|
Bagaimana Menundukkan Nafsu? Oleh: Abu Muhammad Fadhlillah Ramadhani Nafsu adalah bagian dari jiwa manusia yang selalu mengajak kepada kejahatan dan penyelewengan. Untuk bisa mencapai hadirat Ilahi yang suci, seseorang harus mampu menundukkan dorongan-dorongan nafsu ini.
Rasulullah saw bersabda: "Siapa yang mampu menundukkan nafsunya, surgalah tempatnya. Sebaliknya, siapa yang mengikuti hawa nafsunya, neraka tempat kembalinya." Sahal At-Tastary berkata: "Sejelek-jelek maksiat adalah menurutkan bisikan nafsu. Banyak manusia yang tidak menyadari akan hal ini. Bila seorang murid mampu menjaga dirinya dari gejolak nafsu dan melakukan dzikir, hatinya menjadi bersinar dan terjaga. Setan lari menjauh, sehingga gejolak perasaannya menjadi ringan. Saat itu, ia menjadi mudah untuk menundukkannya." Lalu bagaimana cara menundukkannya? Cara Menundukkan Nafsu Untuk menundukkan nafsu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain: Pertama, mengurangi makan sedikit demi sedikit. Sebab, dengan mengurangi makan, maka energi nafsu menjadi lemah sehingga akhirnya ia mudah ditundukkan. Kedua, berpuasa dan menahan lapar. Ini penting, sebab gejolak nafsu memang tidak bisa ditundukkan selain dengan lapar. Dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dinyatakan bahwa: "Rasulullah saw sampai wafatnya belum pernah sekalipun kenyang, walau dengan roti dan gandum." Syeikh Imam Muhammad Al Mahdi Abdullah, kepada murid-muridnya sering bercerita bagaimana hebatnya perlawanan nafsu kepada Allah. Ketika Allah pertama kali menciptakan nafsu, Allah SWT bertanya kepadanya: "Wahai nafsu, siapa engkau dan siapa Aku ini?" Nafsu menjawab: "Engkau adalah engkau dan aku adalah aku." Lalu Allah melemparkan nafsu ke dalam api beberapa tahun lamanya dibakar, kemudian diangkat dan ditanya kembali: "Wahai nafsu siapa Aku dan siapa dirimu?" Nafsu menjawab: "Engkau adalah engkau dan aku adalah aku." Lalu Allah mempuasakan nafsu beberapa tahun lamanya, kemudian ditanya lagi: "Wahai nafsu, siapa Aku dan siapa dirimu?" Nafsu baru mengakui bahwa: "Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Agung, dan aku hamba-Mu yang lemah." Hal yang sama juga diceritakan oleh Muhyiddin ibn Arabi dalam sebuh kitabnya yang berjudul: Futuhat al-Makkiyah. Dikatakan bahwa, ketika pertama kali menciptakan nafsu, Allah SWT bertanya kepadanya: "Siapa Aku?" Nafsu membangkan dan balik bertanya: "Siapa pula aku ini?" Allah murka kepadanya, kemudian memasukkan nafsu ke dalam lautan lapar sampai 1000 (seribu) tahun. Kemudian dientas dan ditanya lagi, "Siapa Aku?." Setelah dihajar dengan lapar barulah nafsu mengakui siapa dirinya dan Tuhannya. "Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Agung, dan aku hamba-Mu yang lemah." Sejalan dengan hal tersebut, Abu Sulaiman ad-Darani juga berkata: "Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar." Maksudnya, Allah memberikan ilmu dan hikmah pada orang-orang yang lapar karena berpuasa dan menjadikan kebodohan dan tindak kemaksiatan pada mereka yang kenyang. Jadi makan kenyang dan nafsu adalah dua komponen yang saling mendukung. Yahya ibn Mu'adz ar-Razi menyatakan, keyang ibarat api, sedang nafsu ibarat kayu kering. Kayu nafsu yang membara karena energi makanan tidak akan mati sampai membakar habis orang bersangkutan. Karena itulah, maka kemudian Sahal ibn Abdullah menyatakan, siapa yang makan lebih dari dua kali sehari, maka hendaknya ia bersiap-siap menjadi kuda –liar. Selain itu, nafsu juga bisa diibaratkan sebagai anak sapi yang nakal. Untuk menundukkannya, anak sapi perlu dilaparkan, ditutupi kedua matanya dan diputar-putar pada gilingan kosong sambil dipukuli. Setelah sekian lama, ia akan menjadi tunduk dan menjadi penurut. Setelah itu, barulah dilepaskan penutup kedua matanya. Ketiga, bangun –shalat—malam (mengurangi tidur) dan melakukan amalan-amalan yang berat. Jadi sedapat mungkin kita berusaha mengurangi tidur. Sebab tidur itu sediri ibarat mati. Bahkan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dikatakan: "Banyak tidur akan mematikan hati." Ketika sedang tidur, seseorang tidak bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Memilih tidur daripada bangun shalat malam misalnya, berarti sama dengan kita telah menurutkan hawa nafsu. Hal ini juga sekaligus menjadi petunjuk bahwasanya dalam diri seseorang seperti ini, belum ada rasa cinta kepada Allah SWT. Syaddad bin Aus meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Orang yang cerdik adalah orang yang mampu menundukkan nafsunya dan bekerja untuk sesuatu yang akan datang setelah kematian (akhirat). Dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan pada (kemurahan) Allah." (THR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Sebaliknya, dengan bangun shalat malam, akan menghancurkan dan melepaskan manusia dari empat unsur kejadiannya: air, tanah, udara dan api. Selanjutnya, mereka akan mampu naik dan melihat alam malakut, alam ":atas" yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Dengan demikian, ia akan semakin bergairah dalam mencari keridhaan Allah SWT. Abu Hasan al-Azzaz menyatakan: "Persoalan ini (manusia mampu mencapai alam malakut) dibangun atas tiga dasar: Pertama, tidak makan sampai merasa lapar; Kedua, tidak tidur sampai sangat mengantuk; dan Ketiga, tidak berbicara bila tidak perlu." Sehubungan dengan hal tersebut, Ibn al-Hawari mengatakan, seseorang yang ingin masuk ke hadirat Ilahi tetapi tidak meninggalkan tiga masalah; pengaruh harta, makan, dan tidur, maka itu berarti omong kosong. Jadi tiga hal inilah sesungguhnya yang merupakan sarana dan kebutuhan dasar nafsu yang banyak menjerumuskan manusia. Apalagi misalnya, harta dan makanan yang didapatkan dan dikomsusi itu dari sumber yang haram. Katakanlah dari hasil mencuri atau korupsi. Maka dapat dipastikan bahwa hal tersebut akan menjadikan pelakunya semakin jauh dari keridhaan Allah. Ibadahnya Tidak Diterima Allah Seseorang yang memiliki harta dan mengkonsumsi makanan yang haram, ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah SWT. Meskipun ia rajin shalat tahajjud, puasa sunnah, dan telah menunaikan ibadah haji, semua itu sia-sia belaka. Oleh karenanya, perlu adanya etika dan perbuatan baik (amal shaleh) yang sesuai dengan Hukum Allah dan Rasul-Nya, yakni al-Quran dan Hadits Nabi saw. Dalam al-Quran Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (QS. Al-Hajj [22] : 77). Hadits-hadits dibawah ini cukup menjelaskan hal tersebut. Antara lain, diriwayatkan dari Abdurrahman bin Suhail (Abu Hurairah) ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Allah itu adalah baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik. Dan Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan sesuatu yang juga diperintahkan kepada para rasul. Allah berfirman: Hai para rasul, makanlah dari sesuatu yang baik dan lakukan amal shaleh. Dan Allah juga berfirman: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. Setelah itu, beliau menyebutkan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, dalam keadaan kotor (berdebu) dan pakaian yang kusut. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berkata: Ya Tuhanku, ya Tuhanku. Sementara itu makanannya adalah haram. Minumannya haram. Pakaiannya haram. Dan dia dipenuhi dengan makanan yang haram. Maka bagaimana doanya bisa dikabulkan?" (THR. Imam Muslim). Salah seorang sahabat pernah berkata (kepada Rasulullah saw): Berilah kami wasiat! Rasulullah saw bersabda: "Hal pertama yang membuat busuk seseorang adalah perutnya. Maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali makanan yang halal hendaknya dia melakukannya. Dan siapa yang mampu untuk tidak menghalangi antara dirinya dan surga dengan segenggam darah yang dia tumpahkan maka hendaknya dia melakukannya." (THR. Imam Bukhari). Dalam kitab asy-Syu'ab al-Iman, Imam Baihaqi mengutip pernyataan Yusuf bin Asbah yang menyatakan: "Ketika syaithan melihat seorang Muslim yang begitu khusyu' dalam ibadahnya tetapi dia tidak menjaga makanannya secara baik, apakah didapat dari sumber yang halal atau haram, maka syaithan itu memberitahukan kepada syaithan yang lainnya untuk tidak usah mengganggu ibadahnya, dan tetap membiarkan apa yang dilakukannya. Sebab sekali pun ibadahnya baik (benar) tetapi tiada satu pun yang akan diterima oleh Allah karena makanannya tidak halal." Dari Miqdad bin Ma'di Kariba: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Seseorang tidak memenuhi suatu wadah yang lebih jelek dibandingkan perut. Cukuplah bagi anak cucu Adam beberapa suap makanan yang (dengan makanan tersebut) bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika dia harus melakukannya, sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya." (THR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Wajar ketika baru pulang dari perang Badar yang dimenangkan kaum Muslimin, Rasulullah saw mengatakan: "Kita baru saja pulang dari perang kecil." Sahabat heran, lalu Rasulullah saw bersabda: "Perang yang lebih besar adalah melawan hawa nafsu." Jadi sekarang ini sesungguhnya kita sedang menghadapi peperangan yang lebih besar melawan hawa nafsu. Demikianlah beberapa Hadits yang merupakan nasihat dan pesan dari Rasulullah saw yang hendaknya menjadi pegangan bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia. Semoga Allah SWT memberi kesempatan kepada kita untuk melaksanakan nasihat dan pesan mulia tersebut. Sebab di sanalah letaknya menemukan hakikat kesejahteraan, derajat dan kesuksesan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Insya Allah. Amiin! |