Drs. Prayitno Dengan Aquatreat Therapy AKU TERBEBAS DARI ASMA DAN GANGGUAN SYARAF MATA Sedari kecil Prayitno menderita asma, terlebih pada musim kemarau, debu yang bertebaran, membuat bersinnya tidak pernah berkesudahan. Begitu pula dimusim penghujan. Udara dingin semakin memicu sesak napasnya. Dikala usianya semakin lanjut, penyakitnya semakin bertambah. Otot leher, pundak dan tengkuk Prayitno sering diserang rasa kaku. Syaraf mata dan pencernaannya juga mengalami gangguan. Aquatreat Therapy menyembuhkan segala penderitaannya selama ini.
Sebagai dosen bahasa Inggris di beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta, kehidupan rumah tangga kami tergolong sederhana. Walaupun demikian aku dan isteri hidup rukun dan bahagia, meski berbagai penyakit kerap datang silih berganti mengganggu kenyamanan di antara kami. Untunglah kehadiran beberapa anak angkat yang hidup di tengah-tengah kami, membuat suasana menjadi lebih hidup. SEJAK KECIL SERING BERSIN DAN SESAK NAFAS Menurut orangtuaku, semenjak kecil aku sering sakit-sakitan. Dari kecil aku paling anti terhadap debu, sebab jika ada debu, aku akan bersin berkepanjangan, lalu disusul oleh sesak napas. Makanya sedari kecil oleh orangtua, aku dibiasakan hidup bersih, sedapat mungkin menghindari debu. Semakin aku bertambah besar, keadaan di sekitarku tentu saja berbeda. Aku sudah tidak bisa lagi mengungkung diri di dalam rumah. Apalagi semenjak aku memilih profesi sebagai guru. Aku masih ingat, setiap pagi selalu mengayuh sepeda ke sekolah. Hal yang tidak dapat aku hindari sepanjang perjalanan, adalah debu. Makanya sepanjang jalan, aku sering menghentikan sepeda, untuk menyingkir dari terpaan debu. Namun tidak selamanya hal itu bisa aku cegah. Adakalanya aku harus menguber waktu, sehingga meskipun diserang debu, aku tetap mengayuh sepeda. Pada saat mengajar, kapur tulis turut menjadi pemicu. Sehingga batuk yang aku alami tidak pernah berakhir. Situasi dan kondisi yang aku jalani tiap hari ini, semakin menambah rasa sesak napasku. Aku ingat sewaktu masih kecil, betapa ayah amat mengkhawatirkan diriku. Saking khawatir anaknya terkena debu, beliau tidak mengijinkan aku bermain di luar rumah. Begitulah keadaanku ketika masih duduk di bangku SD. Ayah selalu khawatir jika aku sudah mulai batuk. Jalan satu-satunya untuk meredakan batukku ketika itu adalah dipijat. Setiap kali dadaku sesak akibat batuk yang berulang-ulang, aku langsung mencari ayah. Ayah langsung merebahkan punggungku di pangkuannya. Walau sifatnya hanya menolong sesaat, pijatan ayah mampu menghalau rasa sesak napasku. Batukku memang tidak pernah sembuh sama sekali, dan selama itu pula ayah mengatasi batukku dengan selalu memijat-mijat punggungku. Begitulah yang sering aku alami di tahun 1940 an. Ayah tidak membawaku ke dokter. Pada waktu itu dokter memang belum sebanyak sekarang. Ayah sepertinya yakin kalau suatu hari aku bisa sembuh berkat pijatannya. Apa yang diperkirakan ayah bukan tanpa alasan. Masalahnya sudah banyak anak tetangga yang sembuh karena dipijat oleh ayah. Lain anak tetangga, lain pula aku. Aku masih tetap batuk, apalagi dimusim kemarau dan penghujan, aku bisa batuk berhari-hari. Pijitan ayah ternyata hanya dapat meredakan saja. Buktinya, meski ayah telah memijatku berulang kali, aku tetap saja sering bersin dan sesak napas. Walaupun bersinku belum sembuh-sembuh juga, ayah jarang memberiku obat. Malangnya lagi, aku seringkali mengalami gangguan pencernaan. Aku tidak bisa makan sembarangan. Jika larangan ini tidak aku patuhi, pasti perutku rasanya seperti gembung dan sulit buang air. Salah satu yang menjadi pantanganku adalah minum susu. Bertambah tahun, aku semakin sering mengalami bersin dan sesak napas. Ayah akhirnya sadar juga pijatannya selama ini, ternyata memang tidak cukup ampuh untuk menangkis penyakit batuk dan sesakku selama bertahun-tahun. Suatu hari ayah membawaku berobat ke dokter. Usai diperiksa aku langsung diberi obat. Waktu itu dokter belum tahu persis penyakit apa sebenarnya yang mengidapku. Cuma katanya, jenis penyakitku ini adalah penyakit turunan yang tidak bisa disembuhkan, hanya saja intensitas dan frekuensinya bisa dikurangi asal tetap menjaga kesehatan. Namun belum apa-apa, sudah muncul keluhan lain. Aku merasa tubuhku semakin gampang letih. Lari sedikit saja sudah ngos-ngosan. Sesak napasku langsung kambuh. Aku beruntung, meski selalu sakit-sakitan, sekolahku tidak mengalami hambatan yang berarti. Aku bisa lulus dari SMP, bahkan bisa melanjutkan sekolah ke SGA, Sekolah Guru. Pada tahun 1960, aku sudah menjadi guru di Sekolah Dasar. Selanjutnya aku mendapat tugas belajar di PGSLP untuk memperdalam bahasa Jawa dan Indonesia. Lulus dari PGSLP diangkat menjadi guru SMP. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena telah berhasil meraih apa yang aku inginkan meskipun keadaanku sering sakit-sakitan . TERNYATA AKU MENDERITA ASMA Tanggal 17 Maret 1967 adalah hari yang amat bersejarah dalam perjalanan hidupku. Aku menyunting gadis pilihanku. Aku merasa bersyukur, ia gadis yang baik, dan mau mengerti kondisiku yang sering sakit-sakitan. Untuk dapat mendongkrak prestasi kerjaku, aku melanjutkan sekolah lagi ke IKIP Yogyakarta. Praktis hari-hariku semakin bertambah sibuk. Selain mengajar juga kuliah. Artinya, aku semakin sering keluar rumah dan menghirup debu di udara terbuka. Keadaan ekonomi rumah tangga kami belum jauh berbeda, aku masih tetap mengayuh sepeda. Seperti biasa, jika banyak debu, sepeda kuhentikan sejenak. Kalau batukku sedang kumat, aku kontrol ke dokter. Aku selalu diingatkan agar sedapat mungkin menghindari debu. “Sebab kalau tidak begitu, batuk dan sesak napasnya akan semakin parah.” begitu peringatan dokter. Selama aku masih tetap mengayuh sepeda, mana mungkin aku bisa menuruti nasehat dokter. Masih ada saran dokter yang lain, aku harus makan makanan bergizi dan cukup istirahat. Waktu itu kehidupan kami masih pas-pasan, jadi aku harus berjuang mencari tambahan. Sebab bagi kami ketika itu, bisa makan tiap hari saja rasanya sudah bersyukur. Agar kehidupan kami bisa sedikit terdongkrak, aku semakin getol bekerja. Aku tidak membiarkan ada hari kosong. Setiap hari aku gunakan untuk mengajar di beberapa sekolah. Otomatis aku semakin sering keluyuran di luar rumah, itu pula yang menyebabkan sesak napasku semakin hari semakin sering kambuh. Aku terlalu memforsir diri. Akibat sering terlalu capek, otot leher, tengkuk dan pundakku sering mengalami rasa kaku dan pegal-pegal. Rasa sakitnya sudah tidak tertahan lagi. Keluhan penyakitku semakin bertambah, isteri menyarankan agar aku kontrol ke dokter di tempat kerjanya. Kebetulan isteriku sebagai karyawan pada salah satu apotik di Yogyakarta. Pada saat kontrol, aku baru mengetahui, selama ini rupanya aku mengalami apa yang namanya penyakit asma. Semenjak itu di rumah selalu tersedia obat asma, sehingga jika batukku sedang kumat aku bisa segera minum obat. Namun karena aku terlalu banyak beraktivitas di luar rumah, rangsangan debu dari luar semakin kerap memicu sesak napasku. Suatu hari, asmaku kambuh. Serangan sesaknya luar biasa. Dadaku rasanya seperti terhimpit, aku benar-benar kesulitan bernafas. hingga tubuhku lemas tak berdaya sama sekali. Karena harus diobati secara serius, seketika itu juga aku harus mondok di rumah sakit. Dokter baru mengijinkan pulang, setelah satu minggu di rumah sakit. Kalau pun bisa pulang, bukan berarti sesak napasku sudah sembuh sama sekali. Penyakit asma masih tetap menyertai hari-hariku. Dadaku masih sering terasa sesak sehingga hidupku tak bisa terpisah dari obat. Pada tahun 1971 aku mendapat beasiswa dari Ford Foundation, Amerika, untuk kuliah di IKIP Malang. Saat aku sedang sibuk-sibuknya menulis skripsi, asmaku lagi-lagi kambuh. Aku terpaksa diopname. Untung ketika itu segala biaya pengobatan menjadi tanggungan Ford Foundation. Pada saat itulah aku diberi obat asma yang konon paling canggih pada masa itu. Obat ini didatangkan khusus dari Jerman. Pemakaiannya disemprotkan ke dalam mulut. Jika disemprotkan dadaku memang terasa lega. Tamat kuliah aku mengajar di SMEA Malang. Pada saat inilah keadaan ekonomi kami mulai membaik. Meski tetap tinggal di rumah kontrakan, aku sudah bisa mengendarai vespa. Kami pun sudah mampu makan makanan yang enak dan bergizi. Aku juga sudah bisa menyisihkan waktu untuk berolah raga yang katanya baik bagi penderita asma. Tak lama kemudian aku diminta mengajar di IKIP Yogyakarta. Keadaan ekonomi kami semakin bertambah baik. Tahun 1979 aku mendapat tugas belajar ke Sydney, Australia. Dalam kurun waktu setahun aku berhasil memperolah gelar Diploma in Teaching English dari Foreign Language University. Saat inilah keadaan ekonomi kami benar-benar stabil, kami bisa merasakan nikmatnya punya rumah milik sendiri. SEMAKIN KAYA DENGAN PENYAKIT Kendati demikian, ternyata Tuhan masih memberi cobaan yang lain.. Sementara asmaku masih sering kumat, timbul penyakit lainnya. Penglihatanku mulai kabur. Kata dokter syaraf mataku mengalami gangguan. Mendengar hal ini aku sedih sekali. Bagiku tanpa mata yang sehat, segala aktivitasku akan terganggu. Pada awal.tahun 2005, kami secara tidak sengaja melihat acara televisi yang tengah menayangkan pengobatan alternatif yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh TORCH (toxo, CMV, rumbella, dan herpes). Dengan melihat tayangan itu, aku terpanggil untuk mengobati istriku yang selalu mengeluh pusing dan sakit kepala berkepanjangan. Jangan-jangan pusingnya disebabkan oleh virus TORCH, pikirku selintas. Pendek cerita, istriku diobati oleh Pak Juanda. Ternyata istriku kena virus TORCH. Puji syukur, setelah empat bulan minum Aquatreat Therapy, penyakit pusing isteriku sembuh dan tidak pernah kumat lagi. Aku jadi penasaran, teringat pada penyakitku sendiri, jangan-jangan penyakit yang selama ini kuderita bisa juga disembuhkan oleh Aquatreat Therapy. Hasil lab yang kubawa kepada Pak Juanda pada 12 Maret 2005, ternyata menunjukkan aku pun terserang virus TORCH. Selama ini aku sama sekali tidak menyangka, kalau kerusakan syarat mataku dan berbagai penyakit lainnya, disebabkan oleh virus TORCH. CMV-ku 354,8 dengan HsV1 positip 0,50. Selama empat bulan aku terus-menerus mengonsumsi Aquatreat Therapy. Hasilnya luar biasa. Penglihatanku semakin hari semakin membaik, segala keluhan penyakitku turut sirna dengan minum ramuan olahan Pak Juanda. Untuk lebih meyakinkan apakah virus TORCH dalam tubuhku sungguh telah berkurang, aku kembali melakukan tes darah di laboratorium. Hasilnya memang benar. CMV-nya tinggal 6,0 dan Hs V1-nya sudah negatif. Tentu saja aku bahagia sekali dengan keadaanku sekarang ini. Kesehatanku prima bahkan lebih sehat dari masa kecilku. Terima kasih kami kepada Pak Juanda dan Ibu Bambang, yang telah membantu bukan saja melalui Aquatreat Therapy, tapi juga sikap beliau yang selalu bersahabat kepada setiap pasien khususnya kepada kami berdua, menjadi pemacu kesembuhan kami. |