Beranda arrow Buletin Tarbiyah arrow 092 Ali bin Abi Thalib a.s.
Newsflash
JADWAL PRAKTIK
AQUATREAT 2012
 
 
Read more...
 
Menu Utama
Beranda
INFO Torch
News
Kesaksian
Jadwal Praktik
Kontak Kami
Menu Religi
Buletin Tarbiyah
Dakwah
Komentar Terbaru
Epilepsi, Bagaimana Jalan...
Operasi
Adik saya usia 5 tahun pernah jatuh...
30/01/12 03:49 Selengkapnya...
Oleh: Ephron

Jadwal Praktik 2012
lahir tanpa tempurung kepala
ass.. nanya pak, ada nggak hubungannya...
27/01/12 22:22 Selengkapnya...
Oleh: anggraini marsyal

Jadwal Praktik 2012
telah ada di Semarang
Terima kasih telah membuka praktek di...
23/01/12 21:47 Selengkapnya...
Oleh: Heri Stiyawan

9 Tahun Menanti Buah Hati
pertanyaan tentang epilepsi
Assalmualikum Ir.H.A. Juanda saya...
23/01/12 01:21 Selengkapnya...
Oleh: Ahmad Hanif

Dokter Memvonis Aku,...Tak...
semangat buat ibu
Allahuakbar..... ibu sungguh tegar...
18/11/11 22:28 Selengkapnya...
Oleh: arisna_kalimantan

Jadwal Terbaru
No events
092 Ali bin Abi Thalib a.s. PDF Print E-mail
Friday, 11 July 2008
 

Ali bin Abi Thalib a.s.

 
Amirul Mukminin Ali AS adalah anak keempat Abu Thalib. Ia dilahirkan di Makkah pada hari Jumat tanggal 13 Rajab tepatnya di dalam Ka'bah. Kelahirannya terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum peristiwa tahun Gajah dan dua puluh tiga tahun sebelum periode hijrah. Ibunya adalah seorang wanita luhur yang berjiwa mulia bernama Fathimah binti Asad bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ia tinggal di rumah ayahnya hingga berusia enam tahun.

Ketika Rasulullah SAW berusia lebih dari tiga puluh tahun, paceklik sedang menimpa kota Makkah dan barang-barang pangan serba mahal. Hal inilah yang menyebabkan Ali kecil hidup bersama Rasulullah SAW selama tujuh tahun hingga tahun-tahun pertama Bi'tsah dan mendapatkan didikan langsung darinya.

Pada khotbah ke-192 Nahjul Balaghah ia bercerita tentang dirinya: "Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya".

Setelah Rasulullah SAW diutus menjadi nabi, Ali AS adalah orang pertama yang beriman kepadanya. Abu Thalib untuk pertama kalinya melihat anak dan misanannya mengerjakan shalat bersama. "Anakku, apa yang sedang kau lakukan?", tanyanya heran. Ia menjawab: "Wahai ayah, aku telah memeluk ajaran Islam dan mengerjakan shalat bersama misananku". "Janganlah kau berpisah darinya, karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan", sang ayah menimpali.

Ibnu Abbas berkata: "Orang pertama yang melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAW adalah Ali". Dan Rasulullah SAW diutus menjadi nabi pada hari Senin dan Ali  mengerjakan shalat pada hari Selasa.

Pada tahun ketiga Bi'tsah, setelah ayat yang bermakna: "Dan berilah peringatan kepada keluarga dekatmu" turun, Rasulullah SAW mengundang seluruh keturunan Abdul Muthalib ke rumahnya. Mereka berjumlah empat puluh orang. Setelah makan siang, Rasulullah SAW tidak mendapat kesempatan untuk berbicara. Pada hari berikutnya ia mengundang mereka lagi untuk makan siang ke rumahnya. Setelah usai makan, Rasulullah SAW berkesempatan berbicara di hadapan mereka: "Siapakah di antara kalian yang siap untuk menolongku dan beriman kepadaku sehingga ia akan menjadi saudara dan penggantiku setelah aku wafat?" Ali AS  berdiri dan berkata: "Aku siap untuk menolongmu dalam menempuh jalan ini!". "Duduklah", jawab Rasulullah SAW singkat.

Rasulullah SAW mengulangi ucapannya, dan tidak ada seorang pun yang bangun menyatakan kesiapannya kecuali Ali AS. Ia pun menyuruhnya duduk.

Untuk yang ketiga kalinya Rasulullah SAW mengulangi ucapannya, dan hanya Ali AS yang menyatakan kesiapannya. Akhirnya ia bersabda: "Sesungguhnya orang ini (Ali) adalah saudaraku, washiku, wazirku, pewarisku dan khalifahku untuk kalian sepeninggalku".

Setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, akhirnya segala faktor pendukung dan persiapan untuk hijrah ke Madinah tersedia. Pada malam hijrah, Rasulullah SAW berkata kepada Ali AS : "(Malam ini) engkau harus tidur di atas ranjangku!". Malam itu Ali AS tidur di atas ranjang Rasulullah SAW. Malam itu bertepatan tanggal 1 Rabi'ul Awal tahun keempat Bi'tsah dikenal dengan nama Lailatul Mabit. Berdasarkan beberapa riwayat, pada malam itu satu ayat turun berkenaan dengan keutamaan Imam Ali AS.

Beberapa malam sebelum hijrah, Rasulullah SAW pergi menuju Ka'bah bersama Ali AS. Ia berkata kepadanya : "Naiklah di pundakku!". Setelah Ali naik ke atas pundaknya, mereka menghancurkan beberapa buah patung yang mengelilingi Ka'bah. Setelah itu mereka bersembunyi supaya kaum Quraisy tidak mengetahui siapa yang melakukan itu.

Setelah Rasulullah SAW hijrah, Imam Ali AS baru dapat hijrah tiga hari setelah itu bersama ibunya, Fathimah binti Asad, Fathimah Az-Zahra`, Fathimah binti Zubair dan muslimin lainnya yang belum sempat berhijrah. Faktor keterlambatannya dalam melaksanakan hijrah adalah karena ia harus mengembalikan amanat-amanat Rasulullah SAW kepada para pemiliknya.

Di tahun pertama hijrah, ketika Rasulullah SAW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, ia berkata kepada Imam Ali AS : "Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat". Pada tahun kedua hijrah, Imam Ali AS menikah dengan Fathimah Az-Zahra` AS.

Bulan Ramadhan tahun kedua hijrah adalah bulan kemuliaan dan kebanggaan bagi Imam Ali AS. Pada tanggal 15 Ramadhan Allah mengaruniai Imam Hasan AS kepadanya dan pada tanggal 17 Ramadhan terjadi perang Badar yang telah membuktikannya sebagai pahlawan pemberani, dan hal itu menjadi buah bibir masyarakat Madinah.

Syeikh Mufid RA berkata : "Pada perang Badar muslimin berhasil membunuh tujuh puluh orang kafir dan Imam Ali AS membunuh tiga puluh enam orang dari mereka. Itu pun ia masih membantu yang lain dalam membunuh orang-orang kafir".

Pada bulan Syawal tahun ketiga hijrah pecah perang Uhud. Nama Imam Ali AS --sebagaimana di perang Badar-- menjadi buah bibir masyarakat. Di perang Uhud inilah Rasulullah SAW bersabda : "Ali adalah dariku dan aku darinya". Dan pada perang ini juga suara teriakan di langit menggema : "Tiada pedang kecuali Dzulfiqar dan tiada pemuda kecuali Ali".

Pada bulan Syawal tahun kelima hijrah perang Khandaq pecah. Di perang ini Imam Ali AS berhadapan langsung dengan 'Amr bin Abdi Wud. Berkenaan dengan hal tersebut Rasulullah SAW bersabda : "Manifestasi seluruh iman berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran". Pada kesempatan yang lain ia bersabda : "Peperangan Ali dengan 'Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak".

Pada tahun ketujuh hijrah, perang Khaibar kembali pecah. Pada suatu hari ketika muslimin sudah putus asa karena tidak dapat menjebol benteng Khaibar yang dijadikan pertahanan oleh orang-orang Yahudi, Rasulullah SAW bersabda : "Besok aku akan memberikan bendera komando pasukan ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia juga dicintai oleh mereka. Ia akan menyerang pantang mundur, dan tidak akan pulang kecuali Allah akan menganugerahkan kemenangan kepadanya".

Pada tahun ke-9 hijrah, perang Tabuk pecah. Dari dua puluh tujuh peperangan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW, hanya dalam perang ini Imam Ali AS tidak ikut serta. Hal itu dikarenakan Rasulullah SAW menyuruhnya untuk menjadi penggantinya di Madinah. Hadis manzilah berhubungan dengan peristiwa ini. Dalam hadis tersebut Rasulullah SAW bersabda: "Apakah engkau (Ali) tidak rela jika kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku".

Pada tanggal 5 Dzul Qa'dah 10 H., Rasulullah SAW mengutus Imam Ali AS ke Yaman untuk bertabligh, dan dengan ini banyak masyarakat Yaman yang memeluk ajaran Islam. Pada tahun itu juga peristiwa Ghadir Khum terjadi. Seraya mengenalkan Imam Ali AS sebagai penggantinya Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa yang aku maula (pemimpin)-nya, maka Ali adalah pemimpinnya". Hadis ini diriwayatkan oleh seratus sepuluh sahabat, delapan puluh empat tabi'in dan tiga ratus enam puluh ulama Ahlussunnah dari sejak abad ke-2 hingga abad ke-13 H.

Pada tahun ke-11 hijrah, Rasulullah SAW meninggal dunia. Imam Ali AS berkata : "Engkau (Muhammad) meninggal dunia dalam pelukanku". Padahal washi Rasulullah SAW sedang sibuk memandikan, mengafani dan menguburkannya, para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Saidah dengan tujuan mengadakan sebuah kudeta. Sebuah kudeta yang eksesnya memenuhi sejarah dengan lembaran hitam, menjadikan masa depan umat manusia gelap-gulita dan lebih dari itu, sunnah yang batil terwujud. Dinasti Umaiyah dan Abasiyah telah menduduki tahta kerajaan Islam dan menjadikan kekhilafahan sebagai sebuah permainan.

Dengan kata lain, peristiwa yang terjadi di Saqifah itu adalah dasar utama munculnya pengkhianatan besar terhadap muslimin. Karena dengan lebih mendahulukan orang yang biasa atas orang yang lebih dari segala segi, para sahabat yang berkumpul di Saqifah tersebut telah memenangkan permainan itu dengan segala tipu muslihat dan berhasil menon-aktifkan Imam Ali AS dari memegang khilafah. Padahal ia memiliki masa lalu yang cemerlang dalam membela Islam, ilmu dan takwa. Dan selama dua puluh lima tahun tidak hanya hak Imam Ali AS yang diinjak-injak melalui iming-iming kekayaan dan pemaksaan, hak umat Islam untuk mendapatkan seorang pemimpin yang adil dan alim juga tidak dihiraukan. Akhirnya, sistem khilafah semacam inilah yang memperlicin jalan bagi berkuasanya Bani Umaiyah dan Bani Abbas.

Sepanjang lima tahun pemerintahan Imam Ali AS banyak faktor yang selalu menjegalnya dalam usaha mewujudkan sebuah perbaikan universal dan keadilan sosial. Pada masa lima tahun itu mayoritas waktu dan tenaganya digunakan untuk membasmi segala bentuk kudeta dan berperang melawan naakitsiin (para pembelot dari bai'at seperti Thalhah dan Zubair), qaasithiin (para lalim seperti Mu'awiyah dan para pengikutnya) dan maariqiin (orang-orang yang enggan menaati segala instruksi Imam Ali AS seperti kelompok Khawarij Nahrawan).

Dengan demikian, Imam Ali AS dalam menjalankan pemerintahannya harus menghadapi dua realita pahit: Pertama, ia harus menangani disintegrasi bangsa dan Kedua, ia harus membasmi setiap penyelewengan dari dalam negara sebagai warisan yang telah ditinggalkan oleh pemerintahan masa lalu

Selama enam puluh tiga tahun hidup di tengah-tengah masyarakat, Imam Ali AS hidup dengan penuh kesucian jiwa, takwa, kejujuran, iman dan ikhlas dengan berpegang teguh pada semboyan "cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah". Dan ia tidak memiliki tujuan kecuali Allah dan setiap amalan yang dikerjakannya semuanya demi Allah. Jika ia sangat mencintai Rasulullah SAW, hal itu pun ia lakukan demi Allah. Ia tenggelam dalam iman dan ikhlas untuk Allah.

Faktor utama yang menyebabkan Imam Ali AS harus menyingkirkan Mu'awiyah dan berperang melawannya adalah karena aliran pemikiran yang dianutnya (yang dipoles dengan agama). Imam Ali AS berkata: "Mu'awiyah tidak pernah menjalankan Islam sepenuhnya, bahkan ia ingin melestarikan tradisi jahiliah ayahnya, Abu Sufyan. Ia ingin merubah eksistensi Islam dengan sebuah eksistensi yang lain dan masyarakat Islam dengan masyarakat yang lain. Ia ingin membentuk sebuah masyarakat yang tidak meyakini Islam dan Al Quran. Ia menginginkan khilafah diganti dengan sistem pemerintahan kaisar." Wallahu A’lam Bisshawab (*)


   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
 L          KPP      
YB     C    8 N   69J
 A    X8O   1 6      
 4     W    3 9   5MA
HUJ         WD4      
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >