Beranda arrow Kesaksian arrow Aku Koma Karena Serangan TOXO
Newsflash
JADWAL PRAKTIK
AQUATREAT 2012
 
 
Read more...
 
Menu Utama
Beranda
INFO Torch
News
Kesaksian
Jadwal Praktik
Kontak Kami
Menu Religi
Buletin Tarbiyah
Dakwah
Komentar Terbaru
Epilepsi, Bagaimana Jalan...
Operasi
Adik saya usia 5 tahun pernah jatuh...
30/01/12 03:49 Selengkapnya...
Oleh: Ephron

Jadwal Praktik 2012
lahir tanpa tempurung kepala
ass.. nanya pak, ada nggak hubungannya...
27/01/12 22:22 Selengkapnya...
Oleh: anggraini marsyal

Jadwal Praktik 2012
telah ada di Semarang
Terima kasih telah membuka praktek di...
23/01/12 21:47 Selengkapnya...
Oleh: Heri Stiyawan

9 Tahun Menanti Buah Hati
pertanyaan tentang epilepsi
Assalmualikum Ir.H.A. Juanda saya...
23/01/12 01:21 Selengkapnya...
Oleh: Ahmad Hanif

Dokter Memvonis Aku,...Tak...
semangat buat ibu
Allahuakbar..... ibu sungguh tegar...
18/11/11 22:28 Selengkapnya...
Oleh: arisna_kalimantan

Jadwal Terbaru
No events
Aku Koma Karena Serangan TOXO PDF Print E-mail
Wednesday, 12 March 2008
 

Lilik Mukarom

Dua Kali Aku Koma Karena Serangan Virus TOXO

Tanpa kuduga, kerja keras yang kulakukan, membuatku ambruk, demam panas dan jatuh sakit. Dokter mendiagnosa aku terkena tipus. Namun sampai 3 bulan minum obat tipus, sakitku tak kunjung sembuh. Hampir setahun aku terbaring sakit, dua kali koma dan nyaris ke pelukan maut. Akhirnya kutemukan kesembuhan di klinik TORCH Pak Juanda di Yogyakarta.

Sahun 2002 adalah puncak kerja keras yang kulakukan. Sepanjang tahun-tahun yang lalu, hidupku benar-benar kucurahkan untuk bekerja. Mungkin aku termasuk orang yang workaholic, bekerja tak kenal waktu. Tuntutan tanggung jawab di proyek membuatku bekerja sampai larut malam. Pukul 2 malam biasanya aku baru tiba di rumah.

Aku tak tahu pasti apakah keletihan itu yang memacuku jatuh sakit, atau mungkin benih penyakit yang telah lama meracuni tubuhku, mulai bergejolak.  Yang kuingat, setelah kerja keras selama bertahun-tahun, tiba-tiba aku jatuh sakit.

Tubuhku demam dengan panas tinggi. Dokter menduga aku kena tipus, tetapi setelah cek laboratorium, ternyata aku kena radang. Tiga bulan lamanya aku minum obat, namun sakitku semakin parah. Sakitnya seakan menjalar  ke seluruh syaraf,  sendi-sendi tubuh terasa pegal, menyerang syaraf organ tubuh dan radang ginjal. Selama 1 tahun 2 bulan, aku keluar masuk rumah sakit untuk perawatan, padahal saat di rontgen tak ada penyakit serius yang kuidap. Berbulan-bulan aku minum obat dokter, sampai aku bosan dan akhirnya kuhentikan obat-obatan kimia itu. Semakin diobati aku merasa sakitku semakin parah. Aku tidak mau keracunan zat kimia.

KOMA DUA KALI

Tak berhasil sembuh dari pengobatan dokter, aku dan keluarga mencari jalan pengobatan lain. Aku pernah ke Bekasi, berobat dengan seorang ustad terkenal, namun hasilnya nihil. Selanjutnya aku ke Surabaya, ke Mojokerto, Tulung agung, Tawangmangu, dan Karang Anyar. Hampir seluruh wilayah di Jawa Timur kudatangi. Di mana saja orang bicara ada pengobatan yang bagus dan berhasil sembuh, aku pun ke sana.

Saat sakitku semakin parah, aku ke  Madiun, tinggal di rumah ibuku. Istriku setia menemani, memberi semangatt untuk kesembuhanku. Tubuhku yang semula berbobot 80 kg, turun secara berangsur - angsur menjadi 50 kg, lalu 40kg.

Waktu aku menyetop minum obat,  aku merasa duniaku hampir berakhir. Yang kulihat seakan berputar-putar, dan aku jatuh pingsan. Rupanya saat itu aku bukan  hanya sekedar pingsan, tetapi aku koma. Istriku panik, lama aku tak sadarkan diri. Apa saja pengobatan, dilakukan ibu dan istriku untuk menyadarkan aku. Beberapa lama, aku kembali sadar. Aku berdoa, pasrah, ikhlas karena kupikir sudah saatnya aku mati. Kulihat istriku menangis, dan pandangan ibu yang kutangkap, merasa aku sudah diambang maut. Kejadian yang kualami itu seakan melemparku ke ruang kesadaran.

Aku kembali dapat melihat, rasa syukurku kepada Tuhan tidak terkatakan. Siang itu aku seakan bertenaga untuk bangun dari pembaringan karena ingin sholat. Aku sujud kepada Allah memohon petunjuk, agar dapat menemukan jalan penyembuhan. Dalam sujudku itu aku merasa ada yang berbisik, menyuruhku pergi ke Yogyakarta. Saat itu aku tidak punya uang sama sekali. Aku teringat temanku yang berada di Yogyakarta. Segera kutelepon, beliau dulu pimpinan di perusahaanku, kini tinggal di Yogyakarta. Alhamdulillah, beliau merespon, dan aku dinimta segera datang ke Yogyakarta.

Setelah koma yang kedua kali, aku seperti memiliki energi. Aku harus sembuh, aku pasti sembuh. Dengan tubuh sempoyongan aku bangkit melangkah dan mengeluarkan motor. Kupikir, orang sakit yang mau sembuh, harus nekad, bersemangat. Perasaan sakit harus dilawan.  Aku naiki motor dengan memboncengi istri. Sepanjang jalan bibirku tak lepas dari doa. Di mana aku lelah, aku bisa berhenti untuk istirahat.

Setelah sampai di Yogyakarta dengan selamat, aku langsung dibawa ke dokter spesialis anak. Sengaja temanku membawa ke dokter anak. Kabarnya dokter ini sangat teliti untuk menemukan suatu penyakit yang tersembunyi.

Dokter Purnomo menganjurkan agar aku cek darah di laboratorium. Saat itulah diketahui, ternyata aku mengidap virus TORCH. Toxo-ku mencapai 775 dan CMV  1100. Dokter sempat heran, dia mengatakan umumnya orang akan terserang Stroke dengan Toxo 300. Angka toxoku dua kali lipat. Dokter menatapku dengan heran, tak mengira  aku masih sanggup berdiri.

Aku ceritakan kondisiku 3 bulan yang lalu. Sama sekali lemah, tak berdaya dan tak bisa bangun. Terkapar lunglai sampai koma. Namun pada waktu koma kedua ini, seperti memiliki energi, meskipun lunglai, sakit, tapi aku mampu berdiri. Berobat medis 3 bulan dengan minum obat anti virus tak ada reaksi yang mengisyarati kesembuhan. Dokter menegaskan, memang belum ada obat yang paten untuk melawan virus TORCH. Kembali ke pengobatan medis, ternyata tak membawa kemajuan berarti. Di Yogyakarta, aku tinggal di rumah istriku. Dulu aku pernah lama tinggal di Yogyakarta, bagiku kota ini cukup ramah dan hangat.

MELIHAT PAK JUANDA DI TV

Aku terbaring, tinggal di rumah dalam kejenuhan, sesekali aku melihat acara TV. Kali ini ditampilkan pengobatan tradisional dengan Pak Juanda sebagai pakarnya. Setiap kali ada pengobatan tradisional di TV, aku terdorong untuk mendatangi. Tetapi istriku selalu marah-marah, karena selama ini pengobatan alternatif tak pernah berhasil.  Namun yang kulihat kali ini sungguh rasional. Beberapa kasus yang menyangkut syaraf sungguh menarik perhatian. Ada yang benar-benar mirip dengan keluhanku. Apalagi dokter medis telah memvonis aku mengidap toxo. Aku benar-benar penasaran dengan Pak Juanda. Aku segera mendatangi tempat prakteknya yang waktu dulu di Hotel Madukoro.

Sayangnya, jadwal praktek Pak Juanda sudah selesai kemarin, dan baru akan datang sebulan lagi. Mau ke Jakarta tak punya biaya. Saat itu aku terduduk lemas, merasa putus asa, apalagi waktu itu aku sedang kambuh.  Naik becak dengan jaket 3 rangkap, karena  siang itu aku merasa dingin di tengah terik matahari. Bagai di bongkahan es, suhu di tubuhku sangat dingin, ini adalah tanda daya tahan tubuhku menghilang. Tekanan darahkupun Drop sampai 80/40.

Untunglah ada yang mengatakan,  asisten Pak Juanda yang bernama Bu Bambang bisa ditemui.  Aku balik lagi mencari Bu Bambang. Saat bertemu, dengan ramah ia memberi penjelasan tentang pengobatan Pak Juanda.  Ia memberi advis dan menyuruhku mengonsumsi Aquatreat Therapy. Hasil uji darahku sudah jelas,  angka Toxo dan CMV-ku amat tinggi. Baru pada bulan depannya, aku baru bisa bertemu untuk berkonsultasi pada Pak Juanda.

Dalam masa pengobatan 1 bulan berjalan, aku merasa penyakitku selalu kumat. Namun kutahan agar  dapat kuatasi sendiri. Ini memang proses pengobatan, tidak akan mungkin sekali saja minum obat lalu kuhentikan. Lewat 3 bulan mengonsumsi Aquatreat Therapy,  darahku stabil, suhu tubuhku normal, demamnya kurasa lenyap, tapi tubuhku terasa seperti ditusuk-tusuk pisau dan sakitnya tembus ke punggung. Kepalaku rasa berputar, sekejap tidur, sekejap itu pula aku merasa sakit luar biasa.  Syarafku di vonis terganggu.

Selama pengobatan dokter dulu,  suster mengatakan sistem syarafku telah dirusak virus. Kejadian ini tentu sudah berjalan lama, mungkin penyembuhannya akan sakit dan memakan waktu yang lama pula.

Dengan disiplin aku terus minum Aquatreat Therapy setiap bangun tidur. Bulan ke-4 aku sudah tak mengenakan jaket lagi, suhu tubuhku terasa normal. Bila ada matahari terasa panas, bila hujan terasa dingin. Bulan ke-5 dan 6 drastis kurasakan tubuhku  ringan dan sehat. Aku disarankan bersabar, karena dipastikan jaringan syaraf dan organ gerak telah mengalami gangguan yang lama, bahkan dulu terancam lumpuh. Lewat 6 bulan aku merasa sembuh total. Tidak ada lagi rasa pusing, tidak gampang masuk angin lagi, dan stop minum obat dokter. Aku sudah pulih  kembali, kembali bekerja dan giat olahraga badminton.

Aku sujud syukur pada Tuhan, banyak hikmah yang dapat kuambil,  bahwa  dengan musibah aku terlatih untuk tabah, kuat dan selalu ikhtiar.  Dengan sakit yang lebih 1 tahun itu, aku merasa betapa mahalnya kesehatan. Betapa berharganya hidup tanpa penyakit.

Nikmat sehat dari Allah sungguh tak dapat dinilai dengan materi. Dengan kepasrahan dan rasa nerimo, aku tidak lagi berpikiran yang neko-neko. Cukup kesehatan yang mendasari kehidupan.

Serangan virus di syaraf otak, memang tidak terasa. Virus TORCH menyerang syaraf tubuh pelan-pelan. Maka hati - hati bila sering pusing, mudah masuk angin. Daya tahan tubuh menjadi lemah dan ambruk. Aku menikmati kesehatan yang prima saat ini. Sirna sudah penyakitku. Berat tubuhku sekarang 68 kg.

Kerapkali aku mendampingi Pak Juanda atau Bu Bambang dalam kesaksian di TVRI atau pada pertemuan dengan pasien-pasien yang masih berobat. Aku mendapatkan hikmah untuk berbagi pada sesama, berbagi pengalamanku saat didera sakit dulu.


   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
C2L         R95      
1 Y    O      H   8NI
KA8   FT7     R      
  K    Q      H   SU6
IXD           P      
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >