|
Ny. Nia Bambang S. Riyanto Bayiku Meninggal Direnggut Rubella Memperoleh momongan, merupakan dambaan bagi setiap pasangan muda yang baru menikah. Begitupun saya, Ny Nia sebut saja demikian, setelah menikah pada tahun 1999 dengan mas Bambang Sugeng Riyanto, 2 bulan kemudian saya hamil. Betapa gembiranya saya ataupun mas Bambang waktu itu. Kegembiraan inipun sempat sampai ke kedua orang tuaku ataupun orang tua mas Bambang. Harapan untuk memperoleh cucu pertama rupa-rupanya bisa kesampaikan dengan hamilnya saya tersebut. Bahkan menurut informasi dari kakakku, sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran cucu yang pertama, (kebetulan kakakku belum menikah) orang tuaku akan mengadakan selamatan massal di desa.
Hari-haripun saya lalui dengan senang hati, apalagi mas Bambang kelihatan lebih giat dalam bekerja supaya sewaktu anak lahir biaya sudah tersedia, jadi tidak perlu pusing-pusing mencari kesana kemari. Maklum, mas Bambang hanya seorang pegawai swasta yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, jadi kalau tidak menabung, khawatir, nantinya akan merepotkan orang tua saja. Padahal prinsip saya dan mas Bambang harus bisa mandiri. Oleh karena itu kelebihan yang sedikit tersebut harus ditabung. Pada usia kandungan yang pertama, kedua berjalan seperti tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Namun menginjak usia kandungan yang ketiga, tiba-tiba begitu bangun pagi sepertinya ada flek-flek di atas tempat tidur. “Saya curiga waktu itu melihat flek-flek tersebut. Jangan-jangan saya keguguran. Namun saya diam saja, tidak berani bicara dengan mas Bambang, karena takut, mas Bambang tidak bisa menerima kenyataan ini ,” pikirku waktu itu. Beberapa hari saya pendam masalah ini, namun perut saya sepertinya tidak bisa diajak kompromi. Bahkan sering kali rasa mulas yang teramat sangat, seperti akan datang bulan. Memang rasa mulas tersebut tidak datang tiap saat, biasanya malam hari sebelum tidur, dan pagi hari setelah bangun tidur. Namun kalau rasa mulas tersebut datang sakitnya minta ampun, perut ini seperti ditusuk-tusuk seribu jarum. Setiap kali mas Bambang melihat aku kesakitan pasti selalu bertanya, namun selalu saya jawab dengan tidak apa-apa, cuma mules sedikit. “Sebentar lagi pasti sembuh. Mas Bambang tidak perlu khawatir, ini sakit biasa,” kataku sambil menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang saya cemaskan ternyata benar-benar terbukti, waktu itu saya dan mas Bambang baru pulang dari bepergian. Tiba-tiba saja, perutku sangat sakit seperti akan datang bulan. Saking sakitnya tidak bisa ditahan, langsung saya pergi ke kamar mandi. Dan astaga, begitu sampai dikamar mandi tiba-tiba saja dari rahimku keluar gumpalan darah merah yang sangat kental dan kelihatan kehitam-hitaman, pekat sekali. Saya mengerang kesakitan waktu itu, saking sakitnya minta ampun, saya sampai pingsan. Tahu-tahu saya sudah terbaring di kamar, ditunggui segenap keluarga, dari orang tuaku, orang tua mas Bambang dan saudara-saudara kumpul semua. Waktu itu mas Bambang tidak kelihatan. Samar-samar saya melihat sepertinya telah terjadi sesuatu yang saya sendiri belum tahu betul apa yang terjadi. “Saya kena apa, kok mas Bambang tidak ada?,” tanyaku waktu itu. “Kamu tidak apa-apa, cuma tadi jatuh pingsan di kamar mandi. Tapi tidak apa-apa, istirahat dulu, nantikan sakitpun akan sembuh,” tutur ibuku. Namun saya tidak percaya dengan apa yang telah terjadi itu, mana mungkin kalau saya tidak apa-apa ditunggui banyak orang. Dan mas Bambang sendiri tidak ada. Dengan masih penasaran, maka saya ulangi lagi pertanyaanku, “Bu sebenarnya apa yang telah terjadi?. Coba jawab yang jujur, apa aku baru saja .....,” saya tidak bisa melanjutkan perkataanku karena saya yakin kalau saya baru saja keguguran. “Tenang... tenang , kamu harus mau menerima kenyataan ini, mungkin Tuhan belum merestui kalau kalian mempunyai momongan,” tutur ibuku waktu itu. Yakinlah sekarang kalau saya baru saja keguguran. Awalnya saya tidak terima dengan kenyataan ini, namun bagaimanapun juga kalau ini sudah garis dari yang kuasa, mana mungkin menolak. Meskipun dengan berat dan pahit rasanya, akhirnya kenyataan tersebut saya terima juga. Begitupun mas Bambang akhirnya bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Aku keguguran bayi yang sangat saya idam-idamkan. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, kandunganku waktu itu juga dikiret. Paska keguguran bayiku, saya mencoba memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dari hasil pemeriksaan tersebut diperoleh informasi kalau, keguguran bayiku disebabkan oleh Rubella dan Toxo. Saya jadi penasaran apa itu Rubella dan Toxo kok bisa menyebabkan keguguran pada bayiku. Dari dokter diceritakan kalau Rubella dan Toxo adalah sejenis virus yang disebabkan oleh binatang piaraan yang ada disekitar kita, seperti kucing, kambing dll. Virus bisa menyerang ke manusia seandainya virus tersebut dengan perantaraan binatang tersebut bersentuhan ataupun termakan oleh manusia. Tanda-tanda seorang terkena penyakit ini tidak kelihatan dengan jelas, karena tanda-tandanya seperti demam, pusing kepala dan jelasnya seperti penyakit ringan lainnya. Namun kalau sudah menyerang kepada ibu hamil bisa menyebabkan keguguran, dan kalau menyerang ke anak-anak bisa menyebabkan anak menjadi daya tahan tubuhnya melemah, susah berpikir dan bodoh. Karena virus ini bisa menyerang ke sel syaraf otak yang akibatnya bisa sangat fatal sekali. Yang saya tidak habis pikir, menurut keterangan dokter tersebut, hingga sekarang dunia medis belum bisa menyembuhkan total seratus persen penderita Rubella dan Toxo. Bisanya hanya menurunkan saja, namun sewaktu-waktu bisa kambuh kembali. “Mati aku.... pupus sudah harapan saya untuk memperoleh anak. Bagaimana nanti mas Bambang kalau tahu aku terkena Rubella dan Toxo dan menyebabka tidak bisa punya anak,” keluhku waktu itu. Mas Bambang juga kaget ketika saya beritahu kalau dalam rahimku terdapat virus Rubella dan Toxo. Lebih kaget lagi kalau Rubella dan Toxo belum ada obatnya. Pikiran mas Bambang sama dengan saya kalau harapan punya anak ternyata hanya harapan dan tidak mungkin terwujud. Bahkan mas Bambang lebih tragis lagi, dia kelihatan stroke beberapa hari. Sekitar seminggu mas Bambang tidak mau makan, hanya diam saja, untuk bekerja saja tidak mau. Saya sudah berusaha untuk membujuknya, namun mas Bambang sepertinya tidak bisa menerima kenyataan ini dengan apa adanya. Saya penasaran sekali dengan apa yang disampaikan oleh dokter kalau penyakit Rubella dan Toxo tidak ada obatnya. “Mana mungkin penyakit tidak ada obatnya, Tuhan membuat penyakit pastilah Tuhan juga menyiapkan obatnya. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang,” pikirku waktu itu. Karena penasaran dan saking kepenginnya saya memperoleh momongan, saya mencoba membaca berbagai artikel yang ada hubungannya dengan Rubella dan Toxo. Saya tanya ke teman-teman siapa tahu ada yang tahu cara pengobatannya. Akhir kata, setelah saya mencoba mencari informasi kesana kemari, dari salah seorang teman saya diperoleh informasi kalau ada pengobatan alternatif yang bisa mengobati penyakit Rubella dan Toxo. Tempatnya di Bogor, namanya Ir A Juanda. Begitu mendengar informasi tersebut, saya dan mas Bambang langsung meluncur ke orang tersebut. Setelah bertemu, saya ceritakan apa yang saya alami selama ini, hingga saya keguguran dan dikuret di salah satu rumah sakit. Mendengar ceritaku, orang siap membantu untuk mengobati penyakitku. “Plong rasanya, mudah-mudahan bisa sembuh. Meskipun waktu itu saya masih agak ragu, apa bener penyakitku bisa sembuh dengan hanya meminum ramuan yang ada di botol aqua besar itu yang katanya sudah dicampur dengan ramuan-ramuan? Apa benar saya bisa punya anak?,” pikirku. Apa yang ada dipikirku ternyata hampir sama dengan apa yang ada dipikiran mas Bambang. Namun karena besarnya kemauan saya ingin mempunyai anak,maka saran dari pak Juanda saya coba turuti. Saya membeli satu botol aqua besar yang bisa diminum selama satu bulan. Meskipun rasanya sepertinya tidak enak, namun tetap saya paksakan untuk diminum secara rutin. Rasanya pahit-pahit getir, pokoknya tidak bisa diceritakan. Bulan pertama ramuan tersebut sudah habis, memasuki bulan kedua, setelah saya mengambil ramuan tersebut disarankan juga untuk periksa dokter. Dari hasil periksa ini, dokter mengatakan kalau kadar Rubella dan Toxo ada penurunan yang sangat drastis. Saya tidak percaya dengan kenyataan ini, namun dilain pihak semakin memantapkan saya untuk mengikuti apa yang disampaikan oleh pak Juanda untuk sebelum berhasil terus meminum ramuannya. Setelah ramuan yang kedua habis, saya juga langsung periksa ke dokter. Hasilnya jauh lebih baik lagi semakin sedikit penyakit Rubella dan Toxo tersebut. Saya dan mas Bambang semakin yakin setelah saya meminum ramuan selama dua bulan. Bulan ketiga langsung saya ambil lagi dan secara ruti meminumnya selama satu bulan penuh. Pada bulan keempat, setelah mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium pak Juanda menyarankan kalau saya sudah bisa hamil lagi. Betapa senangnya perasaan saya dan mas Bambang begitu pak Juanda bilang kalau sudah bisa hamil lagi. Untuk mempercepat proses kehamilan, saya dan mas Bambang juga tiap hari memakan-makanan yang bergizi dengan harapan bisa cepat punya anak. Dan syukurlah memasuki pada bulan kelima, saya tidak datang bulan. “Mas saya sudah sebulan ini tidak datang bulan lagi, apa mungkin saya sedang hamil ya?,” kataku kepada mas Bambang. “Yang bener, coba diingat-ingat lagi, paling-paling cuma karena telat saja,” ujar mas Bambang pula. “Tidak.... mas,...... saya sudah tidak datang bulan lagi. ”Karena penasaran, paginya saya dan mas Bambang memeriksaakan diri ke dokter. Hasilnya positif saya hamil dua bulan kurang sedikit. “Alhamdullilah.... ternyata saya bisa hamil lagi,” tuturku singkat. Mas Bambang juga kelihatan sangat senang sekali melihat saya bisa hamil lagi. Dan keluarga besar mas Bambang dan saya juga merasa senang sekali mengetahui saya bisa hamil lagi. Meskipun saya sudah hamil, namun perasaan was-was tetap muncul dalam benakku, jangan-jangan nanti keguguran lagi. Untuk mengobati kegelisahan saya dan mas Bambang setiap malam berdoa meminta perlindungan supaya kandunganku bisa selamat hingga waktunya melahirkan. Bulan pertama selamat, memasuki bulan kedua sepertinya tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Memasuki bulan ketiga meskipun saya sudah dinyatakan positif hamil, tetap saja meminum ramuan obat yang saya beli ke pak Juanda. “Pokoknya sampai saya melahirkan saya tetap meminum ramuan jamu tersebut,” tekadku dalam hati. Bulan keempat, kelima, keenam dan akhirnya apa yang diinginkan terjadi pula, tepat memasuki bulan ke sembilan lebih dua hari, lahirlah anak saya yang pertama. Sebagai ungkapan rasa syukur, saya dan mas Bambang langsung mengadakan acara sukuran yang sederhana. Kini saat ini, anak saya sudah tumbuh dengan sehat dan lucu-lucunya. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pak Juanda, karena telah menolong keluarga saya. Dulu saya sempat pesimis tidak bisa punya anak, namun setelah saya menuruti sayaran pak Juanda, akhirnya bisa mempunyai anak dengan selamat. *** |