Takwa dan Tawakkal Kepada-Nya Oleh : Ahmad Nuar Dwiyono Takwa adalah kata yang selalu bergandengan dengan kata iman. Penyebutan kata takwa dalam al-Quran selalu didahului dengan menyebutkan kata iman. Dua kata ini –iman dan takwa-- sangat populer di kalangan umat Islam (umat Muhammad). Di dalam al-Quran Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan selamat (berserah diri).” ( QS : Al Imran [3] : 102)
Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang beriman agar bertaqwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya taqwa. Suatu ketika Umar bin Khattab Ra pernah ditanya oleh seorang sahabat : “Wahai Umar, apa artinya taqwa?”, Umar menjawab : “Taqwa adalah sekiranya kamu berjalan pada suatu jalan yang licin (becek), kamu pasti berhati-hati agar tidak tergelincir.” Taqwa adalah takut kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Oleh sebab itu dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya kita harus memahaminya secara hati-hati agar tidak salah kaprah dalam menjalankannya. Makna hati-hati di sini mengisyaratkan bahwa manusia jangan sampai sembrono. Tapi apakah kita dapat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tanpa pertolongan-Nya? Kenapa kita tidak menyerahkan diri secara totalitas kepada Allah? Padahal Dia Maha Mengetahui bagaimana cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Sesungguhnya Dia-lah yang mengerti kunci-kunci rahasia dalam menegakkan hukum-Nya. Jika sekiranya hanya Allah yang diberi Haq untuk mengatur diri kita, --padahal memang hanya Allah yang berhak mengatur segala urusan kita-- pastilah kita akan mendapatkan keselamatan! Al-Imam Syeikh Muhammad Al-Mahdi Abdullah memberi makna takwa yakni "malu dan takut kepada Allah SWT." Artinya, seorang muslim yang bertakwa kepada Allah, ia memiliki rasa malu dan takut melakukan berbagai aktivitas yang melanggar hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, serta malu dan takut bila tidak menjalankan segala perintah-Nya. Dalam Hadist Qudsi Allah SWT berfirman : “Wahai anak Adam! Engkau mempunyai keinginan, Aku-pun demikian, tapi tidak akan terjadi kecuali apa yang Aku inginkan. Jika engkau rela atas apa yang Aku inginkan, maka Aku akan memberikan apa yang engkau inginkan dan jika engkau menentang apa yang Aku inginkan, Aku akan mempersulit apa yang engkau inginkan, sehingga tidak akan terjadi kecuali apa yang Aku inginkan.” Sesungguhnya apa pun yang terjadi pada diri seseorang, hal itu sudah merupakan ketentuan Allah sesuai dengan keinginan-Nya (iradat-Nya). Dan tidak ada yang bisa lari dari pada-Nya. Seorang muslim adalah orang yang selamat! Keselamatan yang dia dapatkan oleh karena Allah yang Maha memberi keselamatan dan menyelamatkannya. Kenapa Allah menyelamatkan orang muslim? Disebabkan karena seseorang yang sudah muslim berarti ia "selamat." Dia akan menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT. Mulai dari hartabendanya, jiwa dan raganya, semuanya diperuntukkan kepada Allah SWT semata. Jadi seorang muslim yang "benar" dan "selamat" adalah muslim yang sudah pasrah secara totalitas kepada Allah SWT. Makna Tawakkal Dalam Islam kita juga sering mendengar kata tawakkal. Bahkan seorang muslim dianjurkan untuk tawakkal kepada-Nya. Ada beberapa ayat dalam al-Quran yang berkaitan dengan perintah tawakkal kepada Allah, antara lain : “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS : Al Imran [3] : 159). “Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri". (QS : Yusuf 67) “Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri". (QS : Ibrahim [10] : 12) “Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku’. kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS : Az Zumar [] : 38) “Dan bertawakkallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS : Al Ahzab [33] : 3) Tawakkal artinya berserah diri, yakni salah satu sifat mulia yang harus ada pada diri seorang mukmin. Bila ia telah benar-benar mengenal Tuhannya melalui makrifat yang telah dicapainya, tidak mungkin sifat tawakkal tersisih darinya. Bahkan, sifat itu akan lekat menjadi sifat dan perbuatannya. Mustahil seorang mukmin yang telah mencapai beberapa tingkat penyucian diri dan mengaku selalu berada di sisi Rabb-Nya, tidak memiliki jiwa tawakkal terhadap apa yang ditakdirkan Allah. Ketahuilah bahwa tawakkal berada di antara pintu-pintu iman, sedangkan iman tidak akan terurus dengan baik, kecuali dengan adanya ilmu, hal (keadaan) dan amal. Intinya, tawakkal akan ter-asah dengan ilmu, dan ia menjadi pokok tawakkal, sementara amal adalah buah tawakkal. Dan hal (keadaan) ini adalah maksud dari nama tawakkal itu sendiri. Tegasnya, orang yang dadanya tidak terisi dengan ilmu tentang Tauhid, maka ia harus memahami bahwa segala sesuatu berlaku atas kehendak Allah SWT. Dialah yang menentukan segala yang Dia mau, dan bahwa segala ketentuan-Nya itu berlaku dengan penuh bijaksana dan adil sesuai dengan ilmu dan masyi’ah-Nya. Karena itu, apa lagi yang hendak diungkit-ungkit oleh hamba-Nya? Sangat disayangkan ketika seorang hamba berani berlaku tidak wajar dengan meminta takdir itu diangkat, jika tidak memuaskan dirinya, atau ditambah jika takdir itulah yang dicita-citakannya. Sebenarnya semua yang menjadi ketentuan Allah, sempurna adanya. Sungguh tidak beradab seorang hamba yang meminta lebih dari yang telah ditentukan Allah SWT terhadap dirinya. Bila seorang hamba telah memahami liku-liku ketentuan Allah, maka ia akan menyadari bahwasanya itulah yang disebut sebagai buah tawakkal. Kekuatan ilmu di dalam hati mereka itu akan menarik mereka kepada tindakan beramal yang lebih banyak dan lebih ikhlas terhadap Allah SWT tanpa menghiraukan keadaan di sekelilingnya. Bila ia mendapatkan kebaikan, ataukah hal-hal yang buruk, ia tetap bersyukur terhadap segala takdir dan keputusan Allah terhadap dirinya. Dari hari ke hari semakin kuat keyakinannya, sehingga dari dalam lubuk hati dirinya muncul berbagai perilaku halus, yang membawanya terus naik ke tingkat kedudukan yang mulia di hadapan Allah Azza wa jalla. Semua itu terjadi berkat tawakkal yang sepenuh hati dan penyerahan dirinya secara totalitas kepada Allah Sang Pencipta yang kini sedang dituju dan dijadikan tumpuan perhatian, harapan, dan cita-citanya. Jadi, tawakkal berarti membuang jauh semua sebab yang membuat manusia menggantungkan diri kepada selain-Nya. Apabila si mukmin itu membawa hatinya meningkat dari suatu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi, maka dirinya akan serupa dengan perilaku malaikat. Ia akan mengalami apa yang dialami oleh para malaikat, ia akan melihat apa yang dilihat oleh malaikat, ia akan mendengar apa yang didengar oleh malaikat dan terlintas pada hatinya hal-hal yang indah-indah. Sehingga lidahnya akan menuturkan perkataan-perkataan yang penuh hikmah dan kebijaksanaan, karena lidah itu telah menjadi sumber ilham bagi segala pengantar yang sedang menguasai hatinya dari rahasia-rahasia Ketuhanan dan Keajaiban-Nya. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata, “Bila seorang menyerahkan dirinya secara penuh kepada Allah, maka Allah akan mengaruniakan apa saja yang dimintanya. Begitu pula sebaliknya, bila dengan bulat ia menyerahkan dirinya kepada dunia, maka Allah akan membiarkan dirinya dikuasai oleh dunia.” Syeikh Abdul Karim Al-Jili berkata, “Syarat tawakkal adalah memasrahkan diri kepada Al-Haq dengan memperlakukan diri sejalan dengan kehendak-Nya, apapun yang dikehendaki Allah terhadap dirinya, ia pasrah. terserah Dia, diapakan dirimu oleh-Nya, jika memang kamu benar-benar beriman kepada-Nya, patrikan dalam dirimu bahwasanya Allah tidak berbuat kepadamu melainkan sesuai dengan kehendak-Nya. Patrikan pula dalam dirimu bahwasanya Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik buat dirimu, pasrahkan urusanmu kepada Al-Haq, jangan protes dan marah serta kecewa dengan keputusan-Nya, karena sikap seperti itu merupakan cerminan dari pada ketidak shalehanmu.” Ridha Dalam Pengaturan Allah SWT Dalam Al Hikam, Syeikh Ibn Athaillah As-Sakandari bertutur,“ Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti dari rabunnya mata batinmu.” Karena itu’ “ Istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu, karena segala yang telah diurus oleh “Selainmu (yakni Allah), tak perlu engkau turut mengurusnya.” Lagipula, “Menggebunya semangat tak akan mampu menerobos benteng takdir.” Maksudnya, seberapa banyak pun energi yang kita curahkan untuk memenuhi sesuatu keinginan, tetap saja itu tak akan tergapai jika tak sesuai dengan keputusan Allah. Kita tak dapat memenangkan kehendak kita di atas kehendak-Nya. Kita bahkan kerap menemukan bahwa takdir dan ketentuan yang berlaku pada diri manusia bukanlah yang sesuai dengan pengaturan olehnya. Pengaturan manusia ibarat rumah pasir di tepi laut, yang bisa demikian mudah runtuh tatkala ombak takdir Tuhan berlabuh. Dalam hidup, kita juga kadang menemukan bahwa apa yang menurut kita baik ternyata bisa membawa keburukan. Dan sebaliknya, apa yang kita sangka buruk ternyata malah mendatangkan kebaikan. Boleh jadi ada keuntungan di balik kesulitan, dan ada kesulitan di balik keuntungan. Boleh jadi pula kerugian muncul dari kemudahan, dan kemudahan muncul dari kerugian. Mana yang berguna dan mana yang berbahaya adalah pada akhirnya adalah sesuatu di luar pengetahuan kita. Oleh sebab itu, sibuk mengatur nasib sendiri sejatinya adalah tindakan yang kurang lebih sia-sia. Apalagi bila kesibukan itu melalaikan kita dari tugas-tugas sebagai hamba Allah. Lucu sekali bila manusia tetap berhasrat akan pengaturan diri. Pertama, karena ia pada dasarnya tak mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya. Dan kedua, karena Allah Yang MahaMengatahui apa yang terbaik bagi para mahluk-Nya senantiasa dekat dan mengatur secara baik. Jadi, sejatinya Allah itu dekat dan karenanya senantiasa memberi perhatian kepada kita sekali pun tanpa sepengatahuan kita. Pengaturan kita terhadap diri kita adalah sebenarnya bukti ketidaktahuan kita akan pengaturan Allah yang baik terhadap diri kita dan karenanya adalah juga bukti minimnya cahaya makrifat di hati kita. Sikap sibuk mengatur urusan diri sebagai bentuk Syirik rububiyah. Dengan demikian berarti meyakini ada pengatur lain yang turut mengurus kehidupan selain Allah SWT. Wallahu A'lam Bisshawab. (*) |