I Nyoman Debat Wirantopo AKIBAT TOXO, DUA MINGGU AKU TIDAK SADARKAN DIRI Semenjak kelas 6 SD, Topo sering sakit kepala. Ibunya mengobati Topo dengan memberi amoxillin. Ternyata hingga bertahun-tahun pusingnya tidak pernah sembuh. Seluruh persendian tubuhnya terasa sakit. Ia pernah dirawat di ruangan ICU. Di ruang perawatan intensif ini keadaannya justru semakin mengkhawatirkan. Topo tidak sadarkan diri selama dua minggu. Dokter menuduh dirinya kecanduan narkoba. Sumber penyakitnya baru diketahui setelah bertemu dengan Pak Juanda. Pria yang masih kuliah ini ternyata terserang virus TORCH. Empat bulan mengonsumsi Aquatreat Therapy, Topo kini terbebas dari beban sakit yang dideritanya. Dari kelas enam SD, kepalaku sering terasa pusing. Siapa sangka kalau penyakit migren, demikian orang sering menyebutnya, bisa mengakibatkan si penderitanya jatuh pingsan selama dua minggu. Melihat kondisiku yang sudah mengkhawatirkan, aku dimasukkan ke ruang ICU. Ketika itu kedua orangtuaku sudah pasrah. Beliau sama sekali tidak menyangka kalau akhirnya aku masih bisa diselamatkan. Bahkan di tengah deraan penderitaanku yang bertubi-tubi, aku masih sanggup mengikuti pelajaran di sekolah. Bahkan aku mampu mengikuti kuliah. Saat ini aku tengah duduk di semester akhir, salah satu fakultas di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Bagiku ini adalah suatu mukjizat yang luar biasa.
RIWAYAT PENYAKITKUDibanding saudaraku yang lainnya, semenjak kecil aku termasuk anak yang paling lincah. Gemar bermain bola, sprint dan bersepeda. Mungkin karena sering berolah-raga, tubuhku tidak pernah bisa berisi, dari kecil hingga sekarang aku tetap kurus kerempeng Masa anak-anak adalah masa yang amat menggembirakan bagiku. Apalagi bapak dan ibu selalu memberikan kebebasan terhadap aktivitas anak-anaknya. Walaupun begitu setiap anak diberikan tugas masing-masing. Tugasku sendiri adalah mengurusi binatang piaraan, kucing dan beberapa ekor burung. Bagiku pekerjaan ini amat mudah. Selain pekerjaannya sendiri tidak berat, aku senang dengan hewan. Aku bisa asyik bercanda dengan binatang -binatang ini. Kedua hewan ini menjadi hiburan tersendiri. Sama sekali tak pernah terpikir, pada suatu hari hewan piaraan ini dapat menyebarkan virus toxo pada diriku. Virus yang pada akhirnya membuat kepalaku pusing hingga bertahun-tahun lamanya. Mulanya memang hanya pusing biasa. Ibu selalu memberiku amoxillin setiap aku mengeluh pusing. Sesaat setelah obat itu diminum, pusingnya memang hilang.Tapi beberapa hari kemudian kepalaku mulai terasa berat lagi. Ibu lagi-lagi menyuruhku minum obat yang sama. Dan pusingnya kembali mereda. Entah kenapa setelah itu aku tidak pernah bebas dari rasa pusing. Setiap kali aku mengeluh ibu lagi-lagi memberikan obat yang sama. Lama kelamaan obat itu sudah tidak mempan lagi menangkal rasa pusingku. Aku jadi kesal kenapa aku selalu saja pusing, padahal aku sudah menanggulanginya dengan obat. Lama-kelamaan aku bosan minum obat. Sebab obat pemberian ibu sudah tidak bermanfaat lagi. Sebagai anak yang mulai tumbuh remaja, aku mencari akal, bagaimana caranya agar pusingku bisa hilang tanpa harus minum obat. Aku mencoba mengatasinya dengan berolahraga. Menurut nalarku, jika tubuh sudah berkeringat, kepala bisa terasa ringan. Akhirnya aku tidak pernah tidur lagi, jika pusingku sedang kumat. Aku justru berolahraga supaya mengeluarkan banyak keringat. Dan pusingku bisa terasa lebih ringan. Menghilangkan rasa migren ternyata tidak semudah seperti yang kubayangkan. Meski aku telah berupaya menemukan cara tersendiri, ternyata migrennya tidak bisa tuntas sama sekali. Jika masih terasa pusing, aku kembali minta obat kepada ibu, dan beliau lagi-lagi memberiku obat yang sama. Suatu hari aku minta dibelikan obat yang lainnya. Tetapi ibu tidak menggubris permintaanku. Menurut ibu amoxillin bisa dengan cepat menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk pusing. Untuk yang kesekian kalinya migrenku kambuh lagi, lagi-lagi ibu memberiku obat yang itu-itu juga. Entah kenapa ibu terlalu fanatik dengan obatnya. Padahal sudah kukatakan berulang kali, amoxillin tidak mempan lagi mengatasi pusingku selama ini.Bodohnya entah kenapa aku selalu saja minum obat itu. AKHIRNYA AKU DIBAWA KE DOKTER Penyakit migrenku yang tak kunjung sembuh, membuat ibu membawaku periksa ke rumah sakit. Menurut dugaan dokter, migren yang aku alami bisa disebabkan oleh keletihan bermain di luar rumah. Namun dokter mengatakan, “Jangan khawatir, nggak ada apa-apa, nanti juga sembuh dengan sendirinya setelah obat ini diminum,” katanya sembari memberikan resep yang baru saja ditulisnya. Dugaan dokter rasa pusingku disebabkan karena aku terlalu capek berolah-raga, membuatku tanda tanya. Apa benar pusingku disebabkan oleh tenaga yang terkuras? Bukankah selama ini justru karena pusing aku mengatasinya dengan olahraga. Terus terang semenjak aku sering pusing, aku semakin sering menyalurkan hobi olahraga. Lama kelamaan aku jadi bosan jika harus minum obat melulu. Nyatanya juga tidak banyak menolong. Sepulang dari rumah sakit aku berharap mudah-mudahan obat pemberian dokter dapat benar-benar memulihkan migrenku yang telah sekian lama kuderita. Setelah beberapa kali kuminum obat pemberian dokter, pusingnya memang agak mereda. Tapi begitu obatnya kuhentikan, aku mulai migren lagi. Untuk menanggulanginya aku kembali giat berolah-raga. Untungnya meski sering migren, aku masih bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Sehingga sekolahku tidak pernah terganggu. Tiap tahun aku selalu naik kelas. Ketika aku SMA, migrenku malah semakin menjadi-jadi. Bahkan ada tambahan penyakit lain. Tulang persendianku sering terasa ngilu. Setiap kali hal ini kukeluhkan pada ibu, lagi-lagi ibu masih tetap dengan obatnya yang dulu. Aku sendiri selalu berupaya mengatasi pusing dengan tetap olahraga. Sebab hanya dengan cara ini kepalaku bisa sedikit menjadi ringan. Semakin hari migren dan ngilu-ngilu pada tubuhku semakin sering kurasakan. Biasanya kedua penyakit ini kambuh menjelang malam hari. Makanya sebelum tidur, aku selalu minta dipijat. Jika belum dipijat aku bisa gelisah sepanjang malam karena menahan ngilu-ngilu di sekujur tubuh. Lama-kelamaan aku sudah tidak bisa lagi menghindar dari kedua keluhan ini. Setiap malam aku benar-benar merasa tersiksa akibat pusing dan rasa ngilu. Walaupun demikian, aku tetap bersyukur dalam keadaan sakit yang berkepanjangan seperti itu, aku masih bisa mengikuti pelajaran, sehingga mampu menyelesaikan sekolah di SMA. Bahkan dalam keadaan kepala yang terus berdenyut pusing aku mampu mengikuti ujian SPMB. Hasilnya memuaskan, aku diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Hukum UGM. Aku menyadari, hal ini suatu prestasi yang luar biasa. Ketika aku dinyatakan lulus, ibu semakin menganggap enteng penyakitku. “Kalau begitu kamu selama ini cuma migren biasa,” begitu kata ibu suatu hari. “Nyatanya kamu tetap bisa mengikuti ujian.” Sekilas memang aneh. Jarang ada orang yang mampu berolahraga pada kondisi kepala yang sangat sakit. Setiap kali aku pulang dengan tubuh berpeluh keringat, ibu semakin tidak yakin kalau aku memang benar-benar menderita sakit yang cukup serius. Sampai tiba suatu malam. Tubuhku basah oleh keringat dingin, selain kepala rasanya pusing sekali, persendianku ngilunya luar biasa. Ibu lagi-lagi memberiku amoxillin. Obat pemberian ibu, sama sekali tidak membantu memulihkan rasa sakitku. Tubuhku malah semakin menggigil kedinginan. Dugaanku, mungkin ini disebabkan aku terlalu capek olahraga. Hari itu aku pulang ke rumah memang agak larut. Setelah melakukan sprint, malamnya masih main bilyar. Jam 11 malam baru tiba di rumah. DUA MINGGU TAK SADARKAN DIRI Keesokan harinya, aku malah muntah-muntah. Lama-kelamaan tubuhku seperti terasa kaku tidak bisa digerakkan sama sekali. Pada klimaksnya, aku tak sadarkan diri lagi. Melihat kondisiku, seluruh isi rumah panik. Aku segera digotong ke rumah sakit. Di rumah sakit aku malah muntah darah. Kepala, tengkuk, dan tenggorokanku semakin bertambah sakit. Melihat sosokku yang kurus kering, dokter menduga aku kecanduan narkotika atau minum-minuman keras. . Sudah tiga hari di ruang perawatan, keadaanku malah semakin mengkhawatirkan. Takut terjadi sesuatu yang lebih parah, keesokan harinya aku dipindahkan ke ruangan ICU. Di ruang ICU aku malah tak sadarkan diri. Aku pingsan atau mungkin koma selama dua minggu. Dokter sudah tidak tahu obat apa lagi yang harus diberikan. Kedua orangtuaku hanyut dalam duka. Melihat aku tetap terbujur kaku, mereka pasrah jika aku harus pergi untuk selamanya. Hampir dua minggu aku tetap terbaring tidak sadarkan diri. Suatu hari dokter menyarankan agar aku diberi suntikan yang katanya kemungkinan bisa membuat diriku sadar. Namun harga obatnya mahal sekali. Satu ampulnya 4 juta, sementara itu aku harus dua kali disuntik. Tanpa pikir panjang kedua orangtuaku langsung menyetujui asal tindakan itu dapat membuatku sadar kembali. Setelah aku disuntik dua hari berturut-turut, keesokan harinya tubuhku mulai memberi respon. Mataku mulai berkedip. Ketika mataku sudah benar-benar terbuka, menurut ibu, ketika itu aku belum bisa mengenali orang-orang yang ada di sekelilingku. Daya ingatku masih amat lemah. Dua hari setelah itu, kondisiku semakin membaik, kemudian dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Seminggu setelah itu, kesadaranku mulai berangsur pulih. Kendati demikian, kedua kakiku masih terlalu lemah untuk berjalan. Selama kurang lebih dua minggu, dokter memberiku enam macam obat, dan diminum sehari tiga kali. Setelah keadaanku semakin baik, dokter mengijinkan aku pulang ke rumah. Waktu itu aku belum sehat benar, kedua kakiku masih lemah untuk mampu berjalan. Sehingga aku menggunakan alat bantu tongkat penyangga. Meski dalam keadaan sakit aku tetap memikirkan jadwal kuliahku yang sempat terbengkalai hingga beberapa minggu lamanya. Dalam hati tetap ada keinginan untuk bisa menyelesaikan kuliah. Baru dua hari berada di rumah, ibu sudah membawaku ke tempat praktek pengobatan alternatif. Rupanya beberapa hari sebelumnya, ibu didatangi oleh seorang teman yang menyarankan agar aku dibawa ke tempat praktek Pak Juanda. Dalam keadaan kaki yang masih terseok-seok, aku menemui Pak Juanda. Aku disarankan periksa darah ke laboratorium untuk mengetes, apakah aku mengidap virus TORCH? Ternyata benar. Virus Toxoku menunjukkan angka 166, dan CMV 62. Selanjutnya aku dianjurkan untuk minum Aquatreat Therapy. Aku menurut saja saran Pak Juanda, meski mulanya agak berat juga. Sebab cairan ini diminum pagi hari dalam keadaan perut kosong. Dua minggu setelah ramuan Aquatreat Therapy ini kuminum, ternyata memberi hasil yang menakjubkan. Badanku mulai terasa ada perubahan, agak fit rasanya. Karena sudah agak membaik, aku akhirnya bisa mengikuti ujian smesteran. Dari ketiga mata kuliah yang diujikan ternyata aku lulus semua. Aku senang sekali. Aku masih terus mengonsumsi Aquatreat Therapy. Menjelang dua bulan, kondisiku semakin pulih. Aku tidak pernah merasa pusing lagi. Tubuhku pun semakin bertambah sehat. Aku bahkan sudah mampu bermain sepak bola. Tiga bulan kemudian badanku sudah terasa benar-berar sehat. Aku sudah tidak lagi mengalami apa yang namanya migren, pusing dan nyeri otot, dua penderitaan yang selama ini aku rasakan. Walaupun begitu aku masih meneruskan minum Aquatreat Therapy hingga empat bulan lamanya. . Terima kasih kepada Bapak Juanda yang telah berhasil menemukan ramuan Aquatreat Therapy sehingga aku dapat pulih kembali. Juga Ibu Bambang asisten Bapak Juanda yang selalu ramah, kebaikan serta kesabaran mereka turut menyemangati hidupku. [AJ] |