Mustajab MATAKU YANG SELALU BERAIR KEMBALI NORMAL Mata adalah organ tubuh yang paling penting dalam kehidupan. Tanpa mata, tak bisa dibayangkan betapa gelap gulitanya dunia ini. Maka ketika fungsi matanya terganggu, Mustajab mulai diliputi ketakutan. Akhir tahun 2002, ia merasakan matanya tak berfungsi normal. Bola matanya seakan dilapisi tirai air mata. Selalu basah sehingga menghalangi pandangan. Mustajab takut, ancaman kebutaan pada matanya. Ia berobat ke dokter, namun tak kunjung sembuh, sampai akhirnya ia datang ke Sidikan 18 untuk berkonsultasi dengan Pak DJuanda.
Sehari dua hari, seminggu dua minggu, kondisi mataku tetap sama. Setiap aku pergi mengendarai motor, pandangan mataku memudar, sehingga memaksa aku berhenti karena harus mengusap airmata yang secara otomatis memenuhi bola mataku. Semula, rembesan airmata yang keluar ini berjarak cukup lama setelah diusap. Namun lama kelamaan, rembesan airmataku semakin sering, meski jarak yang kutempuh baru 2-3 km, tapi pandanganku ke depan sudah pudar. Tak bisa kuabaikan lagi, aku harus segera memeriksakan diri ke dokter. Dalam diskusi dengan keluarga, akhirnya kuputuskan akan berobat ke Dr Yap, dokter ahli mata terkenal di Yogyakarta. Keesokan paginya, aku segera berangkat ke klinik Dr Yap. Dari rumahku di Piyungan Barat Tirtosari Magelang, bukan jarak yang dekat untuk mencapai klinik Dr Yap. Namun aku bertekad untuk sembuh, jadi pilihan yang terbaik adalah berobat pada dokter spesialis mata terkenal itu. Dokter memeriksa mataku dengan sangat teliti. Diagnosa dokter menyatakan, aliran airmataku tersumbat, dan harus disonde. Dokter lalu memberiku sejumlah obat-obatan untuk mata dan untuk diminum. Beberapa hari setelah minum obat, kurasakan ada perubahan yang membuat mataku membaik. Namun tanpa kuduga, satu bulan kemudian, mataku kembali berair. Aku segera kembali ke Dr Yap, kali ini aku diberi obat tetes, dan aku mengobati mataku dengan penuh kedisiplinan. Anehnya, setiap selang satu bulan, kondisi mataku kembali seperti semula, berair dan tak pernah henti membasahi bola mataku. Sudah lima kali aku bolak-balik ke sana, dan kupikir aku harus mencari alternatif pengobatan lain. PINDAH BEROBAT KE RUMAH SAKIT Mengetahui mataku tak juga sembuh, aku segera pindah berobat ke Rumah Sakit Muntilan yang letaknya lebih dekat dengan rumahku. Bolak balik ke rumah sakit itu, tidak juga kurasakan perubahan. Kondisi kesehatan mataku tak sedikitpun menampakkan kemajuan. Obat yang diberikan dokter pun hampir sama, semacam obat tetes dan obat minum. Tidak puas dengan hasil yang kuperoleh, aku pindah berobat ke Rumah Sakit Tentara Magelang. Harapan untuk memperoleh kesembuhan selalu memacu semangatku untuk terus berobat tanpa putus asa. Namun lagi-lagi tak kurasakan perubahan. Aku segera pindah ke Rumah Sakit Umum Magelang. Tidak putus-putusnya aku mengobati mataku ini, namun semua pengobatan yang kutempuh selama ini belum memberikan kesembuhan yang total. Haruskah aku menyerah? Tidak!! Aku tidak boleh menyerah dan membiarkan mataku buta perlahan-lahan. Padahal tidak sedikit biaya dokter dan rumah sakit yang telah kukeluarkan untuk kesembuhan yang belum nampak wujudnya ini. Aku tak mau kehilangan cahaya terang dengan pasrah dan menyerah putus asa. Duniaku akan menjadi sunyi. Kebiasaanku membaca surat kabar akan lenyap. Tak dapat kusaksikan lagi tayangan televisi yang menyajikan aneka berita dan hiburan. Aku dilanda kecemasan yang memuncak, namun aku berusaha tenang dan berpikir waras. DARI TAYANGAN TV MENGAMBIL SOLUSI Hari-hari yang kulalui kini diliputi kegelisahan. Bingung, ke mana lagi aku harus berobat? Aku terus berdoa, meminta pendapat pada istriku yang berprofesi guru, sebaiknya apa yang harus kutempuh untuk pengobatan mata ini. Saat aku berdoa pada Allah, aku memohon petunjuk ke mana selayaknya aku berobat. Aku yakin betul, kalau Allah menurunkan penyakit, tentu Allah pula yang menyediakan obatnya. Aku berusaha tenang dan meyakini pasti ada obat mujarab yang dapat memulihkan kondisi mataku. Siang itu seperti biasa aku duduk di depan televisi menonton acara Pengobatan Alternatif. Acara seperti ini sudah beberapa kali kulihat, namun baru siang itu aku benar-benar serius menontonnya. Kusimak betul acara yang menampilkan Nara Sumber Prof Djuanda dengan kesaksian pasien-pasiennya yang pernah terinfeksi virus TORCH (Tokso Rubela, CMV, dan Herpes). Dengan sangat detil diungkapkan ciri-ciri penderita yang tidak hanya diderita oleh ibu-ibu sulit hamil dan gagal hamil, tetapi efek TORCH ini bisa juga meluas sampai merusak syaraf mata, syaraf otak, autisme, hydrocephalus, dan lain-lain. Saat itulah aku mulai tersadar, tidakkah yang kuderita pada mataku saat ini adalah sejenis virus? Ada dugaan kuat yang tumbuh dalam naluriku bahwa mataku yang selalu berair ini bisa jadi disebabkan oleh TORCH. Segera kucatat alamat praktek Prof Juanda di Jl Sidikan 18 Yogyakarta. Tanpa menunda waktu lagi, aku langsung ke sana keesokan harinya. Bu Bambang, asisten Prof Juanda di Yogyakarta menerimaku di ruang prakteknya. Dengan sabar dan penuh perhatian, ia mendengar semua keluhanku. Dia segera membuatkan surat pengantar untuk uji darah di laboratorium. Kupilih laboratorium Prodia untuk memeriksa darahku. Dengan harap cemas aku menunggu hasilnya. Beberapa hari kemudian kuterima hasilnya. Ternyata benar, aku positif terinfeksi rubella 2,0, CMV 51, HSV I 38,4. Pada hari pertemuan dengan Prof Juanda, beliau memberikan penjelasan dengan gamblang dan panjang lebar tentang TORCH, Pasiennya yang berjumlah ratusan orang berkumpul menjadi satu mendengarkan penjelasannya dengan sepenuh perhatian. Hari itu aku mulai minum ramuan Aquatreat Therapy Prof Juanda untuk kurun waktu 3 bulan. Setiap pagi sebelum sarapan, aku harus disiplin minum obat. Aku menelateni agar tidak sehari pun terlewati. Aku ingin segera sembuh dan kembali dapat melihat dengan jelas dan sehat. KEMBALI MELIHAT NORMAL Setelah minum Aquatreat Therapy 3 bulan lamanya dengan penuh kedisiplinan, kembali aku dianjurkan untuk uji darah. Hasilnya memperlihatkan kemajuan yang pesat. CMV yang semula 51 kini negative. Hanya HSV I yang masih positif 2,8. Namun angka itu tidak menjadi masalah kata Prof Juanda. Yang pasti kini pandanganku mulai jelas. Puluhan kilometer yang kutempuh di atas motor, dari Magelang ke jalan Sidikan, mataku tidak diliputi air lagi. Aku tak perlu berhenti berulang kali untuk mengusap mataku yang basah. Alhamdulillah, tak henti-hentinya kuucapkan puji syukur kepada Allah. Karunia yang diberikan Allah sungguh tak ternilai harganya. Di usia yang sudah 64 tahun ini, aku masih diberi kesehatan yang prima dalam bentuk kekuatan fisik. Setiap pagi aku masih bisa berjalan mengawasi lahan kebun dan sawahku yang cukup luas. Kuakui semangat untuk sembuh tak pernah pudar dalam diriku. Aku selalu yakin, pasti ada obat yang diberikan Tuhan untuk setiap penyakit. Jawaban yang kemudian kuperoleh adalah petunjuk Allah. Melalui tangan Prof Juanda, aku memperoleh kesembuhan. Kini kehidupanku kembali normal, dapat melihat dengan jelas tanpa keluh kesah. Tak henti-hentinya kuucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa, karena melalui Prof Juanda aku kembali hidup nyaman di tengah keluarga. |
|
|