|
Widya Astuti SULIT HAMIL EMPAT TAHUN MENANTI...SI BUAH HATI Penantian panjang menyongsong kehadiran si buah hati, bagai tak pernah surut. Doa dan berbagai cara terus diupayakan. Namun sudah hampir empat tahun belum juga tampak tanda-tanda kehamilan. Sebagai umat beragama, pasangan muda ini tidak pernah berputus asa. Lewat Klinik Pak Juanda, ternyata Tuhan memberi jalan. Widya kini bahagia dengan Raihan Naim, buah cinta dambaannya selama ini Saking ingin hamil, aku sampai menyediakan test pack di rumah. Benda yang satu ini sudah tidak asing lagi bagiku, sebab selalu tersedia kapan pun aku membutuhkannya. Dengan demikian, tiap kali telat datang bulan, aku langsung dapat melakukan tes kehamilan tanpa harus pergi ke dokter. Bulan berganti tahun, setiap kali telat datang bulan hatiku gelisah dan penuh harap. Mungkinkah kali ini keinginan kami untuk memiliki buah hati akan terwujud? Begitu getaran kata hatiku setiap kali aku mulai telat haid.
Keinginan untuk segera memiliki anak, seakan sudah memuncak. Aku ingin sekali di kala mataku tertuju pada benda yang bernama test pack itu, ada tanda positip pada benda mungil itu. Harapan itu sirna dan sirna lagi entah untuk yang keberapa puluh kalinya. Harapan untuk segera hamil ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Kekecewaan demi kekecewaan tiap kali melihat hasilnya selalu negatif kupendam dalam hati. Sebagai umat beragama, aku dan suami terus berupaya dan berdoa memohon kepada Yang Kuasa agar kiranya suatu hari kelak aku dapat hamil. Meski aku tidak tahu kapan harapan kami ini akan dikabulkan.
MENUNDA KEHAMILAN Ketika baru menikah, kami berdua sempat setahun menunda kehamilan. Sebagai pengantin baru kami ingin merasakan hangatnya masa-masa pacaran yang belum sempat kami lakukan sebelumnya. Perkenalanku dengan Mas Marwan terbilang amat singkat. Ketika itu Mas Marwan sedang bekerja di Batam. Saat cuti Lebaran ia pulang ke rumah orangtuanya di Yogyakarta. Secara kebetulan, mamaku bertemu dengan ibunya Mas Marwan. Mereka rupanya menjadi akrab karena mengetahui suami mereka ternyata bekerja pada satu perusahaan yang sama. Mengetahui hal itu keduanya menjadi semakin dekat mengungkapkan isi hati. Apalagi pembicaraan sudah mulai mengarah ke perjodohan. Mereka berniat menjodohkan aku dan Mas Marwan. Pendek cerita kedua orangtua sudah sepakat mempertemukan aku dan Mas Marwan. Suatu hari mama mengajakku ke rumah Mas Marwan. Saat itulah, aku diperkenalkan pada Mas Marwan. Keesokan harinya ternyata Mas Marwan gantian datang ke rumahku. Siapa sangka kalau keesokan harinya lagi, kedatangan Mas Marwan justru ingin melamarku. Aku kaget, namun pinangan Mas Marwan tak kuasa kutolak. Pada tanggal 6 Januari tahun 2001 aku resmi menjadi istri Mas Marwan. Ketika menikah, statusku sebenarnya masih sebagai sekretaris pada salah satu perusahaan swasta yang ada di Yogyakarta. Mulanya ada rasa berat melepas pekerjaan yang baru saja dua bulan aku jalani. Apalagi pekerjaan itu sesuai dengan ijazah kesarjanaanku. Namun setelah kupikir-pikir, tidak baik jika seorang istri tinggal berjauhan dengan suaminya. Akhirnya aku rela melepas pekerjaan. Mas Marwan kemudian memboyongku ke Batam. Sebagai pengantin baru, yang belum sempat menikmati manisnya masa-masa pacaran, ada pikiran untuk tidak buru-buru memiliki anak. Kira-kira setahun kemudian, barulah kami merasa siap untuk hamil dan punya anak. Mulailah kami berdua melakukan program hamil. Inginnya sih karena sudah diniati, harapan itu dapat segera terwujud. Namun bulan berganti bulan, tak ada tanda-tanda kalau aku hamil. Ketika itu, baik aku dan Mas Marwan tidak terlampau cemas memikirkan mengapa aku belum hamil juga. Mungkin belum saatnya Tuhan mempercayakan aku seorang anak, begitu kata hatiku menghibur diri. Ternyata bulan-bulan berikutnya aku masih juga belum hamil. Kecemasan mulai timbul, jangan-jangan memang ada yang tidak beres di antara kami. Kami sudah tak sabar menunggu bocah lucu hadir mewarnai hari-hari kami dalam keluarga. Padahal alangkah enaknya jika ketika itu aku bisa langsung hamil, sebab kelak kami bisa berteman pada saat anak-anak tumbuh remaja dan aku belum terlalu tua. Keinginan ternyata tidak selalu sama dengan kenyaatan. Buktinya aku masih harus bersabar meski waktu pernikahan sudah berlangsung dua tahun. Suatu hari aku kontrol ke dokter kandungan. Aku penasaran kenapa belum hamil juga. Menurut dokter aku tak perlu merasa cemas. Aku adalah wanita yang sehat dan subur. “Sabar saja Bu, nanti ada saatnya,” hibur dokter kepadaku. Aku kembali bersabar dan bersabar. Beberapa bulan kemudian aku kembali mendatangi dokter kandungan. Kali ini dokter mengatakan, kalau ingin mengetahui secara detail kondisi rahimku, ada beberapa pemeriksaan yang harus kujalani. Dari sekian pemeriksaan, setelah dijumlah-jumlah ternyata biaya yang harus dikeluarkan cukup mahal. Mengingat biaya yang begitu besar, aku jadi mengurungkan niat melakukan beberapa penelitian seperti saran dokter. Sebenarnya aku bisa saja mengatakan kepada Mas Marwan tentang sejumlah pemeriksaan yang harus aku lakukan. Tapi mengingat biaya yang begitu besar aku jadi tak tega jika Mas Marwan harus mengeluarkan begitu banyak biaya. Masalahnya pada saat yang bersamaan Mas Marwan baru kena PHK dari tempat kerjanya di Batam. Aku tidak sampai hati bila uang pesangon digunakan untuk pemeriksaan rahimku. Setelah itu lama aku tidak pernah kontrol lagi ke dokter kandungan. Biar lebih irit, satu-satunya cara jika terlambat datang bulan, aku melakukan tes kehamilan sendiri di rumah. Kami terus memohon kepada Yang Kuasa, agar kami dipercaya memiliki keturunan. Aku mulai merasa tenang dan bisa bersabar menunggu Tuhan memberiku amanah-Nya. Namun kini Mas Marwan yang gantian cemas. Dia takut kalau dirinya yang menjadi sebab kegagalan kehamilanku. Mas Marwan teringat ketika penyakit polipnya belum sembuh-sembuh juga, ia akhirnya melakukan pengobatan dengan cara diurut. Padahal menurut orang-orang tua dulu, pengobatan polip dengan cara diurut, konon dapat mengakibatkan impotensi. Aku berusaha menenangkan pikiran Mas Marwan, agar tidak perlu terlalu khawatir. Menjelang tidur, kami berdoa bersama memohon kepada Allah, agar kiranya keinginan kami memiliki anak suatu hari kelak akan dikabulkan. Sebagai anak tunggal, aku tahu betapa Mama mengharapkan cucu dariku. Tapi apa mau dikata, aku dan Mas Marwan sudah berusaha meski kami sadar apa yang kami lakukan memang belum maksimal. Semua itu disebabkan faktor biaya yang cukup berat bagi kami ketika itu. Pokoknya kami hanya ingin melakukan sesuatu sebatas kemampuan ekonomi. Kalau toh belum juga dikaruniai anak, itu adalah kehendak Ilahi.
PENYEMBUHAN TORCH DI TVRI Tak dapat kudustai, kegelisahan semakin memenuhi lubuk hatiku. Demikian juga yang dirahasiakan suamiku di hatinya. Semakin tahun kami selalu dikejar keresahan. Aku khawatir kalau pada akhirnya kami memang benar-benar tidak akan memiliki keturunan. Kegelisahan itu semakin hari-semakin memuncak. Namun selalu terselip cahaya harapan yang samar. Suatu ketika Mas Marwan melihat acara pengobatan alternatif tentang penyembuhan TORCH di televisi. Mas Marwan langsung mencatat alamat pengobatan tersebut. Ia tergugah untuk membawaku ke tempat praktek Pak Juanda, ahli toxo yang dilihatnya di TVRI. Padahal sesungguhnya kami belum tahu, apakah ada kaitan antara aku belum hamil dengan TORCH. Kami hanya menduga-duga dan berharap, mudah-mudahan pengobatan kami kali ini akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, keesokan harinya, kami berdua langsung ke tempat praktek Pak Juanda. Di sana kami ditemui oleh ibu Bambang, yang langsung menyuruh kami melakukan tes TORCH. Siapa sangka kalau aku ternyata mengidap virus toxo hingga 24,600. Sementara CMV-ku 3,243. Oleh ibu Bambang aku diharuskan minum Aquatreat Therapy. Mulanya berat juga melakukannya, karena harus diminum pagi hari di saat perut masih kosong. Rasanya manis, setelah kuhayati lama-kelamaan minum Aquatreat Therapy di pagi hari tidak menjadi beban. Setelah tiga bulan berturut-turut minum Aquatreat Therapy, aku kembali harus menjalani tes darah untuk mengetahui apakah virusnya telah berkurang? Hasil tes-nya sungguh di luar dugaan. Toxonya langsung negatif, sementara CMV-nya tinggal 2,5. Selanjutnya aju dapat melakukan program hamil. Untuk lebih amannya ada pikiran untuk kembali kontrol ke dokter kandungan, namun ketika hal ini kuutarakan pada Mama, beliau malah menyarankan sebaiknya aku berkonsultasi pada Pak Juanda apakah tidak sebaiknya Mas Marwan juga melakukan tes darah. Mama khawatir jika hal itu tidak dilakukan, akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mas Marwan akhirnya melakukan tes darah. Entah siapa yang tertular, dan ditularkan, yang pasti hasil tes darah Mas Marwan juga mengkhawatirkan. Rubella-nya 106, CMV-nya 37. Tidak ada jalan lain, Mas Marwan pun harus mengonsumsi Aquatreat Therapy. Mas Marwan mengonsumsi Aquatreat Therapy selama dua bulan. Bagi Mas Marwan tak menjadi masalah, asal penyakitnya bisa sembuh. Tapi baru saja satu bulan Mas Marwan minum Aquatreat Therapy, bulan berikutnya aku telat datang bulan. Rasa cemas kembali menghantui. Inikah saatnya aku hamil. Aku terus menunda untuk melakukan tes kehamilan, seperti yang biasanya aku lakukan selama ini. Suatu hari aku merasa tidak sabar lagi ingin memastikan keadaanku yang sesungguhnya. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Selanjutnya aku dihantui oleh kegelisahan dan juga harapan. Pelan-pelan aku menuju tempat di mana aku menyimpan test pack. Sungguh aku takut menghadapi diriku jika harus kecewa lagi. Sebelum melakukan tes aku lebih dulu mengambil wudhu dan melakukan sholat tahajud. Aku mohon kepada Tuhan kalau pun akan kecewa aku diberi kekuatan. Usai sholat tahajud, aku sudah tak sabar lagi ingin melakukan tes kehamilan. Dalam remang-remang kegelapan malam, aku seperti melihat ada tanda silang tertera pada benda kecil itu. Supaya lebih jelas lagi, aku beranjak keluar kamar, dan menyalakan lampu. Sungguh apa yang kuharapkan selama ini ternyata benar-benar menjadi kenyataan. Saking girangnya., cepat-cepat kubangunkan Mas Marwan. Kutunjukkan hasil test pact yang ada dalam genggamanku. Mas Marwan pun terbelalak seperti tak yakin dengan apa yang dilihatnya. “Kalau begitu hasilnya, berarti aku hamil ya Mas,” kataku meyakinkan diriku sendiri. Tak ada jawaban. Namun Mas Marwan memelukku erat. “Yuk kita shalat bersama.” pinta Mas Marwan. Kami sujud syukur keharibaan Yang Kuasa, atas ijin-Nya, keinginan kami selama ini akhirnya terkabul juga. Ingin rasanya seluruh orang-orang di sekitar rumah kami aku beritahu atas apa yang kualami di pagi buta itu. Orang pertama yang kuberi tahu adalah Mama. Beliau menganjurkan agar hari itu juga aku ke dokter kandungan untuk memastikannya. Dokter menyatakan, aku memang benar-benar hamil. Tak kuasa aku menangis haru. Buah hati yang telah lama kami nantikan kedatangannya ternyata akan hadir di tengah-tengah kami. Saat-saat hamil adalah masa-masa yang amat menggembirakan. Apalagi aku selalu dalam keadaan fit, jarang aku merasa mual. Semuanya berjalan lancar tanpa suatu hambatan yang berarti. Tanggal 20 Januari 2005, aku melahirkan secara normal. Bayiku lahir sehat. Mas Marwan memberi nama Raihan Naim Pulungan. Ia tumbuh sehat dan lucu. Betul-betul bayi yang menyenangkan. Tak terlukiskan betapa kehadiran Raihan amat membahagiakan kami, tidak terkecuali Mama, yang turut cemas menanti-nanti kehadiran cucunya. Maklum aku anak tunggal. |
|
|