Ny. Wati Ningsih BAYIKU CUMA BERTAHAN HIDUP SATU JAM Saat Wati Ningsih hamil anak pertama, selama empat bulan ia keluar masuk rumah sakit. Mual-mual yang dirasakan, membuat seluruh persendiannya sakit, ngilu, nyeri dan kaku. Tak pernah terduga, ternyata itu adalah gejala ketidakberesan pada bayi yang dikandungnya. Lingkar kepala si bayi yang kecil, dan jantungnya yang lemah, membuat cabang bayi itu hanya bertahan hidup selama satu jam. Dengan Aquatreat Therapy akhirnya Wati dapat hamil dan melahirkan bayi yang sehat. Kalau mengingat penderitaan yang dirasakan saat hamil pertama, rasanya aku enggan untuk hamil lagi. Masih segar dalam ingatanku, bagaimana tersiksanya masa-masa di awal kehamilan dulu. Baru saja kehamilanku memasuki usia satu bulan, keadaan fisikku sudah ambruk lunglai, sampai terkapar tak berdaya. Sungguh tak kuduga kalau itu merupakan awal dari penderitaan yang amat menyiksa fisik dan kesehatanku hingga beberapa bulan berikutnya. SELAMA DUA HARI MUAL DAN MUNTAH YANG BERLEBIHANSuatu pagi terasa kondisi fisikku tidak seperti hari-hari biasanya. Begitu terbangun dari tidur, rasa letih menyergap seketika. Namun aku paksakan juga untuk beranjak dari tempat tidur. Langkahku terhuyung-huyung menuju kamar kecil. Belum sempat membasuh muka, aku sudah muntah-muntah. Tubuhku terasa panas-dingin. Agar terasa lebih ringan, seluruh tubuh kubalur dengan minyak angin. Memang setelah itu ada sedikit perubahan, tubuhku mulai terasa lumayan segar. Namun ketika menjelang siang, mual-mualku kambuh lagi diiringi muntah yang berlebihan. Rasanya tak tertahankan lagi, aku tergolek lemas. Waktu itu seluruh isi perutku habis terkuras. Padahal hari itu aku sama sekali belum menyentuh makanan. Sejak beberapa hari lalu, selera makanku hilang. Padahal aku sudah berusaha membuat makanan kegemaran. Keesokan harinya aku justru semakin sering merasa mual dan berakhir dengan muntah-muntah. Dalam keadaan seperti itu sekujur tubuhku berkeringat dingin. Bahkan tak jarang berakhir dengan rasa pusing dan lemas yang luar biasa. Aku sunggguh-sungguh tersiksa. Begitulah keadaanku selama dua hari. Muntah, pusing dan lemas silih berganti. Keesokan harinya aku kontrol ke rumah sakit. Sebenarnya aku tak berdaya untuk beranjak dari pembaringan, tapi karena desakan Mas Seno Setiadi, suamiku, akhirnya kupaksakan juga pergi bersamanya. Menurut hasil pemeriksaan ternyata aku hamil. Mendengar ucapan dokter tentang kehamilanku, serta-merta hatiku berubah senang, meskipun rasa mual dan muntah masih belum teratasi. Belum apa-apa aku sudah membayangkan akan menjadi seorang ibu dari seorang bocah mungil yang lucu. Berita menggembirakan ini sudah selayaknya kami syukuri, apalagi kami termasuk belum lama menikah. Dengan kehamilanku ini, sebagai wanita aku merasa sempurna. Bayang-bayang akan kehadiran si buah hati menjadi kebahagiaan tersendiri yang akhirnya memicu semangat hidupku untuk sehat. Siapa sangka kalau kebahagiaan ini ternyata umurnya tak lebih dari bilangan hari. Sebab selang dua jam setelah minum obat pemberian dokter, mual-mualku kambuh lagi. Perutku bagai diaduk-aduk dan dihempaskan. Keadaanku tidak pernah merasa nyaman. Padahal aku sudah berusaha agar dapat menelan obat. Masalahnya sejak dulu minum obat menjadi momok yang menakutkan, karena aku selalu kesulitan jika ingin menelan obat. Rasa mual yang terus-menerus membuat aku merasa tidak enak badan. Sekujur tubuhku terasa letih. Aku tidak ingin terkapar lunglai di pembaringan, sehingga sesulit apapun minum obat, tetap aku usahakan. Begitulah keesokan harinya pagi-pagi aku sudah sarapan, agar secepatnya dapat minum obat. Dengan begitu, aku berharap keadaanku bisa lebih membaik dari hari kemarin. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Sebab selang dua jam kemudian aku kembali mual-mual. Mungkin inilah resiko bagi wanita yang sedang hamil, sering mual dan pusing, begitu hibur diriku setiap kali mual itu datang. Entah kenapa rasa mual dan muntah tak kunjung mereda. Dalam situasi yang semakin tidak nyaman ini, lagi-lagi aku berusaha menghibur diri. Meski pada akhirnya aku pasrah, menerima keadaan yang tidak menyenangkan ini. Adakalanya menjelang pagi aku sudah diserang rasa mual, pada hari yang lain rasa mual itu bisa datang siang hari. Yang paling mengganggu jika mualnya terjadi saat aku hendak tidur. Sepanjang malam tidurku terganggu. Mulanya kupikir mual dan pusingku akan hilang jika obatnya sudah habis. Ternyata setelah seluruh obat habis, aku bukannya terbebas dari mual, malah mualnya semakin menjadi-jadi. Karena terus- menerus mual, aku jadi bingung harus berbuat apa lagi. Hari-hari selanjutnya aku berusaha mengatasi rasa mual tanpa obat. Yang terjadi malah semakin parah. Rasa tak nyaman itu kurasakan sepanjang hari. Fisikku melorot kurus karena tak mampu makan dengan baik lagi. Rasanya aku tak kuat menanggung rasa mual ini, bahkan aku pernah sampai jatuh pingsan. DIRAWAT DI RUMAH SAKITKondisiku yang lemah tak berdaya membuat aku sering pingsan. Suatu pagi tanpa kusadari aku dibopong ke rumah sakit. Dokter mengharuskan aku dirawat di rumah sakit. Aku terpaksa diinfus karena mengalami dehidrasi, kurang cairan. Rasa mualku agak mereda. Empat hari kemudian keadaanku sudah lebih membaik. Dokter akhirnya menginjinkan aku pulang setelah keadaanku pulih, dengan syarat aku harus banyak istirahat dan teratur minum obat. Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, ternyata aku masih mual. Fisikku semakin lemah, hampir tak ada tenaga yang mampu menggerakkan anggota tubuhku. Mulanya kufikir keadaan serupa ini hanya akan berlangsung pada minggu-mingu pertama kehamilan. Ternyata tidak demikian. Hari berganti bulan, mual pun tak kunjung berakhir. Dalam sehari aku belum pernah terbebas dari rasa mual yang menjengkelkan ini. Selera makanku sudah hilang sama sekali. Padahal menurut dokter agar janinku dapat tumbuh sehat, aku harus makan teratur. Apa boleh buat saran dokter tidak bisa aku jalani. Hari-hari berikutnya, keadaanku semakin bertambah lemah. Jika berjalan tubuhku terhuyung-huyung seakan tidak ada keseimbangan. Keadaan seperti ini membuatku kesal sekaligus sedih. Aku sering menangis sebab tidak sembuh-sembuh juga. Hampir setiap minggu aku kontrol ke klinik bersalin. Dan entah sudah berapa kali aku keluar masuk rumah sakit. Begitu tidak nyamannya diriku sepanjang hari. Pernah saking bosannya dirawat, aku minta jika memang harus diinfus untuk menambah cairan tubuh, hal itu bisa dilakukan di rumah saja. Kebetulan ada tetangga yang menjadi perawat. Dialah yang merawatku setiap kali aku harus diinfus di rumah. Suatu hari ketika sedang diinfus, aku sempat pingsan di kamar mandi. Ceritanya, karena tidak ada orang di rumah, aku turun dari tempat tidur menuju kamar mandi sendiri. Sampai di pintu kamar mandi tiba-tiba kakiku tersandung ember. Aku terpelanting, tubuhku terjerembah di kamar mandi. Untung tidak lama kejadian, ada ponakan datang. Serentak mendengar ada kegaduhan di kamar mandi, ia langsung melongok dan melihat diriku tengah terkapar di lantai kamar mandi. Suamiku yang ketika itu sedang menjaga wartel, buru-buru diapnggil. Semenjak kejadian itu, aku tak pernah lepas dari pengawasan. Aku beruntung, meski diganggu rasa mual yang tak berkesudahan, kehamilanku tetap bisa dipertahankan. Memasuki usia kehamilan lima bulan, rasa mual-mualnya sudah mulai mereda. Selera makanku mulai timbul. Seperti biasa, tiap bulan aku rutin kontrol ke dokter. Karena mualnya sudah berkurang, keadaan fisikku sudah jauh membaik. Aku jauh lebih kuat. Aku mulai jarang mengeluh sakit. Memasuki usia kehamilan delapan bulan, dokter menganjurkan untuk melakukan USG. Sebagai orang awam, terus terang aku tidak tahu apa itu USG dan apa pula manfaatnya. Tapi karena itu saran dokter, aku menurut saja. Baru belakangan aku memahami USG gunanya untuk mengetahui keadaan janin di dalam rahim ibunya. Hasil USG-ku ternyata cukup mengkhawatirkan. Aku masih ingat ketika dokter menjelaskan hasilnya, ia begitu hati-hati sekali. Menurutnya, pada kepala janin ada yang aneh, terlihat semacam gumpalan yang katanya berupa cairan, lebih jauh dikatakan kondisi jantung si bayi lemah. Apa yang baru saja kudengar membuat hatiku menjadi sedih. Aku seperti dihantui pikiran buruk. Dokter menganjurkan agar aku tes lab khususnya virus toxo. Dari hasil lab, ternyata aku mengandung virus CMV yang angkanya cukup tinggi. Meskipun perasaan sedih terus menyertai, namun sebagai orang awam aku tidak yakin sepenuhnya dengan ucapan dokter. . Untuk lebih meyakinkan keadaan janin di dalam rahimku, aku mendatangi dokter yang lain. Setelah dikontrol, apa yang diucapkan dokter yang satu ini jauh berbeda dengan dokter sebelumnya. Katanya tidak ada masalah dengan janinku. Tentu saja aku jadi bingung, tidak tahu pernyataan dokter yang mana yang dapat dipercaya. Walaupun begitu, perkataan dokter tempatku selama ini konsultasi terus menghantui pikiranku. Aku terus-menerus dibayang-bayangi rasa takut. Aku sungguh khawatir jika bayiku benar-benar lahir cacat. MENDATANGI PENGOBATAN TORCHSuatu hari Mas Seno mengikuti acara pengobatan TORCH di televisi. Pada acara itu dijelaskan sudah banyak pasien yang berhasil disembuhkan dari penyakit TORCH dengan meminum Aquatreat Therapy. Apa yang diutarakan di televisi menggugah hati Mas Seno untuk membawaku mencoba melakukan pengobatan alternatif itu. Mas Seno yakin kalau penyakitku dapat sembuh melalui Aquatreat Therapy yang baru saja didengarnya. Apalagi obatnya berupa cairan, sehingga bisa dengan mudah aku meminumnya. Mulanya aku sendiri sempat ragu, tetapi karena Mas Seno tetap mendesak, akhirnya aku turuti juga kemauannya untuk berkonsultasi tentang penyakit TORCH. Ketika kami mendatangi tempat praktek Pak Juanda, demikian nama pakar yang mampu mengobati virus toxo itu—usia kandunganku sudah masuk delapan bulan. Kedatangan kami disambut hangat oleh Ibu Bambang, asisten Pak Juanda. Kami segera memaparkan kondisi kehamilan yang buruk dan hasil uji darah yang mencemaskan di hadapan Pak Juanda. Kami mencemaskan janin yang telah memasuki masa kelahiran bulan yang akan datang. Pak Juanda menganjurkan agar aku segera minum Aquatreat Therapy. “Seharusnya ini diminum pada awal kehamilan, tapi tidak apa-apa mudah-mudahan saja masih sempat tertolong “ kata Ibu Bambang seusai konsultasi dengan Pak Juanda. Tanggal 27 Oktober 2003, sepagian perutku terasa mules. Aku curiga jangan-jangan aku akan melahirkan. Aku cepat-cepat ke dokter. Menjelang sore bayiku lahir. Ketika lahir, bayi ini tidak bergerak sama sekali. Sesuai ucapan dokter, lingkar kepalanya memang kelihatan kecil, Dokter juga mengatakan jantung bayiku lemah. Menurut dugaan dokter keadaan bayi yang lahir dalam keadaan seperti bayiku ini, usianya pendek. Benar kata dokter, satu jam kemudian, bayi yang masih merah itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Aku sedih bukan main. Harapanku menjadi seorang ibu seketika sirna. MELANJUTKAN MINUM AQUATREAT THERAPY Kesedihan tak kunjung hilang dari keseharianku. Aku sadar, aku tak boleh terus hanyut dalam sesalan. Aku harus mengobati diriku agar bebas dari virus. Aku melanjutkan minum Aquatreat Therapy, hingga virus CMV dalam tubuhku negatif. Ketika itu aku dianjurkan untuk melakukan kembali program hamil. Terus terang aku masih takut jika teringat bagaimana menderitanya aku di awal-awal kehamilan.
Yakin akan pertolongan Allah, aku akhirnya menyetujui program hamil. Ternyata tiga bulan kemudian aku sudah hamil. Selama hamil aku terus rutin minum Aquatreat Therapy. Alhamdullilah selama ngidam aku tak mengalami banyak keluhan. Hanya sesekali aku mual. Sungguh suatu mujizat yang luar biasa. Keadaanku bisa sehat selama kehamilan anakku yang kedua ini. Pada tanggal 24 Oktober 2004, Alhamdullilah, Allah mengabulkan permohonan doa kami berdua. Kelahiran bayi kami yang kedua ini bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan. Meski kelahirannya secara caesar, Reihan Risang Ramadhan tumbuh menjadi anak yang sehat. Dengan kehadiran Reihan, kami berterima kasih kepada Pak Juanda yang telah mengobati penyakitku hingga sembuh dan kini kami dikaruniai anak yang sehat. [] |