|
Cek Kesehatan Pranikah, Wajib!  Kompas.com - Kebanyakan orang sudah menyiapkan pesta pernikahan sejak jauh-jauh hari, agar acara besar itu berlangsung sesuai harapan. Sayangnya, peristiwa yang istimewa itu tidak dibarengi dengan pemeriksaan kesehatan pranikah. Padahal, cek kesehatan pranikah tak kalah berharga dibandingkan dengan pesta yang megah. Khususnya bagi kepentingan si pengantin dan keturunannya kelak.
Dengarlah percakapan antara dua sahabat lama ini.
A: "Apa kabarnya calon nenek? lya 'kan, aku yakin anakmu yang kemarin nikah sudah hamil, tho?" B: "Hamil... wong menderita kok hamil." A: "Menderita bagaimana? Dipestakan besar-besaran begitu kok menderita? Suaminya ganteng dan mapan lagi!" B: "lya memang, tapi ternyata dia gay. Mereka sedang proses bercerai. Tragis, ya? Enam bulan lalu pesta besar-besaran dan sekarang mengurus perceraian." Siapa pun pasti tidak menginginkan peristiwa seperti itu terjadi dan menimpa diri atau keluarganya. Kenyataannya, ada pasangan dan keluarga yang mengalami peristiwa tragis seperti itu. Harus diakui, ketika berbicara tentang rencana pernikahan, yang paling banyak menyita pikiran dan menguras kantong calon pengantin dan keluarganya adalah mempersiapkan pesta dan baju pengantin. Dua hal itulah yang biasanya membuat heboh, dan seringkali bikin stres. Seperti Nyonya B itu, ketika mempersiapkan pernikahan putrinya. Hampir enam bulan ia merancang agar acara istimewa bagi keluarga itu sempurna tanpa cacat, apalagi baru pertama kali ia melakukannya. Namun, ada satu hal yang amat sangat penting yang justru tidak dilakukannya, yaitu meminta putrinya dan si calon menantu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah. Dan tragis, pesta nyaris sempurna itu sekarang tak ada artinya karena sang menantu ternyata gay dan putrinya memutuskan bercerai. Bukan untuk gaya-gayaan Pemeriksaan kesehatan sebelum memasuki jenjang pernikahan sesungguhnya merupakan tindakan yang sangat baik untuk dilakukan. Bahkan dikatakan oleh Dr. Handrawan Nadesul, pemeriksaan kesehatan pranikah wajib dijalani oleh pasangan mana pun. "Tujuan pernikahan antara lain adalah untuk memperoleh buah yang unggul. Dengan dilakukan pemeriksaan ini, akan terlihat benih dari calon suami maupun istri, apakah campuran dari kedua bibit ini bisa menghasilkan benih buah yang unggul atau tidak," ujar Redaktur ahli Tabloid Gaya Hidup Sehat ini. Yang berkaitan dengan soal kecocokan darah, misalnya, apakah masing-masing pasangan membawa benih ketidaknormalan atau tidak, memiliki gen lemah yang sama atau tidak, selain juga untuk mengetahui ada tidaknya penyakit yang berpotensi mengganggu kehamilan. Karena itu, pemeriksaan kesehatan pranikah harus melibatkan kedua pasangan. Mengapa? "Karena masing-masing pihak bisa membawa penyakit, gen, atau bakat penyakitnya sendiri-sendiri yang belum tentu sama," ungkap Dr. Handrawan. Hal senada diutarakan oleh Dr. Choo Wan Ling, konsultan kebidangan dan kandungan dan Pusat Spesialis Pacific Healthcare, Singapura, melalui surat elektronik. Karena itu, banyak calon pasangan di Negeri Singa itu yang tetap ingin menjalankan pemeriksaan kesehatan, terutama untuk persiapan kehamilan, meskipun kedua belah pihak berada dalam kondisi sehat. Demi bibit unggul Tidak berlebihan jika dinasihatkan bahwa dalam memilih pasangan hidup juga perlu mengintip riwayat kesehatannya lebih dulu. Menurut dr. Handrawan, semakin berbeda ras dan kekerabatan, semakin bagus senyawa yang terbentuk pada buah keturunan. Sebaliknya, jika masih dekat garis darah, kemungkinan melahirkan anak cacat lebih besar. Dijumpainya penyakit, kelainan, atau gangguan penyakit tertentu namun tidak disembuhkan lebih dulu, bukan saja membahayakan perkawinan, melainkan juga bisa membahayakan anak yang bakal dikandung. Untuk kedua alasan itulah pemeriksaan kesehatan pranikah perlu dilakukan. Tujuan lain dari pemeriksaan kesehatan pranikah adalah supaya calon ibu dan calon ayah dapat mempersiapkan kehamilan yang sehat. "Agar anak yang dikandung nanti tergolong anak unggul, tak kurang sesuatu apa pun dalam tumbuh-kembangnya," kata Dr. Handrawan. Konsep foetal programming seperti disebutkan oleh Dr. Handrawan itu berarti mengupayakan agar program menciptakan anak unggul itu sudah dimulai sejak sebelum menikah. "Bagaimana memilih pasangan yang tepat, yaitu cocok, memiliki gen atau warisan penyakit yang tidak saling sinergis, sehingga tidak sampai melahirkan anak cacat; bagaimana merawat kehamilan agar bakat bibit unggul anak tumbuh optimal; sampai soal bagaimana membesarkan anak agar 'gelas kecerdasan' yang dimiliki anak terisi penuh," papar dr. Handrawan, seorang penulis buku yang sangat produktif ini. "Intinya, dengan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah ini kita ingin mengetahui kondisi kesehatan masing-masing pasangan sebelum menikah. Apalagi niat menikah kebanyakan orang adalah ingin memiliki keturunan yang sehat juga. Itulah alasan cek kesehatan pranikah sangat disarankan," sebut Dr. ON Khonsa, Sp.OG, spesialis kandungan dari RSIA Tambak, Jakarta. Pada mereka yang sudah pasti mengetahui di dalam diri dan keluarganya terdapat riwayat talasemia, hemofilia, atau yang terkait dengan kelainan, sebaiknya melakukan cek kesehatan. Enam bulan sebelumnya Pemeriksaan darah ini menjadi salah satu tes standar yang dapat dijalani oleh setiap calon suami istri. Dijelaskan oleh Dr. Handrawan, kelainan, abnormalitas, atau terbawanya bibit kecacatan tidak selalu terlihat dan fisik seseorang. "Lebih banyak tersimpan di dalam darah, seperti halnya bibit talasemia itu," ucap Dr. Handrawan. Bila calon suami maupun calon istri sama-sama membawa gen lemah talasemia, anak yang dilahirkan pasti mengidap talasemia yang tidak bisa disembuhkan. Pemeriksaan pranikah memiliki nilai agar anak talasemia batal terbentuk dan tidak menjadi beban keluarga maupun negara. Demikian pula untuk jenis kecacatan lain, termasuk diabetes, bibit kanker, buta warna, dan gangguan jiwa. "Rekomendasinya, melakukan pemeriksaan kesehatan enam bulan sebelum menikah. Itu ideal," kata Dr. Choo. Namun, ditegaskan Dr. Handrawan, bahkan sebelum menyatakan cinta sekalipun, juga ideal untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Siap? (GHS/Diana Yunita Sari) Sumber: http://kesehatan.kompas.com |
|
|
Assalamualaikum
By: aNna () on 07-09-2010 14:50