bisa hamil lagi, takut berdosa bila harus di gugurkan. Aku sempat bertanya kepada Kyai, dan beliau menjelaskan tidak berdosa pengguguran kandungan kalau itu akan menyelamatkan jiwa ibu. Akhirnya aku dikuret di rumah sakit besar di Solo.

Suamiku sempat stres dengan kenyataan pahit ini, ia harus hati-hati mengabarkan pada orang tuanya, yang selama ini berharap mendapat cucu yang pertama.

DIKURET UNTUK YANG KEDUA KALI

Setelah lewat sebulan, aku kembali positif hamil. Saat itu aku dan suami menganggap wajar peristiwa keguguran pada anak pertama kami. Dokterpun tak pernah menaruh kecurigaan tentang penyebab gugurnya jaininku.

Pada masa kehamilan kedua ini, aku lebih waspada memeriksakan kandunganku. Ada trauma yang menghantui, jangan-jangan seperti anak pertama, layu sebelum berkembang.

Bulan kesatu, kedua, ketiga, melalui USG dipastikan janinku baik. Yang mengherankan tiba-tiba aku diserang rasa gatal-gatal di seluruh tubuh. Kugaruk-garuk tubuhku, namun tidak ada bekas bentol atau luka, yang menimbulkan bercak merah. Meskipun demikian kutahan untuk tidak minum obat. Aku hanya membedakinya dengan salicyl talk, herocin atau kaladin.

Tetapi gatal-gatal itu tak kunjung hilang walau sudah seminggu lamanya. Aku kembali lagi ke dokter, seperti baru tersadar, dokter mendiagnosa, kemungkinan aku terkena virus. Ia menyarankan untuk segera periksa darah.

Saat itulah kuketahui, hasil uji darah menyatakan aku terinfeksi TORCH. Toxoku 27 CMV 8800. Dengan hasil darah yang buruk itu, janinku tidak mungkin dapat dipertahankan lagi, malah dapat membahayakan karena janin sudah meninggal dalam kandungan akibat digerogoti virus. Kembali aku harus dikuret untuk kedua kalinya di Solo. Dokter menjelaskan, pasti janin sudah rusak, mestinya sudah ada titik mata pada janin, namun yang tampak hanya gumpalan darah. Setelah di kuret otomatis gatal-gatal di seluruh tubuhku lenyap.

INFORMASI DI TABLOID WANITA

Sedih, kecewa dan luka jiwa tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Impianku menjadi ibu kembali sirna. Tak ada yang dapat menyembuhkan nestapa jiwaku, kecuali dengan berpasrah diri pada Allah. Aku dan Mas Adi bersikap positif, berobat secara medis, meminum obat dokter selama setengah tahun guna menghilangkan virus TORCH dan menyuburkan kandungan.

Suatu hari, tanpa sengaja aku membaca tabloid wanita yang memuat kisah pasien TORCH yang sembuh berkat pengobatan Pak Juanda. Aku tergugah, dan segera mengirim surat menceritakan pengalaman pribadiku. Alhamdulillah, beliau merespon suratku dan menyatakan akan membuka praktek di Yogyakarta, di rumah ibu Aulia.

Aku bersyukur pada Tuhan, bagai diberi petunjuk oleh Yang Maha Kuasa, aku langsung bisa konsultasi dengan Bapak Juanda. Hasil uji darah, memang tidak memungkinkan aku punya anak yang sehat. Pak Juanda menyarankan untuk mengobati infeksi virus di tubuhku dengan meminum ramuan Aquatreat Therapy. Dijelaskan oleh Pak Juanda, ibu hamil yang terinfeksi TORCH akan mengalami keguguran, bayi lahir cacat (fisik-non fisik) seperti hydrocephalus, microcephalus, pengapuran otak, usus keluar, jari-jari tangan putus, katarak, autisme, hiperaktif, epilepsy dan lain-lain. Sungguh ngeri membayangkan akibat yang dibawa anak dari kandungan karena terinfeksi TORCH. Aku benar-benar harus sehat untuk hamil kembali.

Sesuai dengan anjuran Pak Juanda, karena toxo dapat menular melalui hubungan suami istri, maka suamiku, Mas Adi pun melakukan cek darah dan diketahui CMV-nya 5, sehingga kami berdua sama-sama minum Aquatreat Therapy. Selama tiga bulan aku minum Aquatreat Therapy, ramuan yang dibuat oleh Pak Juanda. Setelah uji darah diketahui toxoku negatif dan CMV yang semula 8800 turun menjadi 05. Aku sudah boleh masuk dalam program kehamilan. Tapi saat itu aku diliputi ketakutan, masih ada trauma dalam jiwaku. Aku ingin CMV-ku benar-benar 0.

Pengalaman tanteku yang kena toxo juga membuat traumaku tak kunjung sirna. Bayinya yang berusia 5 bulan, meninggal dalam kandungan karena TORCH apalagi CMV-ku masih turun naik. Saat lebaran, karena keletihan, CMV-ku naik ke angka lima. Aku ingin betul-betul aman, karena kalau janin sudah terbentuk akan sukar diperbaiki.

Selama satu tahun aku menenangkan diri. Beberapa teman yang sama-sama berobat pada Pak Juanda, satu persatu bergantian hamil dan melahirkan. Aku ikut termotivasi. Setelah lewat satu tahun baru aku memasuki program hamil.

Sesuai anjuran Pak Juanda,  aku tetap minum ramuannya selama masa kehamilan untuk mencegah sisa toxo tidak menular ke janin. Aku tidak pernah berterus terang pada dokter kandungan yang merawatku secara medis. Hanya dia sempat heran saat toxo dan CMV yang kuderita nyaris sirna. Pada masa kehamilan itu, aku juga merasa lebih sehat, walaupun aku harus ke kampus untuk menyelesaikan program studi S2 notariat. Menjelang kelahiran semua berjalan lancar. Seusai melahirkan, ibuku menggendong cucunya dan memperlihatkan kepadaku. “Bagaimana keadaannya Bu, apakah normal?” tanyaku dalam kecemasan.

“Alhamdulillah, bayimu sehat dan normal,” sahut ibuku dengan kebahagiaan yang sukar untuk dilukiskan. Aku segera bersyukur kepada Allah. Kutelepon Pak Juanda, kukatakan bayiku telah lahir sehat, laki-laki dengan tubuh  lengkap dan normal.

Beberapa teman yang memiliki kasus serupa denganku baru percaya,  penderita TORCH dapat melahirkan bayi sehat dan normal. Mereka spontan meminta alamat Pak Juanda, untuk berobat dan mewujudkan keinginan memiliki buah hati.

Rasa syukur yang dilimpahi kebahagiaan, terlukis jelas di wajah ayah mertuaku. Dulu, bertepatan hari ulang tahunnya, ia menerima kabar buruk, saat calon cucunya harus dikuret karena virus toxo. Kini ia tampak bahagia karena cucu yang dinantikannya lahir dengan selamat.

Mas Adi yang panik saat menunggui kelahiran anaknya, pun bisa bernafas lega. Buah cinta kami telah lahir. Tidak terucapkan nilai kebahagiaan dan terimakasih kami kepada Pak Juanda. Melalui tangannya, Tuhan memberi karunia kepada kami, sehingga kami dapat memperoleh momongan yang kami dambakan.


   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
KD6         HMW      
8 4    R    8 D   6AW
G33   IET   GMW      
T I    E      T   S8E
IWJ         XTJ      
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >