Ny Sri Sugiarti Setelah Dua Kali Kulahirkan Bayi Cacat, DOKTER MEMVONIS AKU TAK BOLEH HAMIL LAGI Kebahagiaan melengkapi hidup Sri Sugiarti tatkala buah cintanya mulai bersemi di dalam rahim. Dari hari ke hari sepanjang masa 9 bulan, merupakan hari penantian yang diliputi harapan indah. Setiap kali dia dan suaminya menduga-duga, bayi lelaki atau perempuankah yang tengah tumbuh di perutnya itu? Pada prinsipnya, semua terserah Allah, bayi perempuan atau lelaki sama saja, karena semua terjadi atas ketentuan Allah Yang Maha Kuasa.
Menjadi ibu adalah impian setiap wanita. Tidak sempurna rasanya kalau dalam keluarga tidak terdengar celoteh kecil yang menggugah tawa dan kelucuan. Angan-angan indah itu selalu hadir dalam keseharianku tatkala bayi dalam kandunganku semakin besar. Tahun 1993 saat kelahirannya, yang kuperoleh ternyata realita pahit. Bayiku lahir dengan cacat bawaan yang disebut dokter Thana tofonic dwartism, yakni bentuk tubuh tidak proporsional. Dokter memperinci dalam catatan, batok kepala bayiku lembek nyaris seperti tidak memiliki rangka tulang kepala.uk tubuh, panjang kaki dan panjang tangan, pendek tidak sesuai dengan bayi normal pada umumnya. Jari-jari tangannya berjumlah 12, demikian pula jari kakinya. Antara jari dengan jari tampak dempet, baik jari tangan maupun jari kaki. Seluruh anggota tubuh tidak bergerak sama sekali, terkesan kaku, dan bayiku meninggal dunia setelah bertahan hidup selama 3 jam. Kesedihan menghempas diriku. Betapa berat ujian Tuhan untukku dan keluarga. Impian menjadi ibu yang telah kupupuk lama, tiba-tiba terhapus sirna dalam sekejap. Bayi yang kudambakan, telah kembali kepada Sang Pencipta. Suami dan keluargaku memberi support agar aku kuat dan tabah melalui hari-hari duka. Mereka meyakinkan kelak aku akan memperoleh bayi yang sehat dan sempurna. Aku memang harus tegar. Kutata semangat hidupku agar lebih optimis memandang kehidupan masa depan. Melihat dengan logika, mengapa bayiku lahir dengan cacat bawaan? Dokter segera membuat surat pengantar agar aku melakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Tanggal 10 Februari 1993, aku melakukan uji darah. Ternyata aku mengidap TORCH. Dokter segera memberi obat-obatan untuk melenyapkan virus yang mengidap dalam tubuhku. Sudah tiga tahun dalam pengobatan, dan aku harus menahan diri untuk tidak hamil. Baru tahun 1997 aku mulai hamil lagi. Kembali harapan-harapan indah menyemai di batinku. Tak pernah terlintas dalam pikiranku, ternyata saat memasuki kehamilan 17 minggu, kembali aku didera petaka, dokter menyatakan kandunganku Blighted ovum alias bayi tidak berkembang. Aku harus dikuret. Melalui USG diketahui bayi dalam kandunganku terendam darah, kalaupun ia sempat hidup, ia akan menderita sakit paru-paru. Dua kali musibah dalam hidupku membuka mata hatiku untuk ikhlas menerima ujian Tuhan. Pasti ada hikmah di balik musibah, maknanya adalah kesabaran. Aku meyakini bahwa sangat besar pahala hamba Allah yang bisa bersabar. Aku dan suami tetap memandang bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Jadi kalau ini berasal dari virus TORCH, aku akan terus minum obat yang diberikan dokter untuk mengenyahkan virus ini. Dokter spesialis yang menanganiku tetap setia membesarkan semangatku. Obat-obatan antibiotik kuminum dengan rutin. Aku harus tetap tegar, opotimis dan yakin suatu hari nanti Tuhan akan memberiku bayi yang sehat. BAYI KETIGA LAHIR CACAT Dua tahun berlalu, aku mulai hamil lagi. Kali ini harapanku berbunga. Aku menyemai harapan akan lahirnya seorang bayi yang sehat. Dua kegagalan pada kehamilan yang lalu, biarlah menjadi ujian yang menegarkan iman, karena tidak sesuatu pun terjadi tanpa kehendak Allah. Setelah dokter menyatakan aku positif hamil, aku mulai waspada untuk merawat calon bayi yang kini tengah tumbuh di rahimku. Dari hari ke hari aku memupuk harapan dengan doa kepada Tuhan, memohon agar bayi ketigaku ini sehat dan lahir dengan selamat. Trauma dan pengalaman pahit di masa lalu, berusaha kukikis, aku tidak mau ada kecemasan, ketakutan dan rasa was-was. Kuyakini diriku, kalau Tuhan menyemaikan benih cinta di rahimku, tentu Tuhan pula yang akan memberkahi dengan keselamatan. Meski siang malam sempat diliputi lintasan pikiran buruk dan kegamangan, aku harus positif thinking. Suami dan keluarga semua memberi semangat dan tak henti-hentinya memberi dukungan positif agar aku selalu gembira, tegar dan kuat. Sebagai hamba Allah, tak ada kekuatan yang dapat menentukan suatu kehidupan. Semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Pada saat hari kelahiran tiba, yang terjadi sungguh menghempasku dalam keputusasaan. Harapanku kembali luluh lantak. Harapan yang selama ini begitu indah mewarnai impianku, sesaat pudar dan sirna. Realita pahit kembali menerpa hidupku, menjadi cobaan berat yang makin menegarkan iman. Bayi yang kulahirkan kembali membawa cacat bawaan seperti bayiku yang terdahulu. Bentuk tubuhnya tidak proporsional. Bayiku lahir dengan kepala besar (hydrocephalus) Bentuk tubuh, panjang kaki dan panjang tangan tidak sesuai dengan bentuk bayi normal. Kaki tangan bengkok, Bentuk kelamin kecil nyaris tidak nampak. Apakah dia laki-laki atau perempuan, hanya Allah yang tahu. Jari kaki dan jari tangannya berjumlah 12. Dia meninggal dunia setelah dilahirkan 2 jam 30 menit. Tiga kali kegagalan yang kuhadapi dalam perjuanganku memperoleh buah hati. Aku tak tahu lagi, upaya apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan bayi normal yang sehat. Apalagi setelah anak ketigaku lahir cacat dan meninggal, dokter spesialis kandungan yang menanganiku sejak kehamilan pertama, langsung angkat tangan. Ia menyatakan tak sanggup lagi menyembuhkan penyakitku. Bahkan dokter memvonis aku tidak boleh hamil lagi, karena apabila aku hamil lagi, akan tetap melahirkan anak dengan cacat bawaan. Ya Tuhan, sempurna sudah deritaku. Haruskah aku percaya, sementara yang menjadi penentu adalah kuasa Tuhan?Aku menenangkan diri, percaya bahwa tidak seorang pun yang dapat memastikan suatu kehidupan. Aku tetap berobat, aku tetap berikhtiar dan yang penting aku tidak boleh putus asa mengharap seorang keturunan yang dikaruniai Tuhan sebagai pelengkap kebahagian keluargaku. LAHIR NORMAL DAN SEHAT Dua tahun berlalu saat kesedihanku pupus, aku kembali memupuk harapan dan mencoba untuk hamil lagi. Tak henti-hentinya aku memohon kasih Ilahi untuk memberi kepercayaan padaku dengan amanah keturunan yang lahir sehat dari rahimku sendiri. Hari indah yang kuharapkan dating juga, dokter menyatakan aku positif hamil. Saat itu aku masih mengidap TORCH. Rasanya sudah bertahun-tahun aku minum obat untuk membunuh TORCH, namun virus yang berjangkit di tubuhku ini tak juga mati. Aku sadar benar, seandainya infeksi terjadi setelah pembuahan, maka parasit akan merusak sel hasil kosepsi ini. Resikonya memang berat, janin di rahimku terancam gugur. Resiko selanjutnya pun aku ketahui, bila infeksi menyerangku pada saat trismester kedua atau ketiga, itu berarti penularan melalui ari-ari atau placenta. Jadi, meskipun janin berkembang tetap pada masa ini parasit akan menyerang dan merusak jaringan tubuh bayiku, dia akan lahir cacat seperti yang lalu-lalu. Ya Tuhan.... Haruskah terulang lagi peristiwa pahit itu untuk keempar kalinya? Tolong aku ya Allah! Setiap saat aku cuma mampu berdoa meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Saat kehamilanku mencapai usia 10-11 minggu, tanpa sengaja aku membaca majalah wanita yang memuat pengobatan alternatif penyakit TORCH oleh DR H Juanda. Tuhan seakan menjawab doa-doaku yang kupanjatkan dengan linangan airmata. Kubaca kisah Pak Juanda yang pengalamannya sama persis denganku. Hanya saja, janin yang kukandung sempat kulahirkan. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, aku segera mencari alamat Pak Juanda di Bogor. Aku diliputi keharuan, karena betapa kebesaran Allah telah menunjukkan jalan tepat dan terbaik untukku memperoleh anak yang sehat. Padahal dokter telah memvonis agar aku tidak melahirkan lagi. Mendengarkan penjelasan Pak Juanda, hatiku terasa damai sejuk dan tersulut semangat. Aku yakin dapat bayi yang normal dan sehat kali ini. Banyak yang sudah membuktikan, pengobatan alternatif ini merupakan solusi yang tepat bagi ibu yang sulit hamil, gagal hamil dan melahirkan dengan cacat bawaan. Pengobatan dilakukan hanya dengan minum cairan hasdil tumbuh-tumbuhan. Setiap hari dalam masa kehamilan aku meminum Aquatreat Therapy, ramuan Pak Juanda saat perut kosong. Tubuhku terasa lebih sehat dan kuat. Bayiku pun tumbuh baik dan normal. Dari USG yang dilakukan dokter, semua baik-baik saja, tak ada masalah serius. Ya Allah, inilah kehendak-Mu, berikan aku kesempatan memiliki anak-anak yang sehat dan normal, itu doaku sepanjang hari. Saat melahirkan tiba. Aku tidak dapat mengenyahkan kecemasan yang sejak hari-hari belakangan ini terus menghantuiku. Sukar sekali memasrahkan diri pada totalitas, selalu saja lintasan yang menakutkan membayang dalam anganku. Untuk mengibasnya aku terus berdoa dan berdoa. Anugrah Tuhan sungguh tak ternilai dalam kehidupanku. Melalui operasi Caesar, bayi perempuanku lahir sehat dan normal pada tanggal 30 Mei 2002. Bayi cantik permata hatiku ini kami beri nama Berliana Amalia Febrianti. Saat dia lahir, yang pertama kutanyakan pada dokter “Cacatkah bayi saya Dokter?” Jawaban yang kudengar sangat membahagiakan. Tak terasa keharuan membuat mataku basah. Aku mengucap syukur atas karunia terindah dari Tuhan yang kuterima hari itu. Kini putriku sudah berusia 3 tahun, dia lebih pinter dibanding dengan anak-anak seusianya. Vonis dokter yang melarangku agar tidak hamil karena akan melahirkan bayi yang cacat, ternyata tak terbukti. Tuhanlah yang maha kuasa, Dia penentu nasib dan takdir. Apa yang menjadi kehendak-Nya, hanyalah Kun Faya kun, maka yang terjadi, terjadilah. Petunjuk Tuhan saat aku menemui Pak Juanda pun suatu misteri yang sukar diurai, kecuali atas kehendak Ilahi. Dengan kelahiran putriku, sempurna sudah aku sebagai istri dan sebagai ibu. Inilah hikmah kesabaran, setelah menunggu hampir 10 tahun, kini kurasakan kebahagiaan dalam hidayah Tuhan. |
semangat buat ibu
By: arisna_kalimantan () on 18-11-2011 22:28