Beranda arrow Buletin Tarbiyah arrow 086 Rezeki dan ... Penghambaan
Newsflash
JADWAL PRAKTIK
AQUATREAT 2012
 
 
Read more...
 
Menu Utama
Beranda
INFO Torch
News
Kesaksian
Jadwal Praktik
Kontak Kami
Menu Religi
Buletin Tarbiyah
Dakwah
Komentar Terbaru
Epilepsi, Bagaimana Jalan...
Operasi
Adik saya usia 5 tahun pernah jatuh...
30/01/12 03:49 Selengkapnya...
Oleh: Ephron

Jadwal Praktik 2012
lahir tanpa tempurung kepala
ass.. nanya pak, ada nggak hubungannya...
27/01/12 22:22 Selengkapnya...
Oleh: anggraini marsyal

Jadwal Praktik 2012
telah ada di Semarang
Terima kasih telah membuka praktek di...
23/01/12 21:47 Selengkapnya...
Oleh: Heri Stiyawan

9 Tahun Menanti Buah Hati
pertanyaan tentang epilepsi
Assalmualikum Ir.H.A. Juanda saya...
23/01/12 01:21 Selengkapnya...
Oleh: Ahmad Hanif

Dokter Memvonis Aku,...Tak...
semangat buat ibu
Allahuakbar..... ibu sungguh tegar...
18/11/11 22:28 Selengkapnya...
Oleh: arisna_kalimantan

Jadwal Terbaru
No events
086 Rezeki dan ... Penghambaan PDF Print E-mail
Wednesday, 28 May 2008
 

Rezeki dan Maqam Penghambaan

Oleh : Abu Muhammad Sayyid Dz.

            Beberapa hari terakhir ini, hampir semua orang mempermasalahkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Meskipun mayoritas masyarakat Indonesia menentangnya, tapi toh pemerintah tidak punya pilihan lain kecuali tetap mengambil keputusan pahit tersebut dengan memberikan konpensasi uang kepada masyarakat miskin yang mereka istilahkan bantuan langsung tunai (BLT).

Kalau kita mau mengkritisi masalah BLT ini tentu banyak sekali kelemahannya. Misalnya masyarakat diberi hanya tiga bulan lamanya, padahal harga sembako naiknya tidak hanya tiga bulan ke depan. Kedua, dengan adanya BLT ini justru membuka peluang terjadinya korupsi bagi aparat yang terkait. Ketiga, data masyarakat miskin yang dipakai tidak akurat sehingga BLT tidak tepat sasaran.

            Namun apa hendak dikata, toh sekarang ini kenyataannya BBM sudah naik seiring dengan naiknya semua harga barang dan kebutuhan hidup masyarakat. Oleh karena itu, saat ini bangsa Indonesia dituntut untuk mengencangkan ikat pinggangnya. Harus terus berusaha, bekerja keras, dan membuang jauh-jauh rasa malas serta belas kasih orang lain. Hidup mandiri harus tertanam secara mendalam pada diri setiap individu.

            Rezeki Diatur Allah

Kita harus sadar bahwasanya bumi ini diciptakan oleh Allah Swt untuk dikelolah oleh manusia sedemikian rupa. Allah hanya menyuruh kita mengerahkan segala potensi diri untuk terus berusaha (muhajadah), toh masalah rezeki telah diatur dan ditetapkan Allah sebelum kita lahir di dunia. Dan Allah pun telah berjanji dalam Al-Quran bahwasanya seluruh makhluk-Nya telah disediakan rezeki buat hidup mereka, dan tidak akan dimatikan-Nya sebelum dicukupkan ajal dan rezeki yang telah ditetapkan buat hamba-Nya.    

Allah Swt berfirman :

 “Dan tidak ada suatu makhluk yang  melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS : Al Huud [11] : 6)

Ayat tersebut menegaskan jaminan rezeki sekaligus mengungkapkan jaminan Allah dalam bentuk umum, meliputi seluruh makhluk. Seolah-olah Dia berkata, “Wahai hamba-Ku, jaminan dan rezeki-Ku tidak hanya untukmu, namun untuk seluruh makhluk yang melata di muka bumi. Jadi, perhatikanlah betapa luas jaminan-Ku dan kekayaan-Ku. Tak ada satu makhluk pun yang luput dari jangkauan-Ku. Karenanya, percayailah jaminan-Ku dan jadikan Aku sebagai sandaranmu. Jika kau memperhatikan pengaturan, pemeliharaan, dan jaminan-Ku terhadap pelbagai jenis binatang dan kau adalah jenis yang paling mulia, maka kau lebih layak untuk mempercayai jaminan-Ku dan mengharapkan karunia-Ku.”

Salah satu alasan kenapa manusia menjadi makhluk yang paling mulia adalah karena seluruh penciptaan Allah diciptakan untuknya. Allah SWT berfirman :

 “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS : Al Jaasiyah [45] : 13)

Jadi, kalau kita telah mengetahui bahwa seluruh alam diciptakan untuk kita, memberi manfaat atau pelajaran, kita pun harus mengetahui bahwa jika Allah memberi rezeki kepada makhluk yang tercipta untuk kita, bagaimana mungkin Dia tidak memberi rezeki kepada kita ?

Misalnya, kita memelihara seekor ayam atau seekor hewan peliharaan, selama kita masih sayang dan senang terhadap hewan tersebut, selama itu pun kita merawatnya dan memberi makan dan minum. Sampai ketika kita sudah mulai bosan dengannya, maka kita akan biarkan hewan itu atau kita tidak beri makan dan minum agar segera mati atau disembelih.

Demikian dengan kita, selama masih bernafas (hidup), yakinlah bahwa Allah pasti memberi makan untuk hidup. Makanya Nabi mengajarkan kepada kita senantiasa menjaga lima perkara sebelum datang lima perkara : Sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati. Hal ini perlu kita pahami !

Allah mengetahui bahwa manusia sering bimbang dan ragu dalam urusan rezekinya, sehingga Allah Swt berfirman :

 Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”                       (TQS : At-Talaaq [65] : 3)

Allah menganugerahkan kemuliaan kepada orang yang beriman ketika ia mengarahkan perhatiannya kepada Allah, percaya kepada-Nya, bukan kepada yang lain. Malulah kepada-Nya jika sudah diberi busana iman dan dihiasi pakaian makrifat tetapi kita lalai dan condong kepada makhluk atau meminta, mengharapkan  karunia dari selain Dia. Meminta kebutuhan kepada makhluk merupakan tindakan yang buruk, siapapun yang melakukannya, apalagi jika dilakukan oleh seorang mukmin.

Lewat hikmah dan karunia-Nya Allah menguji para pendusta ketika mereka menampakkan hasrat dan ambisi mereka yang tersembunyi. Mereka merendah kepada para pemilik harta, bermuka manis kepadanya, mengamini tingkah lakunya, serta bernafsu untuk menemani mereka hingga merasa yang paling dekat dengannya.

Penampilan mereka di muka umum serupa dengan penampilan mereka yang benar-benar dekat kepada Allah. Dan tampilan semacam itu menipu kalangan umum. Mereka tampil dengan pakaian orang yang jujur dan benar. Akan tetapi, tingkah laku mereka sesungguhnya menyimpang dari jalan Allah.

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani mengatakan, “Orang mukmin memperoleh rezeki melalui usaha yang dibuatnya, tetapi dia meyakini bahwa rezeki itu tidak diperolehnya tanpa izin dari Allah. Usaha yang dilakukannya hanyalah pemandangan lahir semata, namun pemandangan bathinnya ialah dari Allah SWT. Karena itulah kita mesti bersyukur atas segala kenikmatan yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Keutamaan Maqam Penghambaan

Ketahuilah bahwa kedudukan yang paling mulia di sisi Allah yang diberikan kepada manusia adalah sebagi hamba. Seluruh kedudukan lainnya hanyalah seperti pelayan bagi kedudukan ini.

Allah Swt berfirman :

 Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”  (TQS : Az-Zariyat [51] : 56-58)

Ibadah adalah bentuk lahir pengabdian dan penghambaan adalah ruhnya. Bila kita telah memahami hal ini, ketahuilah bahwa ruh dan hakikat penghambaan adalah tidak ikut mengatur dan tidak menentang takdir Tuhan. Jadi jelas, penghambaan adalah tidak mengatur dan memilih bersama rububiyah-Nya. Penghambaan sebagai kedudukan yang paling mulia hanya dapat dicapai dengan sikap tidak ikut mengatur. Jadi seorang hamba semestinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan terus berusaha mencapai tingkatan yang paling sempurna dan paling mulia.

Ketika Rasulullah Saw diberi pilihan menjadi nabi sekaligus raja atau nabi sekaligus hamba, ia memilih kedudukan hamba yang mengabdi kepada Allah Swt. Itulah dalil yang paling jelas bahwa kedudukan hamba adalah kedudukan yang paling mulia dan paling agung.

Nabi Saw bersabda,” Aku hanyalah hamba. Aku tidak makan sambil bersandar. Akan tetapi aku hamba Allah yang makan seperti para hamba lainnya makan.”

Nabi Saw juga bersabda,” Aku adalah pemimpin anak manusia, tidak bangga.” Menurut Syeikh Abu Al-Abbas As-Syadzili (guru dari Ibn Athaillah), arti hadist itu adalah ‘” Aku tidak bangga dengan kepemimpinan itu. Aku hanya bangga menjadi hamba Allah Swt. Untuk itulah manusia diciptakan.”

Allah Swt menjelaskan bahwa Dia tidak menciptakan hamba untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk beribadah (mengabdi) dan meng-Esakan-Nya.

Orang disebut faqih adalah yang memahami rahasia penciptaan kemudian bertingkah sesuai dengan alasan penciptaannya. Inilah fiqih atau pemahaman yang sebenarnya. Orang yang telah memahaminya berarti telah mendapatkan karunia yang sangat besar. Tentang hal ini, Imam Malik berkata, “Kefaqihan tidak dilihat dari banyaknya riwayat (ilmu) yang dimilikinya, namun kefaqihan adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati.”

Orang yang memahami rahasia penciptaannya, yaitu untuk taat dan mengabdi kepada Allah, akan hidup zuhud di dunia, berorientasi kepada akhirat, mengabaikan kepentingan dirinya sendiri, dan sibuk dengan hak-hak Tuhannya, seraya berpikir dan bersiap-siap menghadapi hari kemudian. Mereka adalah orang yang tidak lagi memikirkan dunia serta tertuju kepada dahsyatnya hari kiamat dan perjumpaan dengan Allah Penguasa langit dan bumi. Hal itu membuat mereka tak lagi ingin merasakan nikmat dunia dan tidak cenderung kepada kesenangannya.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajeha berdoa, “Wahai Allah, cukuplah bagiku kebanggaan bahwasanya Engkau menjadi Tuhan bagiku, dan cukupilah kemuliaan bagiku bahwasanya aku menjadi hamba bagi-Mu. Sesungguhnya Engkau seperti yang kuinginkan, maka jadilah aku seperti yang Engkau inginkan.”

Dilain waktu beliau (Ali bin Abi Thalib Ra) bermunajat, “Ya Allah, aku bersembah sujud kepada-Mu bukan karena takut akan api neraka-Mu, bukan karena aku mendambakan surga-Mu, melainkan karena aku tahu benar bahwa hanya Engkaulah yang berhak disembah. Karena itu aku bersembah sujud kepada-Mu.”

Baik kita renungkan nasehat Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dibawah ini :

Takutlah kepada Allah dan janganlah takut kepada selain-Nya !.

Serahkanlah segala harapanmu dan segala keperluanmu hanya kepada Allah. Janganlah kamu berharap kepada selain Allah !

Tumpukanlah kehendakmu dan permintaanmu hanya kepada Allah, dan bukan selain dari pada-Nya !

Tawakkallah kepada Allah semata, Bersatulah dengan Dia !

   
Kirim ke teman
Artikel yang berhubungan

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
QIE         JKS      
  B    P    4 9   XHA
LA1   LC4   MPG      
W      5    A U   LEO
AT8         YJT      
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >