|
Hati-hati Dahsyatnya Godaan Dunia Oleh: Abi Wahidatun Muharramah Dalam al-Quran Allah SWT berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat [51] : 56-57). Dari ayat di atas jelas sekali bahwasanya tujuan utama penciptaan manusia di dunia ini tiada lain kecuali untuk mengabdi kepada Allah yang menciptakan bumi dan langit beserta seluruh isinya. Allah Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa, Maha Agung…. Yang telah mengutus para Nabi dan Rasul-Nya untuk ditaati dan diikuti apa yang telah dicontohkannya.
Dalam al-Quran Allah SWT berfirman: “…Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. al-Ahzhab [33] : 71). Generasi Awal Karena alasan itulah, Nabi saw dan para sahabat beliau, serta generasi pada periode awal, senantiasa memelihara tujuan luhur ini selama dua puluh empat jam, sehari semalam, serta mengerahkan seluruh potensi dan kemampuannya untuk meraih tujuan mulia tersebut. Sekalipun mereka sibuk dalam perdagangan, perniagaan, pekerjaan, agrikultur dan lain sebagainya untuk mendapatkan nafkah, toh semua itu tidak melalaikan mereka untuk tetap mengingat Allah. Sehubungan dengan itu, Allah SWT berfirman: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. an-Nur [24] : 37-38). Umat Muhammad pada periode-periode awal, sekalipun sesaat menikmati tidurnya yang indah dan terlelap di malam hari, toh tetap mereka bangun berdiri dihadapan-Nya untuk melakukan shalat lail dan memanjatkan doa kepada-Nya. Kadang-kadang mereka menangis karena merenungkan keagungan-Nya, dan kadang dipenuhi dengan rasa takut kepada-Nya atas segala dosa dan kelalaian yang dilakukan. Rasa takut terhadap siksa neraka-Nya, rasa rindu dengan surga-Nya, bahkan lebih dari itu, rasa rindu untuk berjumpa dengan-Nya. Mereka menghabiskan sebagian besar malamnya untuk beribadah secara sungguh-sungguh sambil memohon rahmat dan maghfirah Allah. Hal tersebut menunjukkan betapa umat Muhammad pada periode-periode awal, yang menerima tarbiyah (pendidikan) langsung dari Rasulullah saw amat antusias terhadap tujuan hidup sesungguhnya. Ibadah dan ketaatannya kepada Allah telah merasuk ke dalam seluruh jaringan tubuhnya. Mereka tidak hanya melakukan shalat di malam hari yang merupakan sarana yang amat penting untuk meraih kedekatan dan cinta (mahabbah) Allah secara rutin, bahkan lebih dari, mereka juga melakukan amalan-amalan kebajikan lain dalam hidup kesehariannya. Mereka berlomba-lomba menjalankan kebaikan (fastabiqul khairat), menegakkan hukum-hukum Allah dan sunnah-sunnah Rasulullah-Nya. Sebaliknya, kita, yang mengaku sebagai umat Muhammad, saat ini, justru menikmati kesenangan hidup ini dan makan-minum bagaikan “binatang ternak.” Alih-alih mengikuti perintah dan petunjuk yang ditransmisikan melalui kerasulan Muhammad saw, kita malah lebih senang mengikuti alur dan keinginan hawa nafsu. Sebagian besar dari kita yang tidak lagi peduli dan menghiraukan pentingnya menegakkan hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya serta amal-amal shaleh lainnya. Godaan Dunia Umat Muhammad saat ini, banyak yang terpesona dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Sehingga rela berkorban apa saja demi mendapatkannya. Bahkan tidak jarang kita jumpai orang-orang yang menghalalkan segala cara seperti: mencuri, menipu, merampok, suap-menyuap/sogok, korupsi dan sebagainya demi mendapatkan keindahan dunia tersebut. Dan lalai dalam usaha meraih keberuntungan yang lebih besar kelak di akhirat. Mereka berani melanggar hukum Allah dan Rasul-Nya. Tapi, bagi orang-orang yang beriman dan takwa kepada Allah, ia senantiasa menjaga diri dari tipu daya setan melalui godaan dunia. Dan akan lebih mementingkan untuk meraih keberuntungan yang sejati kelak di akhirat. Bagi orang beriman, dunia ini hanyalah sarana untuk didayagunakan sebaik-baiknya demi mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya kelak di akhirat. Allah SWT berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: "Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (TQS. ali-Imran [3] : 14-17). Jadi ayat di atas menjelaskan kepada kita begitu banyak macamnya godaan dunia. Mulai dari wanita-wanita, anak-anak hingga harta benda, sawah ladang, binatang ternak, rumah mewah, kendaraan dan sebagainya. Atau dalam istilah lain dikatakan bahwa godaan dunia yang banyak menjerumuskan manusia yakni 3 (tiga) "TA (Harta, Tahta dan Wanita)." Namun Allah mengingatkan kepada kita bahwasanya kehidupan akhiratlah yang lebih baik dari semua itu. Allah SWT telah menyiapkan bagi hamba-hambanya yang beriman dan takwa kepada-Nya, syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Halal dan Baik Agar dapat menjadi sarana yang berdayaguna dan memiliki arti penting bagi manusia, maka berbagai macam keindahan perhiasan dunia tersebut, harus diperoleh dengan cara yang baik, suci dan halal (halalan thayyibah). Bukan dengan jalan curang, menipu, mencuri, merampok, suap/sogok dan korupsi seperti sekarang ini yang semakin marak diberitakan dan diperbincangkan orang. Sebab Allah hanya menerima hamba-hamba-Nya yang baik, suci dan makan makanan yang halal. Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Suhail (Abu Hurairah) bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Allah itu adalah baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik. Dan Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan sesuatu yang juga diperintahkan pada para nabi. Allah berfirman: ‘Hai para rasul, makanlah dari sesuatu yang baik dan lakukan amal shaleh.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.’ Setelah itu beliau menyebutkan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, dalam keadaan kotor (berdebu) dan pakaian yang kusut. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berkata: ‘Ya Tuhanku, ya Tuhanku. Sementara itu makanannya adalah haram. Minumannya haram. Pakaiannya haram. Dan dia dipenuhi dengan makanan yang haram. Maka bagaimana doanya bisa dikabulkan?” (HR. Muslim). Salah seorang sahabat pernah berkata (kepada Nabi saw): Berilah kami wasiat! Lalu Rasulullah saw bersabda: “Hal pertama yang akan membuat busuk seseorang adalah perutnya. Maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali makanan yang halal hendaknya dia melakukannya. Dan siapa yang mampu untuk tidak menghalangi antara dirinya dan surga dengan segenggam darah yang dia tumpahkan maka hendaknya dia melakukannya.” (HR. Bukhari). Dalam kitab asy-Syu’ab al-Iman, Imam Baihaqi mengutip pernyataan Yusuf bin asbah yang menyatakan: “Ketika setan melihat orang Islam yang begitu khusyu’ dalam ibadahnya tetapi dia tidak menjaga makanannya secara baik apakah didapatkan dari sumber yang halal atau haram, maka setan itu akan memberitahukan kepada setan lainnya untuk tidak usah mengganggu ibadahnya, dan tetap membiarkan apa yang dilakukannya. Sebab sekalipun ibadahnya baik (benar) tetapi tiada satu pun yang akan diterima oleh Allah karena rezki atau makanannya tidak halal.” Dari Miqdad bin Ma’di Kariba: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Seseorang tidak memenuhi suatu wadah yang lebih jelek dibandingkan perut. Cukuplah bagi anak cucu Adam beberapa suap makanan yang (dengan makanan tersebut) bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika dia harus melakukannya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmizi dan Ibnu Majah). Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan memberi kekuatan kepada kita untuk terus menegakkan hukum-hukum Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya. Terutama dalam hal mencari nafkah atau rezki yang halal, baik dan barokah. Sehingga kita terhindar dari dahsyatnya pengaruh godaan dunia. Sebab di sanalah terletak kesejahteraan, derajat dan kesuksesan kita, baik di dunia maupun kelak di akhirat. Insya Allah, amien! |