Arismantoro ANAKKU SEMBUH DARI RADANG OTAK PADAHAL DOKTER MEMVONIS AKAN CACAt SEUMUR HIDUP Selama lebih empat tahun keluarga Arismantoro dirundung cemas yang tak berkesudahan. Semenjak bayi, Indika, anak mereka sering sakit-sakitan. Jika demamnya tinggi, bibirnya bergerak-gerak sendiri, mata terasa perih dari hidungnya selalu meleleh cairan bening. Menurut dokter anak ini mengalami gangguan pada radang otaknya. Kalau pun sembuh, seumur hidupnya ia bisa cacat. Beruntung mereka menemukan pengobatan Aqua Therapy dari klinik Prof DR H Juanda. Lambat-laun Indika membaik. Pertumbuhan fisiknya tidak mengalami gangguan sama sekali. Gantian Arismantoro jatuh sakit. Pria dua anak ini diduga mengalami gangguan kejiwaan. Ternyata lewat pengobatan yang sama, penderitaan Arismantoro dapat disembuhkan.
Sekarang usia Indika delapan tahun. Puteri kami ini sudah sekolah di kelas 2 SD. Melihat fisiknya yang sehat seperti sekarang ini, mungkin tidak seorang pun akan mengira kalau semenjak bayi ia sering sakit-sakitan. Ketika Indika masih kecil, kami sering dibuat khawatir. Bahkan pernah parah. Yang ada dalam pikiran kami ketika itu, anak kami ini tidak akan berumur panjang. Setiap kali terserang demam, suhu tubuh Indika bisa sekonyong-konyong meninggi. Dalam keadaan seperti itulah, tubuhnya menjadi kaku, dan bibirnya bergerak -gerak tak beraturan. Pernah beberapa kali sampai kejang-kejang. Karena bolak-balik seperti itu, dokter menyarankan agar paru-paru Indika dirontgen. Menurut dokter, Indika kena flek. Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, keadaannya baru agak membaik. Selama setahun Indika rutin minum obat dari dokter. Sesuai anjuran dokter, pada usia dua tahun, Indika sudah boleh menghentikan obatnya. Tapi apa yang terjadi. Setelah obatnya dihentikan, demamnya malah kambuh lagi. Tidak ubahnya seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagi-lagi setiap kali demam, kami jadi panik. Masalahnya, kalau lagi demam suhu tubuhnya cepat sekali meninggi, dan disusul dengan kejang-kejang. Khawatir semakin bertambah parah, kami buru-buru membawanya ke rumah sakit. Setiap kali mengingat kejadian semacam itu, rasanya ngeri sekali. Kami tidak mau lagi mengalami peristiwa mengenaskan itu untuk yang kedua kalinya. Biasanya, setiap kali pulang dari rumah sakit, keadaan Indika tampak membaik. Namun kami masih saja dihantui perasaan cemas. Sebab ia sekoyong-koyong bisa demam tinggi. Bisa dipastikan hampir setiap minggu demikian. Sudah tidak bisa dihitung lagi, entah berapa kali saja kami panik gara-gara Indika mendadak demam tinggi. Dan seperti yang sudah-sudah, kami segera melarikannya ke rumah sakit. Tak perduli apakah ketika itu sedang pagi buta, atau tengah malah sekalipun. Aku merasa nyaman jika Indika sudah berada di rumah sakit. Herannya, meski anak ini sakit-sakitan, keadaan itu tidak mempengaruhi pertumbuhan motoriknya. Indika tumbuh seperti anak-anak seusianya, lucu dan lincah. Cuma karena tidak doyan makan, tubuhnya tampak kurus. Praktis ketika Indika masih bayi, kehidupan rumah tangga kami selalu diselimuti rasa khawatir yang berkepanjangan. Benar-benar ini suatu ujian yang amat berat yang pernah kami alami. Kekhawatiran kami tentang penyakit Indika menjadi mimpi buruk yang tak pernah usai. Herannya, kenapa penyakit Indika tidak juga kunjung sembuh, padahal dokter telah memberikan berbagai obat untuk mengatasi penyakitnya . Kekhawatiran kami agak sedikit terobati, mengingat Indika ternyata bisa melewati hari-harinya hingga usia empat tahun, meskipun dalam keadaan sakit terus-menerus. Usianya semakin bertambah, namun penyakit yang dideritanya masih seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan bisa dikatakan tidak berkurang sama sekali. Itu artinya kami masih terus dibuat cemas. Dokter yang selama ini merawatnya, sudah tidak tahu akan memberikan obat apalagi agar Indika bisa benar-benar sembuh. Setiap mulai demam, lalu disusul suhu tubuh meninggi, kami diliputi ketakutan ia akan pergi untuk selamanya. Kekhawatiran itu masih terus menyelimuti pikiran kami, meski Indika sudah berada dalam perawatan dokter sekalipun. Masalahnya Indika sudah bolak-balik ke dokter, dan belum pernah benar-benar sembuh hingga tahun berganti tahun. PERTUMBUHAN FISIK INDIKA AKAN TERGANGGU Kegetiran demi kegetiran kami lalui dengan tabah Demam yang sering menyerang Indika menyebabkan dokter memvonis, usia Indika tidak akan lama lagi. “Andaikan suatu ketika anak ini sembuh, pertumbuhan fisiknya akan mengalami gangguan,” begitu kata dokter yang selama ini menangani Indika. Aku tak perduli apa kata dokter. Sebagai umat beragama aku tetap optimis, jika Tuhan memberikan penyakit pasti Ia juga akan memberikan penawarnya. Saking seringnya aku membawa Indika ke rumah sakit, status data penyakit Indika sudah menumpuk. Dokter sampai geleng-geleng kepala. “Status penyakit setebal ini, pantasnya dimiliki oleh orang yang sudah tua,” gumam dokter suatu hari. Lebih dari empat tahun, kekhawatiran kami terus-menerus diuji. Setiap kali obatnya habis, penyakit Indika kambuh lagi. Selain demam, juga pilek. Kalau sudah pilek hidungnya selalu meler dan tidak pernah sembuh. Belakangan penyakitnya semakin bertambah parah. Selain frekuensi demamnya semakin sering, Indika mengeluh matanya terasa perih. Obat yang diberikan dokter sudah tidak banyak lagi dapat membantu penyakitnya. Indika tidak pernah betul-betul sembuh. Kalau demamnya sedang tinggi, ingin rasanya aku mengalihkan penyakitnya, agar aku saja yang sakit. Sebab kalau lagi demam tinggi, Indika kelihatan menderita sekali. Tapi herannya, setiap kali sembuh, Indika seperti anak sebayanya. lincah bermain ke sana-kemari. Suatu hari aku iseng-iseng membawa Indika ke pengobatan alternatif. Barangkali lewat cara pengobatan seperti ini bisa sembuh. Namun setelah beberapa lama, tak ada perkembangan dengan pengobatan itu. Lama-kelamaan, aku mulai letih menghadapi penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Padahal segala daya upaya sudah dilakukan. Selain ke dokter, aku sudah membawanya ke beberapa pengobatan alternatif. Aku jadi kepikiran, jangan-jangan penyakit anakku ini memang sudah tidak bisa sembuh sama sekali. Artinya sepanjang hidupnya ia akan terus-menerus mengalami demam tinggi. Pikiran dan tubuhku semakin letih. Untungnya biaya pengobatan Indika selama ini ditanggung oleh perusaahaan tempatku bekerja. Sehingga kami tidak terlalu terbebani. Sebagai karyawan di salah satu rumah sakit di Yogya, dalam pengobatan Indika, aku memperoleh banyak keringanan. Hal ini tentu saja amat menolong ekonomi rumah tangga kami. PENGOBATAN ALTERNATIF Suatu hari iseng-iseng aku nyetel televisi. Kebetulan pagi itu ada acara mengenai pengobatan alternatif. Setelah aku ikuti, aku jadi penasaran, ingin mengetahui lebih detil tentang pengobatan TORCH. Jangan-jangan pengobatan yang tengah aku dengar ini dapat menyembuhkan penyakit Indika, begitu pikirku penasaran. Keesokan harinya aku langsung mendatangi alamat pengobatan alternatif yang kutonton di televisi. Aku masih ingat ketika pertama kali aku membawa Indika berobat pada Pak Juanda. Beliau menyembuhkan penyakit TORCH dengan ramuan alami, dari daun, akar, dan buah. Ketika itu 29 Mei 2004, di hadapan Pak Juanda, aku ditanya berbagai hal mengenai penyakit Indika. Ibu Bambang, wanita yang juga ada di tempat pengobatan alternatif itu menganjurkan agar darah Indika sebaiknya diperiksa ke laboratorium. Pemeriksaan darah yang dianjurkan, khusus yang menyangkut virus TORCH (toxo, rubella, VMC dan herpes). Hasil pemeriksaan dari laboratorium tidak segera aku tunjukkan kepada Pak Juanda. Sebagai orang yang banyak mengenal dokter, aku terlebih dulu mengonsultasikannya ke dokter yang ada di rumah sakit, yang selama ini menangani penyakit Indika. Namun mendengar penjelasan dokter aku merasa tidak puas. Sebab hasil lab itu, katanya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dengan rasa tidak puas, kemudian aku membawa hasil lab itu kepada Pak Juanda. Hasil pemeriksaan TORCH-nya itu tercatat, toxo 5,7 Rubella 3,78 dan CMV 66,50. Menurut Ibu Bambang, Indika sebaiknya setiap hari minum Aquatreat Therapy sebanyak 60 ml. “Mudah-mudahan ini memang jalan Tuhan menjadikan Indika sembuh,“ begitu kata hatiku. Setiap pagi, dengan susah payah aku membangunkan Indika. Masalahnya cairan Aquatreat Therapy ini harus diminum dalam keadaan perut masih kosong. Setelah diminum selama satu minggu, Indika kelihatan agak membaik. Pileknya jadi mampet. Aku jadi semakin yakin, untuk meneruskan pengobatan ini. Meski untuk pengobatan cara ini aku tidak bisa mengajukan biaya penggantian di tempatku bekerja, bagiku tidak masalah asal anakku bisa sehat. Selama tiga bulan Indika rutin mengonsumsi cairan Aquatreat Therapy. Aku dan isteri bergantian membangunkan Indika setiap pagi guna minum obat. Setelah Indika mengonsumsi selama tiga bulan, keajaiban itu terjadi, kesehatan fisik anak kami semakin segar. Bukan saja pileknya yang sembuh. Ia tidak pernah demam tinggi lagi, bibirnya yang selama ini bergerak-gerak otomatis sejak itu tidak pernah kami lihat lagi. Untuk membuktikan apakah penyakit Indika sudah benar-benar sembuh, pemeriksaan lab diulang kembali. Hasilnya sungguh luar biasa, perjuangan kami membangunkan Indika setiap pagi untuk meminumkan Aquatreat Therapy ternyata tidak sia-sia. Indika kini terbebas dari virus TORCH. Tak terlukiskan betapa bahagianya kami mendapatkan Indika sembuh dari penyakit. Kekhawatiran kami terhadap fisiknya atau pikirannya yang akan terganggu ternyata tidak terbukti. Indika justru menjadi bintang kelas, ia mendapat peringkat ke satu di kelasnya. UJIAN LAIN PUN DATANG Kesembuhan Indika adalah suatu kebahagiaan yang tak terlukiskan bagi keluarga kami. Namun belum apa-apa, ujian lainnya menyusul datang. Kalau akhirnya aku berhasil dengan sekuat tenaga memperjuangkan kesembuhan penyakit Indika, kini giliran aku sendiri yang terjerat dalam musibah penyakit. Waktu itu sekitar bulan Juni 2004, entah kenapa aku merasa sering tidak enak badan. Sekonyong-konyong aku jadi pemalas. Aku sama sekali enggan melakukan aktifitas. Dan lama-kelamaan ada semacam rasa rendah diri bercokol dalam diriku. Aku jadi mudah cemas, rasa percaya diri hilang, minder. Perubahan yang aku alami ini akhirnya membuat diriku jadi sulit berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingku. Belakangan hari, kepalaku juga ikut-ikutan terasa pusing. Sebagai pegawai rumah sakit, aku kontrol ke dokter. Menurut dokter, aku mengalami gangguan kejiwaan. Aneh, kenapa aku bisa berubah seperti ini. Untuk mengurangi penderitaanku dokter memberi sejumlah obat. Karena belum sembuh juga, aku diberikan obat lainnya. Entah sudah berapa kali aku ganti obat, namun keadaan kejiwaanku masih belum stabil. Akhirnya aku jadi malas minum obat, apalagi dokter lainnya menyarankan agar aku tidak minum terlalu banyak obat, sebab efeknya akan membahayakan diriku sendiri. Aku jadi serba salah. Akhirnya obat-obat itu menjadi koleksi di dalam laci. Setiap kali kontrol, dokter selalu mengatakan penyakitku ini tak lain adalah depresi. Aku heran kenapa aku bisa mengalami penyakit seperti ini. Padahal selama ini aku dikenal laki-laki yang tegar dan mudah bergaul. Setiap kali ada kegiatan di kantor maupun di rumah, aku selalu aktif. Tapi entah kenapa belakangan ini kejiwaanku mengalami gangguan. Aku jadi pendiam. Pernah selama sebulan aku tidak bisa masuk kerja, karena pikiranku benar-benar terganggu. Walaupun aku mengalami penyakit yang aneh ini, aku berupaya mencari penyembuhan. Selain terus-menrus konsultasi ke dokter, aku juga mendatangi pengobatan alternatif termasuk pijat refleksi yang sempat aku lakukan selama dua bulan. Aku juga pernah mendatangi seorang santri. Oleh santri itu aku diberi doa-doa dan air penyembuh. Mungkin melalui doa pikiranku bisa tenang kembali. Ternyata jiwaku masih tetap sakit. Aku jadi sering melamun. Teman-temanku tentu saja heran melihat perubahan yang aku alami. Aku seperti orang linglung. Ada yang mengatakan, jangan-jangan aku terkena guna-guna, santet atau semacamnya. Seingatku selama ini aku tidak pernah memiliki musuh atau punya masalah dengan orang-orang di sekelilingku. Khawatir kalau aku memang terkena guna-guna, aku melakukan ruwatan. Buang sial, begitu kata orang Jawa. Suatu ketika, aku teringat ibu Bambang, seorang wanita yang membantu Pak Juanda di saat praktek. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran, jangan-jangan aku juga bisa sembuh dengan minum Aquatreat Therapy. Aku mendatangi tempat praktek Pak Juanda di Jalan Sidikan Yogyakarta sekitar bulan Februari tahun 2005. Ibu Bambang sempat heran melihat kehadiranku. Selain kurus, menurut pengamatannya, sikapku agak aneh, tidak seperti yang ia kenal beberapa waktu lalu. Aku jelaskan apa yang aku alami belakangan ini. Seperti halnya anakku Indika, aku diharuskan melakukan tes darah. Hasilnya sungguh mengejutkan, ternyata aku terserang virus TORCH. CMV 74, toxo 23,7 dan Rubella 170,7. Ibu Bambang menganjurkan aku minum Aquatreat Therapy. Aku begitu yakin, dengan ramuan ini aku bisa sembuh, apalagi jelas-jelas aku mengidap virus TORCH. Setelah minum obat selama empat bulan berturut-turut aku betul-betul sembuh. Hasil cek ulang laboratorium menunjukkan virus TORCH yang semula bersarang dalam tubuhku sekarang sudah jauh berkurang. Selanjutnya aku tinggal menjalani pemulihan, penyesuaian diri terhadap lingkungan. Pikiran yang selama ini merasa terbebani, menjadi ringan. Betapa bahagianya diriku bisa kembali sehat seperti sedia kala. Tidak terlukiskan rasa terima kasih kami terhadap Pak Juanda dan Ibu Bambang serta seluruh staf yang ada di Klinik TORCH, dengan pertolongan mereka, Indika dan diriku bisa pulih dari penyakit. |
a
By: a () on 14-07-2010 09:13