Beranda arrow Kesaksian arrow Anakku Lahir Buta dan Tak Memiliki Ubun-ubun
Newsflash
JADWAL PRAKTIK
AQUATREAT 2012
 
 
Read more...
 
Menu Utama
Beranda
INFO Torch
News
Kesaksian
Jadwal Praktik
Kontak Kami
Menu Religi
Buletin Tarbiyah
Dakwah
Komentar Terbaru
Epilepsi, Bagaimana Jalan...
Operasi
Adik saya usia 5 tahun pernah jatuh...
30/01/12 03:49 Selengkapnya...
Oleh: Ephron

Jadwal Praktik 2012
lahir tanpa tempurung kepala
ass.. nanya pak, ada nggak hubungannya...
27/01/12 22:22 Selengkapnya...
Oleh: anggraini marsyal

Jadwal Praktik 2012
telah ada di Semarang
Terima kasih telah membuka praktek di...
23/01/12 21:47 Selengkapnya...
Oleh: Heri Stiyawan

9 Tahun Menanti Buah Hati
pertanyaan tentang epilepsi
Assalmualikum Ir.H.A. Juanda saya...
23/01/12 01:21 Selengkapnya...
Oleh: Ahmad Hanif

Dokter Memvonis Aku,...Tak...
semangat buat ibu
Allahuakbar..... ibu sungguh tegar...
18/11/11 22:28 Selengkapnya...
Oleh: arisna_kalimantan

Jadwal Terbaru
No events
Anakku Lahir Buta dan Tak Memiliki Ubun-ubun PDF Print E-mail
Wednesday, 12 March 2008
 

Shirly Pemelia

CMV DAN RUBELLA Membuat Anakku Lahir Buta dan Tak Memiliki Ubun-ubun

Kehamilanku yang sehat, ternyata tidak menjamin bayiku lahir dengan sehat pula.  Saat bayiku berusia 2 bulan, baru kuketahui, tak ada respon pada matanya. Ia selalu muntah saat minum susu, dan ternyata kepalanya tidak punya ubun-ubun. Virus CMV dan Rubella telah merusak pertumbuhannya di rahimku.

Kebahagiaan dengan kelahiran Kinanti pada tanggal 3 April 2002, ternyata menjadi ujian hidup yang tak akan kulupakan. Aku tidak pernah mengira, janin yang kukandung selama 9 bulan lahir dengan membawa kemalangan dan hanya bertahan hidup selama 1 tahun. Perih rasanya, bila mengenang saat-saat indah yang tiba-tiba direnggut malapetaka. Padahal selama hamil, tak ada keluhan berarti yang kurasakan.

Waktu itu bayi perempuanku lahir normal, 2,81/2 kg dan panjang 51 cm. Secara lahiriyah, ia tampak sehat. Aku menimangnya dengan cinta. Pekerjaanku di sebuah biro penerbangan di Bali, memberiku cuti yang cukup untuk menemani bayiku tumbuh kembang, merawat dan menyusuinya.

Saat Kinan berusia 2 bulan, aku merasa ada yang aneh pada bayiku. Sering kupanggil namanya saat terbaring atau saat menyusui, namun pandangannya seolah tak fokus, dan bola matanya bergerak ke sana kemari tanpa arah, tak ada respon yang baik dari tatapannya. Aku segera membawanya ke dokter, lalu dokter umum merujukku ke dokter mata.

Setelah diteliti, dokter memvonis, putriku tak bisa melihat. Ya, anakku buta. Kesedihan mengoyak hatiku. Suamiku tertunduk bisu menyimpan haru. Kebahagiaanku seakan runtuh, tetapi suamiku menghibur, masih banyak usaha yang dapat ditempuh untuk menyembuhkan Kinan. Dia masih bayi, dengan usaha maksimal Insya Allah  Kinan dapat disembuhkan.

KINAN TAK MEMILIKI UBUN-UBUN    

Saat itu aku tinggal di Bali, dan keluargaku tinggal di Surabaya. Jauh dari orang tua, memang tak ada yang dapat ditanya tentang pertumbuhan bayiku. Apalagi saat bayiku selalu muntah seusai minum susu. Aku mulai panik. Muntahnya mulai serius, karena keluar dari mulut dan hidung. Aku sempat bertanya pada ibu-ibu tetangga, jawabannya cukup menentramkan, katanya bayi biasa muntah usai minum susu, karena perutnya tidak cukup menampung. Tetanggaku menganjurkan agar pemberian susu pada Kinan dibatasi.

Segera kuikuti saran mereka, meski Kinan sangat kuat minum susu, aku mulai mengurangi. Sekali minum, kuberi 60 cc. Namun pemberian susu yang sedikit itu pun dimuntahkan lagi. Kata dokter kalau sampai keluar dari hidung, bahaya bagi paru-parunya. Harus dijaga dengan baik. Aku merasa takut, lalu  aku membawa Kinan yang baru berusia 3 bulan ke dokter spesialis anak. Dokter anak mendiagnosa, kinan menderita infeksi usus, masuk angin, dan kembung. Seminggu sekali aku membawa Kinan ke dokter anak, namun hasilnya sia-sia.

Tanpa perasaan putus asa aku kembali mencari dokter yang tepat untuk Kinan. Sore itu aku datang ke spesialis anak Prof. Suciningsih, ahli tumbuh kembang anak. Waktu dokter Suci melihat Kinan, belum sampai kulepas topinya, dokter sudah bisa menebak. “Bu, kepala anak Ibu kelihatannya ada masalah,” ucapnya. Dokter suci segera merujuk pengobatan Kinan dengan menyuruh CT-Scan dan melakukan pemeriksaan laboratorium. Namun aku memilih membawa Kinan kembali ke Surabaya, karena di sana ada ibu dan keluargaku.

Kembali ke Surabaya aku langsung berkonsultasi ke dokter pribadi keluarga. Setelah beberapa saat memeriksa, dokter segera menyuruh Kinan opname. Batok kepala Kinan amat keras. Kata dokter, anak di bawah umur 1 tahun, harus ada ubun-ubun.  Walaupun Kinan sudah berusia 1 tahun, ubun-ubunnya masih terbuka, Cuma karena batok kepala keras, maka tidak terasa kalau dipegang. Dokter segera melakukan observasi. Kepala Kinan akan di operasi.

Dari hasil uji darah, diketahui Kinan mengidap TORCH (Toxo,Rubella, CMV, Herves). Rubella dan CMVnya menunjukkan angka 122. Kata dokter ahli bedah, kemungkinan ini terjadi karena faktor genetika. Kalau anak mengidap Rubella dan CMV, berarti ia memperoleh dari ibunya. Dokter menanyakan riwayat kehamilanku, kukatakan kehamilanku normal, seingatku hanya sempat demam 3 hari, saat hamil seminggu. Mungkinkah itu penyebabnya?

Ah terlalu dini untuk menyimpulkan, lebih baik aku konsentrasi untuk operasi Kinan. Disimpulkan penutupan batok kepala Kinan terlalu dini, sehingga tidak ada ruang untuk pertumbuhan otaknya.

Dokter tidak hanya memeriksa Kinan, akupun diminta memeriksakan darah ke laboratorium. Tak dapat kuhindari, ternyata aku juga mengidap Rubella dan CMV. Kinan di operasi selama 4-5 jam. Aku pasrah pada kehendak Allah, Allah tahu yang terbaik bagiku dan bagi Kinan. Usai operasi, aku harus menunggu 2 jam dalam pemulihan kesadarannya. Syukurlah kondisinya baik. Kinan langsung dibawa ke ruang perawatan. Selama 10 hari Kinan tinggal di rumah sakit. Pesan dokter, kalau nanti terjadi sesuatu baru Kinan dimasukkan ke ICU.

Setelah sembuh, Kinan kubawa  pulang kembali ke Bali. Cutiku sudah 2 setengah bulan, aku harus kembali bekerja. Perawatan Kinan membutuhkan perhatian yang penuh. Aku dan suami membagi waktu yang ketat, untuk perawatan Kinan, membawanya ke dokter dan mengatur makanan bergizi untuk kesehatannya.

KINAN KEMBALI PADA PENCIPTANYA

Tahun 2002, saat proses penyembuhan Kinan, mama telepon dari Surabaya. Beliau mengatakan ada siaran di TV yang mengetengahkan pengobatan alternatif. Pak Juanda yang dikenal sebagai ahli pengobatan TORCH, tengah mempresentasikan teknik pengobatan untuk penderita TORCH. Beliau menjelaskan latar belakang penyakit TORCH, sebab dan akibatnya, serta solusi yang ditempuhnya. Tidak ketinggalan beberapa pasien TORCH yang sembuh, juga mengungkapkan pengalamannya yang menarik.

Aku tergugah untuk datang konsultasi ke klinik pak Juanda yang ada di sebuah hotel di Denpasar-Bali. Aku dan Kinan memang mengidap TORCH, dan perlu berobat.  Tapi belum sempat konsultasi ke Pak Juanda, kondisi Kinan makin kritis. Rubella yang ada di tubuh Kinan naik turun dan kadang negatif. Namun entah mengapa CMV Kinan naik dengan drastis.

Menurut pengetahuan yang kuperoleh dari internet dan dokter, penderita CMV tidak boleh berada di udara panas. Virus CMV dapat berkembang dengan cepat. Waktu Kinan kubawa ke Bali saat berusia 1 bulan, tiba-tiba dia sakit panas, dokter sudah memberi peringatan, agar jangan sampai sakit panas, karena bisa naik kekepala dan bisa step atau kejang.

Udara Bali yang panas memang tidak dapat dielakkan. Kesehatan Kinan tidak pernah bisa sempurna 100%. Saat ia tumbuh gigi, panas tubuhnya kembali tinggi. Aku menjaganya amat hati-hati. Waktu panas, ia sempat kubawa ke rumah sakit Kasih Ibu dan ia dirawat selama 4 hari, namun panasnya tak kunjung turun. Ibu menyuruhku membawa Kinan kembali ke Surabaya. Kinan masuk rumah sakit, diperiksa CMVnya mencapai 2500.

Kinan hampir berusia 1 tahun, namun upaya-upaya yang kami tempuh tidak menunjukkan kemajuan. Pertumbuhan Kinan memang tidak normal, lingkar kepalanya kecil, belum bisa berjalan meski hampir berusia 1 tahun, ia tetap tergolek dipembaringan dengan tubuh yang gemuk.

Setelah pulang dari perawatan di rumah sakit, Kinan sempat sembuh selama 4 hari. Namun ia anfal lagi sampai koma. Selama 17 hari Kinan di rawat di rumah sakit. Cairan di otak Kinan semakin banyak, dan tidak bisa di sedot. Otak yang tidak berkembang itu berisi cairan. Waktu menunggu Kinan di rumah sakit, Dokter ahli bedah memanggilku. “Cepat saja punya bayi baru,  jangan terfokus pada Kinan. Insya Allah kalau Kinan panjang umur biar di jaga oleh adiknya,” saran dokter.

Aku tinggalkan pekerjaanku di Bali, aku tak pernah beranjak dari sisi Kinan. Kondisinya semakin kritis, ia kini menggunakan Tranfirator, alat bantu pernafasan. Dua kali Kinan anfal. Hembusan nafasnya semakin sesak. Namun tepat di hari ulang tahunnya yang pertama, 3 April 2003 Kinan tampak membaik. Suhu tubuhnya turun menjadi 36-37. Aku merasa, pijar-pijar harapan kembali muncul. Alat bantu pernafasannya, diperkenankan untuk di lepas.

 Alhamdulillah, rasanya hati ini sangat lega. Kinan dilatih untuk bernafas sendiri, namun baru setengah jam dilepas, Kinan anfal lagi, kondisinya kembali drop, ia kritis dan nafasnya tampak sesak. Aku segera menelepon Ibu.

“Ibu... Kinan kritis,” kataku gugup memberitahukan ibu. Tak lama ibuku datang, ia menghampiri Kinan, hanya sesaat ibu menatap cucunya, lalu Kinan meninggal tepat pukul 16.30 sore. Tak terasa air mataku menitik deras, perjuanganku menyelamatkan Kinan dari maut, tidak tercapai. Bolak-balik aku ke dokter, ternyata gagal. Penderitaan Kinan sudah mencapai puncaknya. Ia tak sanggup lagi bertahan hidup. Tuhan memberikan pilihan yang terbaik, kembali pada Penciptanya.

BEROBAT SERIUS PADA PAK JUANDA

Hari-hari duka menghempaskan aku dalam kehampaan, buah cintaku telah pergi untuk selamanya. Hidupku terasa kosong. Tak mungkin kembali ke masa silam, maka kuputuskan untuk menata hari-hari ke masa depan.

Aku kembali ke Bali dan mencari klinik Pak Juanda untuk berobat. Aku ingin menjadi sehat sebelum kembali hamil. Jangan sampai peristiwa yang pahit ini kembali kualami. Aku mulai minum ramuan  Aquatreat Therapy Pak Juanda selama 6 bulan.

Setelah dinyatakan sehat melalui tes laboratorium,  Rubella dan CMV-ku negatif, aku diperkenankan untuk melakukan program hamil. Dalam masa kehamilan  kedua ini, tetap saja aku di hantui rasa was-was. Selama masa hamil aku tetap minum Aquatreat Therapy dengan disiplin. Memasuki kehamilan 9 bulan, aku masih saja diliputi kecemasan, sehatkah bayiku nanti?

Aku bersyukur pada Allah, aku melahirkan dengan caesar pada tanggal 10 Oktober 2004. Anak kedua yang kuberi nama Yasmin ini, lahir sehat walafiat, dan sekarang ia berusia 13 bulan. Kembali aku sujud syukur kepada Allah dan terima kasih yang tiada terhingga pada Pak Juanda, karena melalui pengobatannya, virus Rubella dan CMV, bisa sirna dari tubuhku. Dengan kesembuhan itu, aku mampu mengandung dan melahirkan bayiku yang bebas dari TORCH (Toxo, Rubella, CMV, dan Herves).


   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 

Display 1 of 1 comments

Praktek Pak Juanda

By: Danang () on 18-08-2009 18:46

Praktek Pak Juanda

By: Danang ( IP 202.58.198.84) on 18-08-2009 18:46

Dear Ibu, 
Saya sangat salut atas pera juangan Ibu dalam mengasuh anak Ibu. Semoga Anda diberi kebaikan yang luar biasa oleh Allah SWT. 
 
Saya juga mempunya seorang anak Down Syndrome, yang sekarang ini berumur 9 bulan. Saya di Bali dan sedang mencari dokter anak yang tepat untuk anak saya, karena pertumbuhannya juga lambat.  
 
Kalau boleh saya tau, dimana tempat prakter Pak Juanda? 
 
Terima Kasih. 
 
Danang

 

» Report this comment to administrator

» Reply to this comment...

» See all 1 replie(s)

Display 1 of 1 comments



Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
DBT         PWJ      
C R    D    S     MSX
2FL   MAD   E7T      
  F    L    6 S   AYM
8AB         OFQ      
   
   



mXcomment 1.0.6 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >