Beranda arrow Kesaksian arrow Virus TORCH...ke Tangan Maut
Newsflash
JADWAL PRAKTIK
AQUATREAT 2012
 
 
Read more...
 
Menu Utama
Beranda
INFO Torch
News
Kesaksian
Jadwal Praktik
Kontak Kami
Menu Religi
Buletin Tarbiyah
Dakwah
Komentar Terbaru
Epilepsi, Bagaimana Jalan...
Operasi
Adik saya usia 5 tahun pernah jatuh...
30/01/12 03:49 Selengkapnya...
Oleh: Ephron

Jadwal Praktik 2012
lahir tanpa tempurung kepala
ass.. nanya pak, ada nggak hubungannya...
27/01/12 22:22 Selengkapnya...
Oleh: anggraini marsyal

Jadwal Praktik 2012
telah ada di Semarang
Terima kasih telah membuka praktek di...
23/01/12 21:47 Selengkapnya...
Oleh: Heri Stiyawan

9 Tahun Menanti Buah Hati
pertanyaan tentang epilepsi
Assalmualikum Ir.H.A. Juanda saya...
23/01/12 01:21 Selengkapnya...
Oleh: Ahmad Hanif

Dokter Memvonis Aku,...Tak...
semangat buat ibu
Allahuakbar..... ibu sungguh tegar...
18/11/11 22:28 Selengkapnya...
Oleh: arisna_kalimantan

Jadwal Terbaru
No events
Virus TORCH...ke Tangan Maut PDF Print E-mail
Monday, 10 March 2008
 

Sutikah

VIRUS TORCH NYARIS MENGANTARKU KE TANGAN MAUT

Berbagai obat flu pernah diminumnya untuk melawan pusing. Tetapi tidak satu pun obat  yang mempan. Bahkan rasa pusingnya semakin menggila. Setelah pusing, disusul rasa mual, kesemutan, radang tenggorokan, sariawan, dan radang sendi. Bahkan sering kejang-kejang sampai pingsan. Pernah Sutikah  berjam-jam tidak sadarkan diri.

Menurut dokter ia menderita kelainan syaraf otak. Agar cepat sembuh, ia sudah habis-habisan menjual apa saja untuk biaya dokter.  Di saat seluruh keluarga telah memasrahkan kepergiannya, penyakit ibu dua anak ini dapat disembuhkan dengan Aquatreat Therapy. Sutikah ternyata  terserang virus TORCH...

Di tengah malam yang sunyi, berbagai doa dikumandangkan oleh para kerabat yang berdatangan ke rumah kami di Desa Boto Kembang, Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta. Semakin malam, para tetangga semakin banyak yang datang, termasuk sanak famili yang sempat dihubungi. Mereka mengelilingi pembaringanku. Sementara aku sendiri sudah sejak dua jam lalu kata mereka jatuh pingsan dan tak sadarkan diri lagi berjam-jam lamanya. Begitulah suasana rumahku pada akhir tahun 2003 lalu.  

TIDAK SADARKAN DIRI

Malam itu Mas Subarna, suamiku, tidak seperti malam-malam sebelumnya yang selalu tampak tenang meskipun aku sakit. Kali ini ia amat khawatir melihatku  belum siuman juga. Sudah lebih tiga jam tubuhku yang dingin terbujur kaku di pembaringan.  Anak-anakku ketika itu masih kecil-kecil.  Katanya, melihat keadaanku yang tak sadarkan diri, Riska dan Annisa  sedih dan menangis. Yang membuat Mas Subarna semakin panik, karena melihat nafasku yang semula berhembus normal, mendadak jadi tersendat-sendat.

Namun lama-kelamaan, keadaanku semakin melemah. Aku tak sadarkan diri lagi. Mas Subarna dan anak-anak akhirnya pasrah jika toh aku harus berpulang ke Rahmatullah pada malam itu. Mereka sudah lama menyaksikan penderitaanku. Semakin lama, mereka tak tega menyaksikan deritaku saat mendengar keluhan dan jeritanku menahan rasa sakit.   

Menurut suamiku sesaat sebelum aku pingsan, ia masih sempat mendengar aku merintih kesakitan. Namun semakin lama, suara rintihan itu semakin meredup, kemudian tak terdengar lagi. Tubuhku yang hanya tinggal berbalut tulang terbujur lemah dingin dan kaku.   Mas Subarna kemudian menggotongku ke ruang tengah. Saat itulah suamiku memanggil para tetangga. Mohon agar aku dibacakan  Surat Yassin.      

Ketika itu Mas Subarna menduga saat itu adalah kali  terakhir dapat melihat jasadku sebagai isterinya. Dugaan  Mas Subarna tidak bisa kupungkiri.  Sebab malam itu sudah cukup lama tubuhku terbujur kaku. Tetapi Tuhan berkehandak lain, Yang Maha Kuasa belum akan mencabut nyawaku. Menjelang fajar, tubuhku perlahan beringsut. Beberapa tetangga yang masih berada di dalam rumah tercengang. Mereka sama sekali tak mengira aku akan siuman setelah sepanjang malam tak sedikit pun menunjukkan reaksi.

Mas Subarna yang terus-menerus mengamati keadaanku, menjadi heran. Ia sama sekali tidak menyangka kalau tubuhku akhirnya dapat bergerak lagi. Ia hampir  tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Mas Subarna kemudian menggenggam tanganku, jari-jemariku kembali memberikan reaksi. Saat itu suamiku yakin kalau aku telah sadar kembali. Lama-kelamaan,  perlahan kedua mataku pun terbuka.

Aku heran melihat banyak orang di sekelilingku. Mereka  tengah berkumpul mengelilingi pembaringanku. Setelah Mas Subarna menceritakan segalanya, aku baru paham.  Meski telah sadar,  fisikku masih sangat lemah. Aku tak bisa berbuat banyak, untuk memalingkan kepala saja masih terasa sakit. Begitulah klimaks dari penyakit yang aku alami  selama kurang lebih lima tahun.       

Bisa dimengerti mengapa Mas Subarna dan para tetangga menduga malam itu ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah sakit semenjak tahun 1998. Awalnya hanya sakit kepala biasa. Mulanya kuatasi dengan minum obat flu, pusingnya kemudian mereda. Lama-kelamaan obat flu tidak mempan lagi, sementara kepalaku semakin hari semakin terasa berat. Akhirnya aku ke dokter. Semenjak itu, mengonsumsi obat dokter sudah menjadi kebiasaanku sehari-hari. Hanya dengan minum obatlah, pusingku dapat terasa ringan.

SAKITNYA MERAMBAT KE BERBAGAI ORGAN TUBUH  

Selain pusing, lama-kelamaan ada penyakit lain yang menyertai. Entah kenapa sariawanku tidak sembuh-sembuh. Seluruh persendian sering terasa ngilu, sungguh amat menyakitkan. Lagi-lagi aku ke dokter. Aku mendapat tambahan obat yang katanya bisa meredam rasa sakit. Ternyata itu pun hanya sesaat. Semakin hari aku mengalami berbagai keluhan lain. Lambungku juga bermasalah. sering terasa sakit dan perih.

Setelah diperiksa dokter, ternyata lambungku mengalami peradangan. Itulah yang menyebabkan aku jadi sering mual dan muntah. Sariawan yang aku alami ternyata juga ada kaitannya dengan penyakit radang tenggorokan yang kuderita selama ini. Seluruh penyakit ini amat menyiksa hari-hariku. Lagi-lagi penyakitku semakin bertambah. Aku gampang masuk angin, dan sekoyong-konyong suka gemetar. Tahun sudah berganti, penyakitku tak kunjung sembuh. Daya ingatku turut berpengaruh. Aku mulai pelupa. Daya tahan tubuhku semakin hari semakin bertambah melorot. Tubuhku sering terasa lemas, bahkan kedua kakiku tak kuasa lagi digerakkan. Sorot mataku kosong. Kulitku semakin kusam.

Ketika itu kakiku nyaris lumpuh. Ada yang menyangka aku disantet.  Aku tidak percaya hal semacam itu. Seingatku aku tidak memiliki musuh. Aku ganti dokter. Oleh dokter yang baru, disarankan agar kontrol  ke dokter gigi, sebab bukan tidak mungkin keluhan-keluhan yang aku alami disebabkan infeksi gigi.  

Ternyata keadaan gigiku baik. Kemudian ke dokter mata, jangan-jangan mataku mengalami masalah. Namun itu pun tidak terbukti. Mataku tidak sakit sama sekali.

Karena belum sembuh-sembuh juga, seorang tetangga menyarankan agar aku minta surat  rujukan dari Puskesmas untuk ke rumah sakit besar yang ada di Yogyakarta. Mendengar saran ini, aku langsung minta rujukan ke rumah sakit terkemuka yang ada di Yogya. Selain itu aku minta agar ditangani oleh dokter spesialis yang sudah teruji keahliannya..

Di rumah sakit Panti Rapih,Yogyakarta, aku ditangani oleh dokter ahli syaraf. Beliau langsung menyarankan agar aku periksa laboratorium khususnya yang berhubungan dengan virus TORCH. Hasil laboratorium menunjukkan aku mengidap virus TORCH. Pada lembaran hasil laboratorium tertera, virus Toxo menunjuk angka 59. Sementara CMV 558 dan Rubella 224. Aku  langsung diberi obat untuk diminum selama semingu berturut-turut.    

Setelah minum obat selama seminggu, penyakitku mulai  pulih. Tentu saja aku merasa senang. Sesekali aku masih mengeluh, lama-kelamaan obat TORCH yang diberikan dokter ternyata tidak bisa lagi menanggulangi keluhan penyakitku. Aku kontrol lagi ke dokter, berharap akan diberikan obat TORCH yang lain,  yang tentunya lebih bagus dan mujarab.

Ternyata menurut  dokter obat yang selama ini kuminum sudah merupakan obat yang terbaik untuk menanggulangi virus TORCH. Katanya virus ini tak bisa sembuh total, tapi paling tidak bisa mengurangi penderitaaanku.  Hidupku kembali bergantung pada obat. Sebab jika tidak minum obat masih sering kambuh.

Meski telah ditangani oleh dokter ahli, kesehatanku belum bisa dikatakan pulih seratus persen. Aku lagi-lagi jatuh sakit. Obatku tidak mempan lagi menangkal penyakitku. Pengaruh obat hanya bertahan selama dua jam. Sesudah itu aku mengeluh kesakitan lagi.

Suamiku semakin bingung aku mau berobat ke dokter mana lagi. Padahal selama ini ia sudah sering ijin dari kantor demi mengantarku. Aku heran, kenapa belum sembuh juga padahal aku sudah ditangani oleh dokter yang ahli di bidang penyakit TORCH. Saat itu, aku sudah jarang menjerit-jerit kesakitan. Sehingga para tetangga menganggap keadaanku sudah semakin membaik, padahal penyakitku justru semakin parah.

NYARIS PUTUS ASA

Mas Subarna semakin kalut  menghadapi penyakitku. Ia sudah tidak tahu akan berbuat apa lagi untuk menanggulanginya.  Segala daya upaya sudah ia lakukan. Waktu itu kami sudah habis-habisan, sebab ada saja pengeluaran yang tidak terduga untuk menyembuhkan aku. Belum lagi biaya transportasi yang cukup tinggi, karena aku harus dibawa dengan mobil. Suatu hari Mas Subarna mendengar cerita tetangga kalau ada pengobatan alternatif yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Mas Subarna membawaku ke sana. Setelah beberapa kali berobat di tempat itu, ternyata penyakitku belum sembuh juga. Tanpa menyerah, pengobatan dilanjutkan ke pengobatan alternatif lainnya. Menurut cerita orang, keahliannya lebih hebat dan mampu menyembuhkan berbagai penyakit.  Ternyata setelah berobat beberapa bulan, hasilnya nihil.

Jika dihitung-hitung, kami sudah mendatangi 15 pengobatan alternatif. Namun tak satu pun memberi hasil yang memuaskan. Penderitaan penyakitku tak sedikitpun berkurang. Aku sudah melakukan pijat, Shinshe, minum jamu-jamuan, ramu-ramuan, dan banyak  lagi.

Dalam keadaan yang semakin parah, aku kembali kontrol ke dokter. Aku masih tetap berharap,  kiranya kali ini dokter akan memberikan obat lain yang manjur.. “Untuk sakit  seperti ibu, ya cuma ini saja obatnya. Ini sudah obat yang paling bagus,” begitu kata dokter menjawab pertanyaan Mas Subarna.

Semakin hari aku sudah semakin tak tahan lagi menghadapi hari-hariku yang muram dalam penyakit. Kalau begini terus, rasanya aku sudah ingin mati. Lelah rasanya hidup dirongrong berbagai penyakit. Hidupku semakin tak bersemangat. Aku sudah putus asa. Bayangkan sebagai wanita cukup lama aku tidak bisa menjalankan fungsiku sebagai isteri maupun ibu bagi anak-anakku. Keadaan fisikku loyo.Bahkan nyaris lumpuh.   

Suatu malam aku kembali mengeluh kesakitan. Kali ini sakitnya memang luar biasa. Saking tak tertahankan, suaraku terus-menerus mengerang. Segala obat yang kuminum sudah tak mampu lagi menangkal beban penyakitku. Inilah klimak dari segala derita yang kualami selama bertahun-tahun. Fisikku sudah semakin melemah. Tenggorokanku meradang, bibirku mengering, sudah lama sariawan menempel di sana. Menggigil dan masuk angin silih-berganti. Bibirku sudah terasa kelu sampai-sampai  bibirku  tak sanggup lagi mengutarakan kata-kata.

Dalam keputusasaan, suamiku kembali membawaku berobat ke alternatif. Mas Subarna punya keyakinan, kalau pengobatan alternatif yang baru saja ditontonnya melalui acara  ‘Harmoni‘ yang disiarkan oleh TVRI itu,  bisa menolong  penyakitku. Apalagi di sana jelas-jelas dinyatakan virus TORCH dapat diobati dengan mengonsumsi Aquatreat Therapy.  Seperti biasa, aku tidak pernah menolak jika Mas Subarna membawaku berobat.

Dengan tertatih-tatih bahkan nyaris dibopong, akhirnya aku sampai juga di tempat praktek Pak Juanda. Dalam hati aku berharap kiranya pengobatan kali ini benar-benar dapat menyembuhkan penyakitku. Jika tidak, rasanya aku sudah tidak sanggup hidup lebih lama lagi.  

PENYAKITKU BERARSUNG-ANGSUR SEMBUH

Aku masih ingat waktu suamiku menyodorkan hasil laboratorium TORCH  kepada Pak Juanda  pada 10 Agustus 2003. Beliau langsung menyarankan  untuk minum Aquatreat Therapy. Mulanya terasa sulit untuk meminumnya, radang pada tenggorokan sedang parah-parahnya, sehingga tak mampu untuk menelan. Jika kemasukan cairan, nyerinya luar biasa. Tapi demi untuk kesembuhan, aku paksakan juga agar cairan itu bisa tertelan. Setiap  dua minggu sekali suamiku mendatangi Ibu Bambang, asissten Pak Juanda yang khusus menangani pasien di Yogyakarta untuk membeli Aquatreat Therapy.

Dalam kurun waktu satu bulan, penyakitku berangsur membaik. Setelah tiga bulan, keadaanku semakin bertambah sehat. Setiap kali ada  keluhan, aku langsung menghubungi Ibu Bambang via telepon. Keseringan telepon, hubungan di antara kami jadi semakin akrab. Pernah ketika penyakitku sedang meradang, entah kenapa aku ingin sekali bisa  bertemu asisten Pak Juanda yang berada di Yogya, yaitu Ibu Bambang. Rasanya jika sudah bertemu dengan Ibu Bambang penyakitku bisa lebih ringin.

Tapi itu tak mungkin. Selain fisiku masih terlalu lemah untuk menemuinya di  tempat praktek, dia tentu sedang sibuk dengan pasien lainnya.

Enam bulan setelah aku mengonsumsi Aquatreat Therapy, seluruh keluhan penyakitku  benar-benar lenyap. Bagiku ini adalah suatu mujizat Allah. Namun benarkah virus yang terkandung dalam tubuhku  memang sudah berkurang? Untuk memastikannya aku kembali kontrol ke laboratorium. Hasilnya menakjubkan. Virus jahat yang telah sekian tahun menyengsarakan hidupku sebagian besar telah musnah. Sekarang keadaanku sudah benar-benar baik. Rasanya jika kisah ini tidak aku utarakan, orang tidak akan mengira bahwa aku pernah terkapar bertahun-tahun menanggung berbagai penderitaan penyakit.


   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
W9T         QC8      
  A    3    3 F   9J3
  A   XYN   YWY      
  O    9    6 M   QDU
  W         UB2      
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >