Beranda arrow Kesaksian arrow ANAKKU SELALU KEJANG
Newsflash
JADWAL PRAKTIK
AQUATREAT 2012
 
 
Read more...
 
Menu Utama
Beranda
INFO Torch
News
Kesaksian
Jadwal Praktik
Kontak Kami
Menu Religi
Buletin Tarbiyah
Dakwah
Komentar Terbaru
Epilepsi, Bagaimana Jalan...
Operasi
Adik saya usia 5 tahun pernah jatuh...
30/01/12 03:49 Selengkapnya...
Oleh: Ephron

Jadwal Praktik 2012
lahir tanpa tempurung kepala
ass.. nanya pak, ada nggak hubungannya...
27/01/12 22:22 Selengkapnya...
Oleh: anggraini marsyal

Jadwal Praktik 2012
telah ada di Semarang
Terima kasih telah membuka praktek di...
23/01/12 21:47 Selengkapnya...
Oleh: Heri Stiyawan

9 Tahun Menanti Buah Hati
pertanyaan tentang epilepsi
Assalmualikum Ir.H.A. Juanda saya...
23/01/12 01:21 Selengkapnya...
Oleh: Ahmad Hanif

Dokter Memvonis Aku,...Tak...
semangat buat ibu
Allahuakbar..... ibu sungguh tegar...
18/11/11 22:28 Selengkapnya...
Oleh: arisna_kalimantan

Jadwal Terbaru
No events
ANAKKU SELALU KEJANG PDF Print E-mail
Wednesday, 12 March 2008
 

Teguh Sumarsono & Dwi Retnawati

SEPANJANG MASA KECILNYA ANAKKU SELALU KEJANG

Kebahagiaan menyambut kelahiran anak pertamaku tiba- tiba menjadi kecemasan. Dokter mengatakan air ketuban di rahimku telah kering. Lebih tragis, bayiku lahir dengan kulit tubuh terkelupas. Pada usia tiga hari, ia kejang, dan sepanjang masa kecilnya, anakku tak lepas dari kekejangan.


Seingatku, selama kehamilan sembilan bulan,  kandunganku sehat-sehat saja. Tak ada keluhan berarti yang membuatku harus ke dokter. Semua berjalan mulus. Setiap bulan aku periksa dokter dan selama masa kehamilan aku minum vitamin.

Dengan latar belakang kehamilan yang baik, aku tak mengira, mengapa terjadi masalah saat aku melahirkan? Sore itu, pukul 17.00 aku merasa bayi dalam kandunganku berontak dan mendesak seakan mau keluar. Perutku mulai mules, dan suami membawaku ke rumah sakit Karyadi.

Proses kelahiran bayiku terpaksa ditolong dengan cara vakum. Kandunganku saat itu sudah berusia 9 bulan 2 minggu, sudah lebih 14 hari dari perkiraan dokter dan umur kelahiran bayi yang rata- rata 9 bulan dalam kandungan. Ketubanku sudah pecah lebih dahulu, tak dapat dielakkan, bayiku lahir dengan ketuban yang sudah kering. Semula kukira suatu yang biasa-biasa saja, kelahiran dengan ketuban yang telah kering. Namun ternyata bayiku yang lahir dengan berat badan 2,8 Kg dan panjang 51 cm ini, kulitnya bahkan terkelupas. Dokter belum sempat mendiagnosa, mengapa kulit bayiku “glodoh”? Tiga hari kemudian, bayiku malah kejang, padahal  suhu tubuhnya tidak tinggi.

Akhirnya bayiku dirawat di dalam inkubator. Aku terpaksa memperpanjang istirahat 2 hari di rumah sakit untuk menunggui bayiku. Saat dokter memperkenankan aku pulang, aku tetap datang tiga jam sekali ke rumah sakit untuk menyusui bayiku. Setelah kupikir tak guna diam di rumah dengan pikiran bimbang, aku memutuskan kembali tinggal di rumah sakit, menyewa kamar sendiri agar selalu dapat memantau perkembangan bayiku.

MENGGANGGU SYARAF OTAK

Pertumbuhan masa kecil Ferdyan menghadapi hambatan yang cukup serius. Perhatianku dan suami, sepenuhnya tertuju pada keselamatan Ferdyan. Secara fisik, ia tidak mengalami gangguan pertumbuhan. Tubuhnya berkembang normal seperti anak-anak seusianya, bahkan ia termasuk anak yang gemuk. Gerakannya lincah, dan tuturan katanya jelas. Hambatan yang mengganggu Ferdyan, kerap kali ia menderita kejang. Sehingga kurasakan, pengaruh kejang menyerang syaraf otaknya. Akibatnya ia lambat belajar dan tidak cepat respon menangkap pelajaran.

Masa kanak- kanak Ferdyan sungguh mencemaskan. Hampir setiap waktu Ferdyan kejang- kejang. Pada awalnya, aku dan suami gugup, bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan menghadapi situasi gawat itu. Kubawa Ferdyan ke dokter spesialis anak khusus syaraf. Dokter memberi obat- obatan luminal, feril, isotropil dan vitamin. Semakin tambah umur Ferdyan, semakin besar dosis yang diberikan.

Aku mulai mencatat, kapan Ferdyan kejang. Apa penyebab awal yang mendorongnya, dan aktivitas apa yang dilakukan Ferdyan setiap hari yang memungkinkan ia kejang. Ternyata, Ferdyan kerapkali kejang pada saat tidur malam, yakni dini hari antara pukul 3.00 - 4.00 menjelang pagi. Tiba-tiba saja mata Ferdyan melotot, lalu matanya berkedip-kedip dan tubuhnya mengejang keras. Kuusahakan saat itu mulutnya tidak mengatup, apa saja yang ada didekatku, sapu tangan, kain atau sendok, kugunakan untuk menyumpal mulutnya agar giginya tidak mengatup. Kejang yang dialami Ferdyan, tidak dapat diprediksi sebelumnya. Tubuh Ferdyan biasa saja, tidak sakit dan tidak panas.

Aku dan suamiku terus menerus membawa Ferdyan ke dokter. Sejak bayi merah, kami membawanya ke dokter Cipta Bahtera, spesialis anak khusus syaraf. Dari 0 sampai 6 tahun, tak ada perubahan yang berarti. Ferdyan seperti robot saja, tidak bisa lepas dari obat. Satu hari, ia harus mengonsumsi obat tiga kali,  lalu setelah beberapa waktu dikurangi menjadi dua kali.  Tetapi kalau ia kejang, dosisnya kembali ditambah. Aku harus menjaga Ferdyan, agar ia selalu dalam kondisi yang vit dan selalu sehat. Kalau Ferdyan sehat, ia dapat mengurangi obat kejangnya.

Setelah beberapa waktu kucermati, Ferdyan dapat kejang kalau ia terlalu lelah, udara yang terlalu panas atau dingin, atau ia letih seusai main playstation. Lama kejang biasanya 5 sampai 7 menit, biasanya bagian tangan kanan yang selalu kejang, itu artinya kontak syaraf ke otak. Pada saat kejang selain menjaga agar mulutnya tidak terkatup, ia kumiringkan agar dahaknya keluar. Kalau aku tertidur,  tak mengetahui saat ia kejang, pasti pagi harinya ia muntah-muntah. Aku memang tak pernah membiarkan Ferdyan tidur sendiri, sejak kecil ia selalu tidur bersamaku, selalu dalam pengawasanku dan ayahnya.

Suatu hari, salah seorang saudara menyarankan agar aku pindah ke dokter Bambang Hartono, dokter ahli anak spesialis syaraf juga. Dokter  Bambang menyarankan agar aku memasukkan Ferdyan ke SLB. Waktu itu Ferdyan sudah kumasukkan sekolah umum. Usia 4 tahun, ia kumasukkan TK, lalu usia 6 tahun masuk SD umum. Sayangnya, Ferdyan tidak mapu menyerap pelajaran, sampai akhirnya ia tidak naik kelas. Akhirnya ia kupindahkan ke SD yang muridnya lebih sedikit, agar ia bisa lebih diperhatikan oleh gurunya-gurunya.

Tetapi memang dasarnya Ferdyan memiliki hambatan belajar, akhirnya meski dengan perasaan yang amat berat, tidak tega, aku  terpaksa memasukkan Ferdyan di SLB. Sudah  kuupayakan melalui les, ternyata Ferdyan memang sulit menyerap pelajaran. Dengan perasaan berat, aku mencoba memenuhi saran dokter Bambang, memasukkan Ferdyan ke SLB YPAC Semarang. Mulanya, ia masuk ke C1, namun tampaknya ia lebih cerdas dari teman-teman di kelasnya, sehingga ia mudah menyelesaikan pelajaran, lalu ia mengganggu temannya yang sedang menyelesaikan soal. Akhirnya Ferdyan dimasukkan kekelas C, di kelas ini Ferdyan mendapat tantangan yang membuat ia belajar serius.

BEROBAT KE KLINIK TORCH PAK JUANDA

Walaupun Ferdyan dapat mengikuti pelajaran normal, namun tetap saja ia selalu kejang di waktu dini hari dan tetap perlu pengawasan agar ia tidak capek, letih, kedinginan, kepanasan, bahkan menghindari tatapan matanya dari lampu kelap-kelip di jalan. Kalau kuajak jalan-jalan, ia masih menutup mata dan tidak mampu melihat lampu yang kelap-kelip di jalan.

Sampai kelas 5, Ferdyan tetap tak berubah. Ada kecemasan di hatiku, bagaimana masa depan Ferdyan kelak? Setiap saat aku berdoa agar Allah memberi kesembuhan total pada anakku. Dalam sujud saat tahajud, aku selalu meminta, agar aku memiliki kesempatan merawatnya menjadi anak mandiri, mohon agar Tuhan memberiku umur panjang agar selalu dapat mengurus anakku.

Demi masa depannya, aku dan ayahnya berjuang agar tetap punya dana untuk mengobatinya. Setiap bulan aku harus mempunyai uang 1 juta rupiah, untuk konsultasi dokter dan menebus resep obatnya. Realita ini memacu semangatku dan suami, bekerja agar dapat membiayai pengobatannya. Aku sendiri bekerja di Dinas Kesejahteraan Sosial Jawa Tengah, dan suami juga di lingkungan pemerintah daerah.

Suatu hari teman sekantor, adiknya mengalami keguguran. Ia menyebut nama Pak Juanda dan bercerita tentang kiprahnya, yang tidak hanya mengobati orang yang sulit hamil dan gagal hamil, tetapi juga anak-anak autis, gangguan syaraf dan lain-lain. Aku segera mengirim SMS, meminta penjelasan tentang pengobatan yang ditekuninya. Soalnya aku tak mau berobat pada paranormal yang tidak logis.

Melalui telepon aku memaparkan kondisi Ferdyan. Pak Juanda, cepat menyimpulkan “Anak ibu terkena TORCH. Segera ke laboratorium untuk uji darah.” Dengan hasil laboratorium itu, aku datang ke Pak Juanda. Diketahui Ferdyan mengidap Rubella, 8,1 dan CMV 33, ia positif kena TORCH.

Yang membuatku heran, hal ini tidak terpantau oleh dokter selama lebih 10 tahun. Setiap kutanya tentang Ferdyan dokter mengatakan listrik otak Ferdyan tidak normal. Sudah 12 tahun lamanya aku berjuang untuk menyembuhkannya.  Hari itu, 5 Maret 2005  aku datang pada Prof. Juanda yang memberi minuman Aquatreat Therapy sebagai obat Ferdyan yang di minum dengan madu.

Selama 2 minggu Ferdyan minum Aquatreat Therapy dan hanya minum obat dokter 2 kali saja.  Sedikit demi sedikit aku melepas obat dokter dari Ferdian yang biasanya satu hari 3 kali minum obat, kukurangi 2, lalu 1, dan akhirnya pada  tanggal 25 April ia sama sekali berhenti minum obat dokter. Tanggal 8 Mei, ia kelelahan usai main Play Station (PS) malamnya ia kejang agak berat selama 15 menit. Kembali ia minum obat dokter sehari sekali selama 3 hari. Hanya 10 hari kemudian, setelah main PS ia kembali letih lalu kejang pada pukul 22.00 selama 7 menit. Saar itu, aku tidak lagi memberinya obat dokter.  

Tanggal 25 dan 27 Mei Ferdyan kembali kejang, namun aku tak memberinya obat-obat kimia lagi. Setelah 44 hari minum Aquatreat Therapy, ramuan Pak Juanda, kondisi Ferdyan semakin sehat. Ferdian tidak pernah kejang lagi. Ia minum obat dengan mudah dan tak pernah mengeluh. Anak keduaku lahir sehat dan kuberi nama Faldyan, kini berusia 8 tahun.

Ramuan dari Pak Juanda, dikonsumsi selama 6 bulan. Setiap bulan kami mengambil ramuan satu botol besar. Perkembangan kesembuhan Ferdyan memang luar biasa. Aku sujud syukur pada Allah, kemajuan kesehatan yang diperoleh Ferdyan memang sangat cepat. Kini ia tidak pernah kejang lagi, matanya tidak sakit lagi melihat lampu yang kelap-kelip dijalan. Setelah 6 bulan minum obat, Ferdyan dinyatakan sembuh, Aku membuat acara syukuran dan pengajian di rumah, aku memperoleh hikmah yang besar, yakni, kesabaran.

Kini Ferdyan duduk di kelas 6, ia selalu sehat, lincah dan bersemangat. Aku terus memacu tekad dan semangatnya. Semoga setiap ujian Tuhan dapat kami lalui untuk mencapai kebahagiaan.


   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
1           9TW      
Q X    1    D L   9OG
EGT   4HF   RMT      
  Y    1    Y G   3LT
  T         B8T      
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >