15.000 Anak Lahir Cacat Celah Bibir  BANDUNG, (PR).- Satu dari 600 anak yang lahir di dunia ini adalah penderita celah bibir dan/atau langit-langit (CB/L). Bahkan, 15.000 anak lahir setiap jamnya dengan CB/L. Di Indonesia, persentase CB/L yang disebut anomali kraniofasial ini sudah mencapai 36,81%. Demikian disampaikan Prof. Dr. H. Eky S. Soeria Soemantri, drg., Sp.Ort., dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar tetap pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, di aula Unpad, Jln. Dipatiukur, Bandung, Sabtu (29/7).
Ia mengatakan, meskipun penelitian yang menjelaskan kondisi CB/L di Indonesia masih terbatas, penelitian Anthony Pelly menyebutkan perbandingan jumlah penderitanya 1,7 per 1.000 kelahiran. Khusus di Kota Bandung, jika mengacu pada penelitian Prawira Winata, perbandingannya mencapai 1,5 per 1.000 kelahiran. Apabila angka itu dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada, diperkirakan 4.000-5.000 penderita CB/L akan bertambah setiap tahunnya. Kendati angka pertumbuhannya cukup cepat, CB/L tetap menjadi cacat bawaan yang etiologinya belum diketahui secara pasti. Kondisi ini bisa disebabkan faktor herediter (lingkungan), antara lain obat-obatan, rokok, dan lainnya. "Di Indonesia, CB/L banyak dikaitkan dengan faktor kurangnya nutrisi pada ibu hamil," ujar Dekan FKG Unpad tersebut. Eky menjelaskan, nutrisi yang berperan dan terkait dengan timbulnya CB/L itu adalah asam folat, EFA, dan DHA dalam perkembangan janin. Namun, banyak faktor yang bertanggung jawab terhadap timbulnya CB/L meskipun faktor herediter memegang peranan utama. Terlupakan Dalam kondisi sekarang, meskipun anak penderita CB/L cukup banyak, status mereka di beberapa kajian ilmiah tetap disebut the forgotten child (anak yang terlupakan). "Di Indonesia, seringkali penatalaksanaan penderita CB/L tidak berjalan dengan baik. Penyebabnya, banyak penderita dari keluarga prasejahtera serta tidak memiliki kesempatan untuk mendapat perawatan," tuturnya. Padahal, lanjut Eky, perawatan paripurna sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi kecacatan wajahnya. Jika tidak dilakukan perawatan memadai dan menyeluruh, setiap tahun kelompok penderita semakin bertambah banyak. CB/L yang merupakan cacat bawaan akibat kegagalan penyatuan tonjolan wajah, berdampak pada timbulnya gangguan tumbuh kembang yang abnormal. Itu terjadi pada usia enam minggu setelah konsepsi, yakni saat proses pembentukan bibir atas dan langit-langit primer. Kegagalan tumbuh kembang tersebut, juga akan menimbulkan berbagai macam kelainan, antara lain estetik dan psikososial dari penampilan wajah. Selain itu, timbul hambatan fungsional seperti cacat bicara dan infeksi telinga bagian tengah. Selain itu, kekurangan gizi karena sulitnya makan sehingga mengganggu kesehatan. "Maka, penanganan penderita CB/L harus bersifat interdisipliner atau ditangani oleh ahli dari berbagai disiplin ilmu. Misalnya, dokter anak, dokter bedah plastik, psikolog, dokter gigi, dan lainnya. Selain itu, diperlukan pula pusat-pusat rehabilitasi sehingga perawatan dan kondisi penderita selalu bisa dievaluasi secermat mungkin," tutur Eky. Saat ini, pusat perawatan penderita CB/L sudah tersedia di FKG Unpad sekaligus menjadi sebuah klinik integrasi untuk menampung kasus lama dan baru. "Untuk hasil lebih optimal, tentunya butuh dukungan keluarga dan masyarakat dalam bentuk parents supporting group," ujarnya. (A-160)*** Sumber: http://astrind.multiply.com/reviews/item/3 |
|
|